Hassan bin Tsabit, Sang Pujangga Andalan Rasulullah SAW

186
Hassan bin Tsabit, Sang Pujangga Andalan Rasulullah Saw.
photo by www.jembermu.com

Memasuki bulan Rabi’ul Awal, umat Islam di berbagai penjuru dunia senantiasa bersuka cita menyambut bulan kelahiran baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seraya memeriahkan bulan kelahiran Nabi agung kita semua, marilah kita bersama-sama membahas secara singkat tentang salah seorang Sahabat yang juga merupakan seorang penyair hebat pada zamannya. Ia adalah Sahabat Hassan bin Tsabit Radiyallahu ‘anhu.

Hassan bin Tsabit adalah seorang sahabat Nabi yang lahir di Yatsrib (sekarang Madinah) pada tahun 563 Masehi. Beliau memiliki nama asli yaitu Abu al-Walid Hassān bin Tsabit. Hassan bin Tsabit memiliki silsilah keturunan yang terhubung dengan suku Khazraj, suku yang sudah sejak lama merantau dari Yaman ke Hijaz dan kemudian menetap di Madinah bersama suku Aus.

Masa kecil hingga dewasanya beliau habiskan di Yastrib hingga kedatangan Rasulullah Saw. yang hijrah dari kota Mekkah menuju kota Madinah. Sebagai salah satu pemimpin suku Khajraj, Hassan menjadi pelopor masuknya orang-orang dari sukunya tersebut untuk memeluk islam serta berdamai dengan suku ‘Aus pasca terjadinya konflik berkepanjangan antara dua suku besar di kota Madinah Al-Munawaroh.

Baca juga: Sholawat Munjiyat, Bacaan, Arti dan Manfaatnya

Hassan bin Tsabit menjadi salah satu sahabat Nabi yang masuk Islam pada usia tua, yaitu 60 tahun, namun Allah Subhanahu wa ta’ala menganugerahkan beliau umur yang panjang yaitu 120 tahun. Pasca memeluk agama Islam, Hassan bin Tsabit terus mengawal perjuangan dakwah baginda Rasulullah Saw. dalam penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah.

Sampai-sampai, baginda Rasulullah Saw. pernah menjelaskan keutamaan Hassan bin Tsabit dalam sebuah Hadits yang termaktub di kitab Shahih Muslim yang berbunyi:

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ كُلُّهُمْ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ عَمْرٌو حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ عُمَرَ مَرَّ بِحَسَّانَ وَهُوَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَنْشُدُكَ اللَّهَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ حَدَّثَنَاه إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ حَسَّانَ قَالَ فِي حَلْقَةٍ فِيهِمْ أَبُو هُرَيْرَةَ أَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Amru An-Naqid dan Ishaq bin Ibrahim dan Ibnu Abu ‘Umar seluruhnya dari Sufyan dia berkata; ‘Amru Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az Zuhri dari Sa’id dari Abu Hurairah bahwasanya Umar bin Khaththab pernah berjalan melewati Hassan yang sedang melantunkan sya’ir di Masjid. Lalu Umar menegurnya dengan pandangan mata. Tetapi Hassan berkata; “Dulu saya pernah melantunkan syair di Masjid ini, yang ketika itu ada seseorang yang lebih mulia daripadamu yaitu (Rasulullah).” Kemudian Hassan menoleh kepada Abu Hurairah seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya, Hai Hassan, balaslah sya’ir orang-orang kafir untuk membelaku! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril! Abu Hurairah menjawab; Ya, Saya pernah mendengarnya.” Telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Rafi’ serta ‘Abad bin Humaid dari ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibnu Al Musayyab bahwa Hassan pernah berkata di sebuah majlis yang di sana ada Abu Hurairah; ‘Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah kemudian dia menyebutkan Hadits yang serupa.

Qashidah Hassan bin Tsabit yang Memuji Rasulullah Saw.

