Hartford Seminary: “Pesantren” Sertifikasi Ustadz di Amerika

458

Oleh : Jamal Jufree Ahmad

(Staf Litbang, Caknun.com)

Walaupun saya tidak terlalu berbakat sekolah ke level magister apalagi doktor, tapi saya diperjalankan untuk bisa tengok-tengok kampus tempat mereka yang bersemangat sekolah tinggi-tinggi. Kampus-kampus yang saya ziarahi ini mungkin melahirkan alumni yang di kemudian hari namanya kita kenal di Indonesia, atau bahkan dunia.

Karena saya yang nggak bakat sekolah ini beristrikan orang yang doyan banget sekolah, maka saya pun katut, setidaknya ikut menghirup aroma kampus-kampus. Dan kampus pertama yang mau tidak mau saya ziarahi di luar Indonesia adalah Hartford Seminary, tempat istri saya menempuh magister dan menjadi pembuka jalan saya ziarah kampus.

Sedikit cerita awal mula perjalanan ziarah ini. Beberapa bulan setelah pernikahan kami awal 2012, PBNU mengadakan seleksi bagi para santri nahdliyyin yang ingin melanjutkan kuliah S2 dan S3 di luar Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya, PBNU telah bekerja sama dengan beberapa kampus di Afrika Utara dan mengirimkan santri-santri terpilih untuk kuliah di Mesir, Libya, Maroko, dan Tunisia. Kemudian PBNU berupaya agar kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi ini diperluas tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga ke Eropa dan Amerika Utara. Pada tahun 2012 itu, kerjasama terjalin antara PBNU dengan Hartford Seminary.

Bagaimana kerjasama ini bisa terwujud? Tak lain melalui Dr. Alwi Shihab yang kebetulan ketika itu menjadi salah satu anggota Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) di Hartfod Seminary. Kemudian seleksi dilakukan, dan istri saya lolos seleksi yang diadakan di kantor PBNU jalan Kramat Raya. Ada empat orang yang terseleksi namun satu orang kemudian mundur. Tiga orang yang semuanya alumni UIN ini (Yogyakarta, Semarang, dan Bandung) juga dinyatakan diterima oleh Hartford Seminary. Segala kelengkapan administratif dipenuhi dan rencananya perkuliahan bisa diikuti sejak semester musim gugur tahun itu (September-Oktober).

Namun, ternyata meskipun sudah diterima kampus, masih ada satu hal krusial yang belum terpenuhi. Yaitu pendanaan. Kerjasama yang dilakukan PBNU rupanya belum ada beasiswanya. Haha. Gagal berangkat deh di musim gugur. Drama berburu beasiswa sendiri pun harus dilakoni. Singkat cerita, dengan berbagai upaya sana-sini (tentunya juga berkat peran Pak Alwi dan PBNU) dan menjelang “deadline” perkuliahan musim dingin, beasiswa itu akhirnya didapatkan. Istri berangkat Januari 2013, tapi saya baru bisa menyusul setahun kemudian, Januari 2014.

 Hartford Harvard

Hartford Seminary berada di kota Hartford, ibukota negara bagian Connecticut, yang bisa ditempuh dua jam perjalanan darat dari kota New York, juga dua jam dari kota Boston. Connecticut adalah negara bagian yang wilayahnya cukup kecil dibanding negara bagian lain di pantai timur Amerika. Ia masuk dalam regional New England di bagian Timur Laut Amerika (di peta pada bagian kanan atas). Ada enam negara bagian di dalamnya yaitu Maine, Vermont, New Hampshire, Massachussets, Rhode Island, dan Connecticut.

Sebelum ke Amerika, kota yang saya tahu hanya yang terkenal saja lewat film-film Hollywood seperti New York, Washington DC, Atlanta, Chicago, San Francisco, Philadelphia, Miami, dan Los Angeles. Kalau negara bagian hanya ngerti tiga: Kentucky, Texas, California. Itu pun karena ada embel-embel “fried chicken” di belakangnya.

Saya sama sekali nggak tahu Connecticut. State ini kayaknya nggak menarik. Namun saya baru tahu belakangan banyak perusahaan-perusahaan besar berkantor pusat di sini, utamanya industri luar angkasa dan dirgantara. Misalnya Pratt & Whitney. Namanya sih tidak kita kenal di kampung. Tapi pesawat yang kita tumpangi mungkin mesin-mesinnya buatan mereka. Perusahaan ini bersaing dengan Roll Royce dan General Electric dalam pembuatan mesin pesawat.

Perusahaan yang namanya mungkin familiar bagi kita banyak juga berasal dari Connecticut. Mahasiswa yang sering ke fotokopi pasti pernah lihat tulisan XEROX. Kalau kita naik lift atau eskalator di Jakarta atau kota-kota besar lain mungkin pernah baca ada tertulis OTIS. Atau karyawan yang kantornya menggunakan asuransi CIGNA. Semuanya dari Connecticut. Dan kota Hartford sendiri bisa dikatakan pusatnya asuransi di Amerika. Berbagai perusahaan asuransi besar kantor pusatnya di sana.

Berada di Hartford bisa untuk gaya-gayaan sedikit kepada orang-orang di kampung. Kalau ditanya kuliah di mana, kadang bilang Hartford agak dimirip-miripkan bilang Harvard. Kan lebih beken gitu kalau terdengar Harvard yang sangat masyhur itu. Padahal jauh sekali lokasinya, beda kota, dan juga kedua kampus itu tidak ada hubungannya sama sekali.

