Hidup Menjemput Cahaya Allah (Part 3)

476
Cahaya Allah
Photo by Artem Kovalev on Unsplash

Salah Memaknai 

Jangan keliru memahami cahaya Allah. Apa yang kita definisikan sebagai cahaya di dunia ini, seperti cahaya lampu, cahaya api, atau cahaya matahari, bukanlah cahayanya. Semuanya adalah benda yang memantulkan apa yang secara fisik kita sebut “cahaya”. Matahari pun sebenarnya tidak memancarkan cahaya.

Matahari hanya memancarkan energi inti, yang ketika menimpa benda-benda alam tertentu ia membuat mata kita kompatibel sehingga bisa melihat benda-benda tersebut. Cahaya sejati adalah sesuatu yang sangat misterius, yang gaib, yang merupakan ujung dari kehidupan kita.

Dalam teori fisika disebutkan bahwa alam semesta ini tercipta dari sebuah ledakan besar. Ketika ledakan terjadi, cahaya terbagi menjadi tiga. Pertama cahaya yang tetap seperti cahaya esensial. Kedua, cahaya berupa gelombang-gelombang, frekuensi-frekuensi dan energi-energi yang tidak kasat mata-misalnya aura, karisma, dan sugesti, yang kesemuanya itu yang tidak tampak.

Cahaya pada padatan ketiga, yang paling rendah derajatnya, adalah materi. Bumi ini adalah keraknya. Kalau cahaya itu kopi, bumi ini hanya ampasnya. Bukan airnya, apalagi rasanya. Segala sesuatu yang tampak oleh mata, terdengar oleh telinga, itu hanyalah ampas cahaya. Namun yang sejati adalah yang keempat, yang merupakan tujuan kita bersama.

Mereka Sekadar Residu

Dalam hidup ini kita berada pada tiga gelombang. Gelombang yang paling rendah adalah gelombang materialisme-dan sekarang ini semua manusia berurusan dengan itu. Di dalamnya, sebut saja, ada bupati, raskin. subsidi BBM, parpol, minyak tawon, balsam, makanan. ganteng, cantik, dan sebagainya yang bisa kita tangkap dengan indra.

Mereka semua adalah ampas cahaya. Ketika kita mati nanti, semua itu akan kita tinggalkan. Ampas-ampas itu tidak akan kita bawa. Ketika mati, kita menuju gelombang kedua yang lebih halus dan lebih bermutu. Jasad Anda tidak bisa Anda bawa, uang Anda tidak bisa Anda bawa, harta benda Anda, jabatan Anda, apa pun dalam gelombang materialisme tidak bisa Anda bawa. Tapi kenyataannya, manusia hidup itu 99% sibuk pada ampas-ampas cahaya.

Ketika Anda mendatangi majelis-majelis ilmu, berarti Anda memberontak pada gelombang materialisme. Anda cemas, Anda gelisah: Apakah hidup memang hanya seperti ini? Apakah hidup di dunia ini hanya soal NKRI? Apakah hanya ada Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, seperti tidak ada orang lain saja di Indonesia? Kita gelisah.

Orang sekarang memilih pemimpin saja gagap. Pandangannya serba terbalik. Apa yang seharusnya surga dikira neraka, sementara neraka surga. Ini karena pengaruh ampas cahaya. Materialisme adalah alat utama Dajjal dan Iblis untuk memperdaya Anda. Tujuan utamanya adalah membalik cara berpikir sehingga Anda mengejar-ngejar surga yang sebenarnya adalah neraka, dan Anda lari dari neraka yang sesungguhnya adalah surga.

Menyambut Gelombang Kedua

Anda datang ke majelis-majelis ilmu untuk mencoba menyongsong gelombang kedua, karena Anda sebagai manusia, sebagai warga negara, atau sebagai orang beragama, merasa tidak aman. Anda merasa terancam ketika berada pada gelombang pertama. Dan, Anda sedang memberontak dari dunia materialisme, memberontak dari mainstream gelombang pertama.

Anda ingin mencari gelombang yang lebih murni, yang lebih sejati, maka Anda datang ke majelis ilmu. Dalam gelombang kedua ini, para pelakunya sedang berusaha meraih gelombang ketiga: yaitu cahaya sejati.

Dalam majelis-majelis ilmu, kita mempelajari apakah sebenarnya hidup itu. Apa hidup itu hanya untuk mencari harta kekayaan? Apakah orang hidup itu hanya untuk berebut kekayaan? Sekarang ini, jangankan urusan ruhani, kebudayaan saja tidak dipahami. Saya pernah berjalan dari Solo. Grobogan, Purwodadi, sampai Pati.

Di sepanjang jalan yang tampak bukan orang yang punya komunitas budaya. Yang tampak adalah rumah-rumah mereka, restoran dan warung mereka, dan tempat-tempat usaha mereka. Yang tampak adalah persaingan pribadi untuk menunjukkan bahwa: “Saya lebih materialistik daripada kamu!”

Itu artinya, sekarang ini kita semua berada di tengah-tengah manusia mainstream yang berpedoman pada ampas, berpedoman pada materialisme sementara materialisme adalah keraknya cahaya yang paling rendah, umurnya paling pendek, yang tidak bisa Anda bawa ke mana- mana.

Menuju Ketenangan Sejati

Sedangkan perjalanan kita semua ini masih sangat jauh menuju wadkhulî fi ‘ibâdî wadkhuli jannati. Yang dipanggil oleh Allah dalam wadkhulî fi ‘ibâdî wadkhulî jannatî adalah ya ayyatuhan nafsul muthma’innah-orang yang sudah bisa merasakan, sudah sampai pada ketenteraman sejati hingga ke dalam badannya. Muthma’innah itu sudah tidak tertarik pada dunia.

     Keinginan berjumpa dengan cahaya sejati itu bisa diibaratkan dengan keinginan memiliki anak atau menghasilkan padi. Kita tidak tahu bagaimana wajah atau bentuk anak kita nanti. Kita tidak tahu bagaimana hasil padi yang kita tanam. Tapi, kita terus berusaha mendapatkannya dengan penuh keyakinan. Bukan hasil panennya yang kita nikmati, tapi prosesnya.

Kalaupun kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan di ujung proses itu, sepanjang kita menikmati prosesnya, kita sudah mendapatkan satu titik kenikmatannya. Soal bentuknya, laysa kamitslihi syai’un. Justru sensasi kenikmatan itu hadir karena ketidaktahuan kita. Kita akan merasakan nikmatnya misteri.

Penulis: Ahsanu Taqwim