Edukasi Seputar Gender, Seksualitas dan Orientasi Seksual

100
seksual
Photo by Scott Broome on Unsplash

Kekerasan seksual akhir-akhir ini trensnya mengalami peningkatan setiap tahun, korban tindak kekerasan seksual tidak memandang status sosial maupun usia, tetapi jumlah terbanyak korbannya pada perempuan dan anak. Kondisi ini akan berdampak kompleks baik fisik, psikis, maupun sosial, apabila kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah maupun masyarakat, bahkan dapat mengancam kelangsungan masa depan korbannya.

Dikutip dari Jpnn.com Sekretaris Jendral (Sekjen) DPR RI Indra Iskandar mengatakan saat ini Indonesia masuk dalam status darurat kekerasan, ststus darurat itu diketahui setelah DPR menerima berbagai laporan mengenai kasus kekerasan seksual di tanah air.

Baca juga: Pandemi, Literasi Digital dan Pendidikan Toleransi

oleh sebab itu, penulis mencoba berbagi sedikit pengetahuan seputar gender dan orientasi seksual untuk mengedukasi masyarakat indonesia agar terhindar dari kekerasan seksual dalam bentuk apapun.

Pengertian Seks dan Gender

Seks adalah sifat biologis yang digunakan masyarakat untuk menetapkan orang ke dalam kategori laki-laki atau perempuan, berdasarkan perbedaan ciri fisik, baik yang tampak maupun yang tidak tampak ciri fisik yang tampak, misalnya berdasarkan kromosom, genitalia atau beberapa jenis fisik lainnya. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan, secara biologis digambarkan secara kaku dengan perbedaan yang jelas.

Seks mengacu pada perbedaan fisik atau fisiologis antara laki-laki atau perempuan, termasuk karakteristik seks utama (sistem reproduksi) dan karakteristik sekunder seperti tinggi dan otot. Seks adalah istilah yang mengacu pada perbedaan sosial atau budaya yang terkait dengan laki-laki atau perempuan. Seks mengacu pada perbedaan biologis anatomis dan lainnya antara perempuan dan laki-laki yang ditentukan pada saat pembuahan dan berkembang di rahim dan sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.

Konsep seks atau jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki; pada perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Sebagaimana dikemukakan Moore dan Sinclair (1995:117): “Sex refers to the biological differences between men and women, the result of differences in the chromosomes of the embryo.” Defini si konsep seks tersebut menekankan pada perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan kromosom pada janin.

Dengan demikian, manakala kita berbicara mengenai perbedaan jenis kelamin maka kita akan membahas perbedaan biologis yang umumnya dijumpai antara kaum laki-laki dan perempuan, seperti perbedaan pada bentuk, tinggi serta berat badan, pada struktur organ reproduksi dan fungsinya, pada suara, pada bulu badan dan sebagainya. Sebagaimana dikemukakan oleh Kerstan (1995), jenis kelamin bersifat biologis dan dibawa sejak lahir sehingga tidak dapat diubah.

Gender merupakan bagian peran sosiokultural yang didasarkan atas jenis kelamin. Identitas gender baru muncul ketika manusia secara kodrati dilahirkan dengan jenis kelamin tertentu sehinta gender tidak bersifat kodrati seperti halnya jenis kelamin. Namun karena kemunculan identitas gender mengikuti kelahiran manusia dengan jenis kelamin tertentu maka gender dianggap inheren dalam jenis kelamin bahkan menjadi identik dengan jenis kelamin.

Gender merupakan konsep yang menggambarkan bagaimana masyarakat menentukan dan mengelola kategori seks; makna budaya yang melekat pada peran laki-laki dan perempuan; dan bagaimana individu memahami identitasnya. Hilary M. Lips mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural expectations for women and men). H. T. Wilson mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Linda L. Lindsey menganggap bahwa semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki dan perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (What a given society defines as masculine or feminim is a component of gender). Elaine Showalter menegaskan bahwa gender lebih dari sekedar pembedaan laki laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial-budaya (Nasaruddin Umar, 2010: 30).