Hartford Seminary dulunya bernama Theological Institute of Connecticut yang didirikan tahun 1883 di East Windsor Hill, 20 kilometer sebelah utaranya Hartford. Tahun 1865, institusi pendidikan Kristen ini pindah ke kota Hartford dan berganti nama menjadi Hartford Theological Seminary pada tahun 1885. Ketika itu, ada dua institusi pendidikan Kristen lain yang berafiliasi dengannya, yaitu Hartford School of Religious Pedagogy dan The Kennedy School of Missions. Ketiganya kemudian digabung pada tahun 1913. Pada 1961 hasil gabungan itu dilegalkan dan diberi nama Hartford Seminary Foundation. Mulai 1981 lah namanya dikenal sampai hari ini sebagai Hartford Seminary.

Sejak 1972, untuk merespons dinamika kebutuhan pendidikan teologi dan perkembangan peran gereja di masyarakat, Hartford Seminary memberikan perhatian khusus kepada relasi Islam dan Kristen yang kemudian dikembangkanlah Studi Islam di sana.

Kampusnya memang kecil, hanya satu gedung utama yang bergaya sangat modern, diarsiteki oleh Richard Meier yang dikenal dengan desain geometrisnya dan berwarna putih. Lihatlah karya-karyanya yang lain: Barcelona Museum of Contemporary Art di Spanyol, The Atheneum in New Harmony di Indiana, Museum of Television and Radio di California, High Museum of Art di Atlanta, San Jose City Hall, semuanya serba putih. Tak terkecuali Hartford Seminary ini. Selain gedung utama, ada beberapa bangunan kecil lain di sekitarnya untuk kantor kampus yang lebih menyerupai rumah.

Sekolahnya Para Ustadz di Amerika

Secara harfiah, arti chaplain dalam bahasa Indonesia adalah pendeta. Karena Amerika mayoritas warganya beragama Kristen, maka seseorang yang tugas dan perannya seperti seorang pendeta dalam masyarakat beragama Islam di Amerika disebut juga chaplain. Lebih tepatnya dikenal dengan muslim chaplain. Kalau dicari padanan yang tepat dalam konteks masyarakat Indonesia kira-kira disebut ustadz.

Walaupun Amerika negara sekuler, peran seorang chaplain tetap dibutuhkan dalam institusi kenegaraan. Misalnya dalam kemiliteran. Untuk mengakomodir kebutuhan bimbingan keagamaan para tentaranya, dalam setiap institusi militer disediakan petugas yang berperan sebagai chaplain dari berbagai agama, termasuk Islam.

Melihat kebutuhan akan para ustadz di berbagai institusi itu, tahun 2001 Hartford Seminary membuka program pendidikan bagi muslim Amerika yang ingin berprofesi menjadi ustadz bersertifikasi untuk bekerja di kemiliteran. Ia menjadi kampus pertama di Amerika yang membuka program ini. Tidak hanya di militer, para ustadz dan ustadzah ini nanti juga dibutuhkan di berbagai rumah sakit, penjara, universitas, dan institusi lain. Program ini cukup diminati karena pekerjaan sebagai ustadz bersertifikasi cukup menjanjikan karena warga Amerika yang beragama Islam terus bertambah.

Meskipun kampus ini adalah sebuah seminari, para profesor yang mengampu pendidikan keislaman dan para staf program muslim chaplaincy ini mayoritas muslim. Pada masa kami berada di sana, ada Prof. Mahmoud Ayoub, Prof. Yahya Michot, Prof. Timur Yuskaev, dan Prof. Feryal Salem. Sebelumnya juga pernah mengajar Prof. Ingrid Mattson yang bukunya berjudul Ulumul Quran Zaman Kita: Pengantar Untuk Memahami Konteks, Kisah, dan Sejarah Al-Quran telah lama beredar di Indonesia. Dan tak ketinggalan, Dr. Alwi Shihab pada tahun 90-an juga pernah menjadi professor di sini.

Keberadaan kami di kampus ini tidak hendak menjadi ustadz di Amerika, tapi program pendidikan yang dikerjasamakan dengan PBNU adalah menempuh pendidikan magister dalam bidang hubungan Islam-Kristen.

Karena kampus ini kecil dan mahasiswanya tidak terlalu banyak, ketika kami di sana,  kehidupan dan pergaulannya bisa sangat dekat dan hangat. Bagi kami mahasiswa muslim yang pernah mondok, kehangatan antara mahasiswa dan para professor serta kehidupannya membawa kami kepada nuansa seperti di pesantren. Jumatan di kampus diselenggarakan tiap dua minggu sekali dalam tiap bulannya. Kami bergantian siapa yang menjadi muadzin, khatib, dan imam. Dua minggu lainnya kami jumatan di berbagai masjid di sekitar Hartford.

Memori kami selama dua tahun di sana cukup menyenangkan karena kehangatan civitas akademikanya. Fasilitas perpustakaan yang meskipun kecil, dengan koleksi buku sekitar 92.000 buku dan lebih dari 300 jenis terbitan periodik (jurnal dan majalah) cukup menggoda untuk dibaca. Ditambah Hartord Seminary menerbitkan jurnal papan atas yaitu The Muslim World yang dilanggan di lebih dari 65 negara dan telah terbit per quarter selama satu abad lebih sejak tahun 1911.

Bila di Amerika ustadz menjadi sebuah profesi yang bersertifikat, apakah di Indonesia, wacana sertifikasi ulama yang heboh beberapa waktu lalu akan jadi dilaksanakan?