Sebagai penyair kesayangan baginda Rasulullah Saw, Hassan bin Tsabit Ra. seringkali menciptakan syair-syair yang mampu menggambarkan kemuliaan dan keagungan yang dimiliki oleh Rasulullah Saw. Tak jarang pula sya’ir-sya’ir yang beliau ciptakan mampu membalikkan syair-syair hinaan yang dilontarkan oleh musuh-musuh nabi.

Berikut ini adalah salah satu sya’ir Hassan bin Tsabit tentang keagungan baginda Rasulullah Saw yang tertuang dalam sebuah qashidah yang beliau lantunkan ketika Rasulullah Saw. berpulang kembali ke rahmatullah.

أطَالَتْ وُقُوفَا تَدْرِفُ الْعَيْنَ جُهْدَ هَا عَلَى طَلَلِ الْقَبْرِ الَّذِي فِيْهِ اَحْمَدُ

لَقَدْ غَيَّبُواحُلْمًا وَعِلْمًا وَرَحْمَةً عَشِيَّةَ عَلَّوْهُ الْثَرَى لَا يُوَسَّدُ

وَرَاحُوا بِحُزْنٍ لَيْسَ فِيْهِمْ نَبِيُّهُمْ وَقَدْ وَهَنَتْ مِنْهُمْ ظُهُورٌ وَأِعْضُدُ

يُبَكّونَ مَنْ تَبْكِي السّمَوَاتُ يَوْمَهُ وَمَنْ قَدْ بَكَتْهُ الْأِرْضُ فَالنّاسُ اَكْمَدُ

وَهَلْ عَدَلَتْ يَوْمًا رَزِيّةَ هَالِكٍ رَزِيّةَ يَوْمٍ مَاتَ فِيهِ مُحَمّدُ؟

فَبَكِّي رَسُولَ للهِ يَا عَيْنُ عَبْرَةً وَلَا اِّعْرِفَنَّكِ الدّهْرَ دَمْعُك يُذْمَدُ

وَمَا لَكِ لَا تَبْكِيْنَ ذَا النِّعْمَةِ الّتِي عَلَى النّاسِ مِنْهَا سَابِغٌ يُتَغَمَّدُ

فَجُودِي عَلَيْهِ بِالدّ مُوعِ وَأِعْوِلِي لِفَقْدِ الَّذِي لَا مِثلُهُ الدّهْرَ يُوجَدُ

وَمَا فَقَدَ الْمَاُضونَ مِثْلَ مُحَمّدٍ وَلَا مِثْلُهُ حَتىَّ الْقِيَا مَةِ يُفْقَدُ

مَا بَالُ عَيْنِكَ لَا تَنَامُ كَأَ نّمَا كُحِلَتْ مَآ قِيهَابِكُحْلِ الْاِّ رْمَدِ

جَزَعًا عَلَى الْمَهْدِيّ اَصْبَحَ ثَاوِيًا يَاخَيْرَ مَنْ وَطِئَ اَلْحَصَى لَا تَبْعَدِ

وَجْهِي يَقِيكَ التُرْبَ لَهْفِي لَيْتَنِي غُيّبْتُ قَبْلَكَ فِي بَقِيْعِ الْغَرْقدِ

بِاَّبِي وَاُمِي مَنْ شَحِدْتُ وَفَاتَهُ فِي يَوْمِ الاثنَيْنِ النَّبِيّ

فَظلِلْتُ بَعْدَ وَفَاتِهِ مُتَبَلِّدًا مُتَلَدِّدًا يَا لَيْتَنِي لَمْ اٌولَدِ

أِاٌقِيمُ بَعْدَكَ بِالْمَدِينَةِ بَيْنَهُمْ يَالَيْتَنِي صُبِّحْتُ سَمّ الْاَّ سْوَدِ

وَاللهِ اِّسْمَعُ مَا بَقِيتُ بِهَالِكٍ أِلَّا بَكَيْتُ عَلَى النَّبِي مُحَمَّدِ

يَاوَيْحَ أنْصَارِ النَّبِيّ وَرَهْطِهِ بَعْدَ الْمُغَيّبِ فِي سَوَاءِ الْمَلْحَدِ

