Hikmah Kelas Daring

535
Photo by Marvin Meyer on Unsplash

Oleh: Yudi Septiawan
(Dosen ISB Atma Luhur Bangka Belitung)

Sudah hampir 6 minggu sejak penerapan social & physical distancing, semua aktifitas dikerjakan dari rumah. Bekerja, transaksi, hingga kegiatan belajar mengajar pun dilakukan dari rumah. Penulis tertarik membahas poin terakhir tentang hikmah dibalik kelas daring (dalam jaringan atau online) yang sempat menjadi tren hangat.

Pada awalnya, memang banyak kendala menghampiri kelas daring ini. Mulai dari hal-hal teknis seperti susah sinyal dan kurang pahamnya para siswa akan penggunaan teknologi, sampai kepada hal-hal non-teknis seperti tidak punya kuota dan handphone. Ini tentu menjadi hal yang lumrah karena seyogyanya sistem pendidikan di Indonesia sedari dulu tidak menggunakan sistem daring, namun lebih ke sistem face to face di kelas dalam proses pembelajaran. Namun, tahu kah kita bahwa kelas daring yang sedang kita jalani sekarang ini banyak sekali hikmahnya? Tiga perspektif penulis :

Siswa dan guru bisa belajar teknologi terkini.

Kelas daring secara tidak langsung mengharuskan siswa dan guru untuk lebih akrab dengan teknologi. Penggunaan berbagai platform seperti Zoom, Google Classroom, Google Hangout, Facetime dapat sangat membantu dalam kelas daring ini. Memang, bagi guru yang tidak suka mengutak-atik ponsel, hal ini terasa sulit dan rumit, begitu juga dengan siswa. Namun, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan, hal ini bisa diterapkan mengingat dunia pendidikan yang semakin canggih. Kelas daring bisa menjadi salah satu alternatif pembelajaran kekinian.

Kontrol orang tua lebih dominan.

Dengan adanya kelas daring, orang tua dapat memantau perkembangan belajar si anak secara intens. Hal ini seolah menyiratkan bahwa “disinilah peran orang tua sesungguhnya”. Beberapa orang tua siswa ada yang mengeluh, “ternyata susah juga ya ngajar anak tuh. Satu aja pusing!” Dengan begitu, orang tua akan paham bahwa tugas guru di sekolah itu tidaklah ringan. Apalagi harus menghadapi siswa dengan berbagai macam karakter kepribadian.

Siswa lebih mandiri dan berkarakter.

Tujuan utama kelas daring di tengah pandemi Covid-19 ini adalah agar siswa bisa tetap belajar dirumah layaknya belajar di sekolah. Karena siswa tidak bisa bertatap muka langsung dengan gurunya, maka siswa harus bisa meluangkan waktunya untuk lebih bisa belajar secara mandiri. Pada akhirnya, kalau siswa sudah terbiasa belajar mandiri, bukan tidak mungkin karakter belajar anak akan terbentuk. Ini juga lah yang menjadi salah satu tujuan pendidikan milenial sekarang, yaitu pendidikan yang berkarakter. Tidak mudah, tapi perlu dicoba.

Tiga poin singkat di atas sebenarnya hanya sedikit perspektif positif dalam menggambarkan tujuan mulia pemerintah dalam penerapan kelas daring ini. Memang, ada beberapa kelemahan yang tidak bisa dipungkiri. Tapi, bukankah lebih bijak kalau kita selalu melihat sesuatu itu dari sisi positifnya? Dengan begitu, kita bisa berpikir selangkah lebih maju. Apalagi, dunia pendidikan tidak bisa divakumkan karena pondasi negara ini adalah pendidikan, pendidik dan orang yang terdidik.

Menutup perspektif ini, penulis ingin mengutip perkatan mendiang eyang B.J. Habibie, “Dimanapun kitaberada, selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik yang bisa kita berikan.” Mau belajar dari rumah, bus kota, pasar, gunung,  bukit, gedung bertingkat, tetaplah menjadi yang terbaik, “The best version of you”. Mau ada Covid-19, tidak ada Covid-19, teruslah belajar agar kita bisa memberikan sumbangsih terbaik bagi negeri tercinta ini.