Gender melibatkan norma sosial, sikap dan aktivitas yang dianggap masyarakat lebih tepat untuk satu jenis kelamin daripada jenis kelamin lainnya. Jenis kelamin juga ditentukan oleh apa yang dirasakan individu. Gender tidak terbatas pada menjadi laki-laki atau perempuan, tetapi juga berkaitan dengan transgender, transeksual/interseks, gender queer dan posisi gender lainnya.

Konsep gender menyangkut perbedaan psikologis, sosial dan budaya antara laki-laki dan perempuan–arti penting yang diberikan masyarakat pada kategori biologis laki-laki dan perempuan. Gender mengacu pada pengetahuan dan kesadaran, baik secara sadar ataupun tidak, bahwa diri seseorang tergolong dalam suatu jenis kelamin tertentu dan bukan dalam jenis kelamin lain. Konsep gender tidak mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, melainkan pada perbedaan psikologis, sosial dan budaya yang dikaitkan masyaraka antara laki-laki dan perempuan.

Gender tidak bersifat biologis melainkan dikonstruksikan secara sosial. Gender tidak dibawa sejak lahir melainkan dipelajari melalui sosialisasi. Oleh sebab itu gender dapat berubah. Proses sosialisasi yang membentuk persepsi diri dan aspirasi dalam sosiologi dinamakan sosialisasi gender.

Pengertian Seksualitas dan Orientasi Seksual

Seksualitas adalah sebuah istilah yang memiliki banyak makna dari hasrat seksual ke penampilan seksual ke subjektivitas seksual. Secara umum seks digunakan dengan mengacu pada seks biologis atau tindakan senggama, atau secara sederhana bisa diartikan dengan ‘ketertarikan biologis’.

Kebalikan seksualitas adalah aseksualitas. Aseksualitas adalah istilah yang digunakan saat individu tidak merasakan ketertarikan seksual pada lawan jenis ataupun sesama jenis. Beberapa orang aseksual mungkin masih membentuk hubungan romantis tanpa kontak seksual. Terlepas dari pengalaman seksual, hasrat seksual dan perilaku dapat berubah seiring waktu, dan identitas seksual mungkin atau mungkin tidak bergeser sebagai hasilnya.

Orientasi seksual adalah rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap jenis kelamin tertentu. Santrock (2003) mengatakan orientasi seksual adalah pembentukan identitas. Ferdinan (2013) mengatakan bahwa orientasi seksual adalah pola perilaku seksual yang menyimpang. Pola ketertarikan seksual, romantic, atau emosional kepada orang-orang dari lawan jenis.

Orientasi seksual mengacu pada preferensi seseorang untuk hubungan seksual dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda (heteroseksualitas), jenis kelamin yang sama (homoseksualitas), dengan kedua jenis kelamin (biseksualitas) atau tidak memiliki ketertarikan seks (aseksual).

Ilmuwan lainnya mengatakan bahwa orientasi seksual setidaknya sebagian dipengaruhi oleh norma budaya, sehingga individu lebih cenderung untuk mengidentifikasi diri tergantung pada orientasi budaya orientasi seksual di mana mereka disosialisasikan saat mereka tumbuh dewasa. Orientasi seksual berasal dari campuran faktor biologis dan budaya yang kompleks yang masih harus ditentukan.

Semoga dengan sedikit pengetahuan diatas kita semua dapat belajar dan terhindar dari kasus kekerasan seksual. Selain itu, kita sebagai warga negara yang baik juga harus menjaga diri agar tidak terlibat kekerasan seksual dengan menggunakan pakaian sewajarnya yang tidak terlalu terbuka hingga menarik perhatian lawan jenis, harus menjaga prilaku dan hubungan baik antar sesama warga negara Indonesia.

Penulis: Muhammad Ardian Bagaskara
(Siswa SMAN 1 Karawang 2020)