ضَاقتْ بِالْاِّ نْصَارِ الْبلَادُ فَأِصْبَحُوا سُودَا وُجُوهُهُمْ كَلَوْنِ الْاٍ ثْمِدِ

وَاللهُ أِكْرَمَنَابِهِ وَهَدَى بِهِ أنْصَارَهُ فِي كُلِّ سَاعَةِ مَشْهَدِ

صَلّى الا لَهُ وَمنْ يَحُفّ بِعَرْ شِهِ وَالطّيّبُونَ عَلَى المُباَرَكِ أحْمَدِ

Lama kutegak dengan airmata deras mengalir menghadap gundukan tanah yang padanya Ahmad (Muhammad saw).

Sungguh kami dan mereka telah kehilangan orang yang paling berkasih sayang dan lembut, samudera ilmu, dan kelembutan yang ramah, di petang ketika jasad beliau ditumpahkan tanah tanpa bantal.

Dan satu persatu mereka pergi dengan penuh kesedihan kehilangan Nabi yang selalu bersama mereka, yang membuat lemas pundak dan lutut mereka.

Mereka terus menangis, yang jagad raya menangis di hari itu, dan makhluk mulia yang ditangisi bumi dan orang-orang dalam kebingungan.

Dan adakah hari musibah yang seimbang dengan hari musibah dan kesedihan hari wafat padanya Muhammad Saw?

Maka tangisilah Rasulullah wahai mata sebagai tanda bukti, agar jangan sampai zaman / masa tidak mengenalmu tentang tetesan airmatamu yang tetap membeku dengan hal ini.

Dan apa yang menyebabkanmu tetap menahan tangis atas wafatnya sang pembawa kenikmatan pada seluruh manusia menyempurnakan kenikmatan yang padanya ummat ini menikmati limpahannya.

Maka jangan kikir atas hal ini dengan airmata dan tersedu keras menangis, ketika kehilangan yang tiada akan di jumpai makhluk menyamainya sepanjang zaman.

Tiada kehilangan selamanya, seperti kehilangan Muhammad Saw. yang tiada menyamai kehilangannya  hingga kiamat

Bagaimana pendapatmu jika matamu tidak bisa tertidur, karena terus dipenuhi air mata yang basah dan mengering.

Guncangan yang mengagetkan hati pada pusara wahai yang semulia mulia makhluk dalam pendaman tanah, (wahai Nabi Saw.) janganlah menjauh.

Wajahku menatapmu wahai tanah , alangkah beruntungnya jika aku mati dan terpendam sebelummu (wahai Rasulullah Saw.) dan sudah terkubur di pekuburan Baqi’.

Demi ayahku dan ibuku, siapa yang menyaksikan sepertiku, wafat beliau di hari senin nabi pembawa hidayah..

Maka kulewati kebingungan dalam kehidupan dalam kehidupanku setelah wafat beliau, kegundahan, wahai alangkah indahnya jika aku tidak pernah dilahirkan.

Apakah aku mampu tinggal di Madinah setelahmu di antara mereka, alangkah indahnya jika diperbolehkan ku teguk racun yang paling mematikan.

Demi Allah (jika kelak) aku mendengar musibah selainnya, kecuali tetap aku akan menangisi Nabi Muhammad Saw.

Wahai kesusahanlah menimpa Anshor Nabi dan kelompoknya (Muhajirin) setelah diturunkan dan hilangnya tidak tampak lagi tubuhmu (wahai Nabi Saw) di tanah yang terhampar.

Sempitlah bagi Anshor tempat tinggalnya, mereka berubah wajahnya menjadi suram dan kelam bagai warna penghitam mata.

Maka semoga Allah memuliakan kita dengan beliau dan melimpahkan hidayah kepada semua pembela beliau di setiap waktu dan tempat.

Shalawat Tuhanku dan yang mengelilingi Arsy-Nya, dan limpahan shalawat dari hamba-hamba yang penuh kebaikan berlimpah pada Ahmad (Muhammad Saw.) yang dilimpahi keberkahan.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid