Helen Keller Simbol Komunikasi Efektif Guru dan Murid

291
Simbol Komunikasi Efektif Guru Murid
people.howstuffworks.com

Kisah Helen Keller merupakan pelajaran berharga yang patut kita baca sebagai cerminan bahwa, betapa semua murid berhak merengkuh kesuksesan dalam bidang yang ia mumpuni menekuninya.

Semula, dunia Helen Keller adalah kegelapan sempurna. Ia tuli, bisu dan juga buta. Marah menjadi satu-satunya jalan untuk meluapkan apa yang ada di benaknya. Ketika secara fisik tubuh menuntut lapar, haus, atau ingin mengatakan sesuatu, tapi berada dalam kesendirian di sudut goa yang sunyi pekat, kita bisa bayangkan perasaan yang timbul. Ledakan emosi adalah kewajaran belaka.

Nyala sumbu sang murid

Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang guru berhati malaikat. Bak peri ajaib yang mampu memahami apa yang Helen kecil rasakan. Perlahan namun pasti, Helen Keller kemudian menjadi sosok manusia yang dilahirkan kembali. Guru tersebut menyalakan sumbu di hati Helen. Setitik cahaya putih memancar dari dalam diri sosok Helen. Cahaya yang bersumber dari cinta kasih seorang guru. Bertahap, berkas sinar itu terpantul dan menerangi pedalaman batin Helen.

Cahaya itu menemukan bentuknya sebagai kesadaran. Kesadaran untuk menerima kehidupan apa adanya. Meski secara fisik ia terbatas, imajinasinya menyala terang memendarkan bakat yang luar biasa.

Mata batinnya melakukan fungsi berkata, mendengar, sekaligus melihat dunia yang tak bisa dijangkau oleh inderanya. Dunia Helen tak lagi hitam kelam. Di dalam relung hatinya, warna-warni kehidupan ia cumbui penuh syukur dan gembira.

Kisah Helen Keller selayaknya menggugah dunia pendidikan kita. Helen kecil yang tak bisa apa-apa selain marah, nyatanya mampu menjelma menjadi seorang penulis hebat. Kapasitas intelektualnya mengundang decak kagum semua orang.

Lihat juga, Keselarasan Prinsip dan Praktik Pendidikan

Satu yang perlu dipetik adalah komunikasi yang dilakukan guru terhadapnya. Dengan penuh ketekunan, sang guru mampu merobohkan sekat-sekat komunikasi yang oleh kebanyakan orang dianggap mustahil.

Kekuatan cinta seorang guru kepada Helen menumbuhkan kepercayaan bahwa ia tak terasing di kegelapan. Ada sang guru yang akan menjaga obor penerang di hati Helen. Bukan pengatur yang menyeret tangannya supaya Helen berjalan sesuai kehendak guru, tapi pemantik obor itu biar murid mampu bangkit dan jalan sendiri.

Teman Belajar

Seorang pendidik perlu memiliki kemampuan komunikasi yang menumbuhkan, seperti gurunya Helen Keller. Ia adalah teman dalam setiap langkah sang murid. Juru didik bukan satu-satunya sumber belajar yang tahu segala hal.

Yang perlu dilakukan adalah sulut sumbu bakat si murid, temani ia ngobrol di sepanjang jalan waktu belajarnya. Jika sumbu bakat itu telah berkobar, kekuatan diri tumbuh, jalan terbentang, dan obrolan dengan gurunya merupakan inspirasi bagi karyanya.

Guru adalah teman belajar. Bukan sosok superior yang menguasai peserta didik. Guru bahkan bisa belajar kepada muridnya. Kesetaraan menjadi prinsipnya, cinta adalah landasan pengabdiannya. Bagi Ki Hajar Dewantara, guru selayaknya menghamba kepada siswa.

Label negatif

Salah satu kendala komunikasi antara guru dan murid, umumnya justru timbul oleh pendidik sendiri. Pendidik kerap tak sadar bahwa dirinya membangun pagar-pagar pembatas yang menghalangi komunikasi dengan peserta didiknya. Ia memancangkan batang-batang label negatif tepat di benak sang anak. Misalnya, suka protes, tidak disiplin, susah diatur, tidak peduli, dan lain-lain.

Jika seorang pendidik berlaku begitu, pembelajaran tak akan berjalan mulus. Bagaimana bisa diskusi yang bermutu tercipta bila kita mengembangkan tirai penutup dan berjarak dengan peserta didik. Mustahil kehangatan terjadi, keceriaan belajar mewarnai, dan target belajar tercapai.

Saat berkunjung dan mengamati pembelajaran di sebuah sekolah swasta, saya merasa miris menyaksikan sejumlah pendidik yang enteng saja mengatakan muridnya adalah “sisa”. Karena mereka merupakan golongan siswa yang tak lolos memasuki gerbang sekolah negeri.

Ketika berdiskusi dengan guru-guru di sana, sebagian besar guru berpandangan sama, “anak-anak di sini memang kemampuannya kurang”. Lebih jauh mereka menyasarkan tuduhan kepada orangtuanya. Menurut mereka, “walimurid tak mendukung. Di rumah, anak belajar atau tidak, orangtuanya tak peduli”.

Psikologi anak

Dalam hati saya membatin,”orangtua di sini bukannya tak peduli, mereka hanya petani kecil yang tak tahu-menahu perihal pendidikan, apalagi ilmu psikologi, terkait perkembangan anak.

Satu-satunya cara mendidik anak di rumah adalah secara alami mengikuti pola asuh yang diperoleh turun-temurun dari orangtua mereka, sebelumnya, dan sebelumnya lagi. Makanya, ia menitipkan anak ke sekolah agar mendapatkan pendidikan yang layak, supaya tak seperti dirinya”.

Tuduhan tak elok itu, bagi saya, merupakan upaya menutupi ketakmampuan guru melayani anak murid dengan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan menumbuhkan kecintaan anak pada ilmu pengetahuan.

Atau, barangkali kesimpulan saya benar adanya, para pendidik itu tak pernah membaca kisah para pebisnis sukses, ilmuwan terkemuka, ulama keren, dan sejumlah tokoh yang mengglobal lainnya semacam Helen Keller. Tokoh-tokoh yang hidup dilingkupi cinta kasih oleh orangtua dan guru-gurunya.

Penulis: Muhammad Dopir
(Guru Matematika SMP Al Fath BSD)