Hidup Menjemput Hidayah Allah – Part 2

230
hidayah allah
Photo by Greg Rakozy on Unsplash

Dialog Nuh dan Iblis

Bukti bejibun-nya pengikut hidup Iblis itu ada dalam kisah dialog Nabi Nuh dengan Iblis. Ini saya ceritakan biar Anda tahu kalau sejak zaman dulu itu lebih banyak orang yang ikut Iblis daripada yang ikut nabi.

Alkisah, ketika banjir bandang menerjang kaum Nuh Iblis berhasil menyelusup masuk ke bahtera. Lalu Nuh memergokinya, dan bertanya, “Hei, ngapain kamu di sini, Blis?”

“Ah, enggak, Nuh. Cuma mau tahu saja,” jawab Iblis.

“Mau tahu apa?”

“Yang ikut kapal ini ada berapa?”

“Manusia atau hewannya?”

“Semua.”

Lalu, Nuh memberi tahu jumlah penumpang bahteranya sesuai daftar manifes kapal. Mendengar jawaban Nuh, Iblis cengar-cengir.

“Oh, cuma segitu, to .”

“Memang kenapa?”

“Masih banyakan yang tenggelam, dong.”

Dan memang betul, yang selamat itu lebih sedikit dibanding yang kebawa banjir. Jadi, pengikut Iblis lebih banyak. Dan itulah cara Iblis “menghina” Nuh.

Membangun Kebencian Sejati

Salah satu bentuk membangun kebencian adalah suka menyesat-nyesatkan orang. Menuduh sesat, tapi tidak menunjukkan jalannya. Masa anda naik motor, masuk kampung, lalu tersesat di jalan buntu, lalu orang-orang kampung datang bukan buat kasih tunjuk jalan, tapi menunjuk-nunjuk anda dan bilang, “Anda tersesat! Anda tersesat!” Begitu? Aneh orang-orang sekarang ini. Kalau ada orang tersesat, tolonglah dia. Tunjukkan jalan, dan kasihanilah dia. Rasulullah itu sedih kalau orang-orang kufur kepada Allah.

“Kok bisa ya ada manusia yang masuk neraka? Saya enggak tega.” Begitu itu Rasulullah. Dan kita harus meneladani sikap itu. Cara kita untuk menghadapi masa depan adalah kita tidak membenci siapa pun. Jangan terlalu cemas menghadapi hidup. Kita pahami hidup seluas-luasnya, supaya tetap bisa bergembira agar anda tidak membenci orang yang menyakiti anda.

Islam Sebagai Ummatan Wasathan

Kalau orang Yahudi dipukul, dia membalas. Itu menjadi hukum mereka. Kalau orang Nasrani sangat arif, dipukul pipi kanan, berikan pipi kiri. Kalau Islam itu sangat rasional, di tengah- tengah, namanya ummatan wasathan. Anda punya hak membalas, tetapi kalau memaafkan itu lebih mulia di hadapan Allah Swt.

Hidup manusia itu dari Allah, untuk kembali mencari Allah. Saya pernah ditanya begini, “Sebenernya lu hidup nyari apa sih sul?”

“Ane nyari Allah kang” jawab saya

“Lewat jalan mana?”

“Seketemunya”

“Apakah semua jalan bakalan sampe ke tujuan itu?”

“Tegantung”

“Tergantung Orangnya?, Temannya?, Jalannya?, Atau semua sudah ditakdirkan?”

“Tergantung apa yang kita cari, kalo nyari dunia ya sudah yang kita dapet cuma dunia, kalo nyari surga yaa surga doang yang kita dapat, tapi kalo kita cari Allah insyaallah kita akan bertemu Allah disurga”.

Tipuan Kenikmatan Surga

Saya tidak tidak akan mencari surga karena saya nanti bisa tertipu. Sebab, kalau saya hidup berbuat baik hanya untuk mencari surga, begitu sampai surga nanti saya cari gusti allah tidak ada disana.

Surga yang dicari, surga dapat tapi Allah belum tentu dapat, tapi kalau saya mencari Allah, pasti dapat Allah dan surga. Anda bertemu atau tidak bertemu Allah, pada akhirnya Allah akan memergoki anda. Tapi, keindahan terjadi kalau anda menemukan Allah dengan seluruh potensi yang ada pada diri anda.

Allah menyebut diri-Nya cahaya, Allähu nûrus samâwâti wal ardh. Maka, perjalanan manusia adalah dari cahaya menuju cahaya-dari Allah menuju Allah-dengan panduan dari Muhammad menuju Muhammad. Untuk bisa menempuh perjalanan itu, yang pertama harus kita pelajari adalah fisika dan biologi.

Kedua, kosmologi, yang merupakan makro dari ilmu fisika, matematika, dan biologi. Ketiga, kita harus mempelajari fisika kebudayaan- yaitu tata kelola perilaku manusia: ada akhlak, kemuliaan, dan macam-macam. Semua itu perlu kita pelajari supaya pada tahap keempat kita menemukan cahaya sebenarnya.

Penulis: Ahsanu Taqwim