Dunia Adalah Teater Kepahlawanan

126
dunia
Photo by Fatih Kılıç on Unsplash

“Dunia adalah teater kepahlawanan”—William James

Salah satu kontribusi besar dan abadi dari Sigmund Freud, kata Erich Fromm, adalah gagasannya tentang “narsisme”. Freud menyatakan bahwa masing-masing dari kita mengulangi tragedi Narcissus dalam mitologi Yunani: kita terpikat oleh diri sendiri dalam keputusasaan. Jika kita peduli pada orang lain, siapa pun itu, biasanya yang pertama adalah diri kita sendiri. Seperti dikatakan Aristoteles: “keberuntungan adalah ketika orang di sebelah anda terkena panah” (luck is when the guy next to you gets hit with the arrow). Sampai detik ini, sejarah tidak mengubah narsisme dasar manusia; bagi kebanyakan dari kita, definisi keberuntungan semacam itu masih dipegang dan diterapkan.

Baca juga: PPKM Darurat: Menjaga Keseimbangan Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat

Sebagian besar dari kita akan berjuang untuk bertahan hidup dengan semua kekuatan kita, tidak peduli berapa banyak orang di sekitar kita yang mati. Organisme kita siap untuk mengisi dunia sendirian, bahkan jika pikiran kita menyusut saat memikirkannya. Pikiran itu memang menakutkan; kita tidak tahu bagaimana kita dapat melakukannya tanpa orang lain. Tapi di sinilah letak masalahnya; kita merasa dapat mencukupi diri sendiri—seperti Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri di genangan air, menatapnya selama sisa hidupnya di dunia.

Meskipun demikian, pada saat yang sama, narsisme merupakan sumber kepahlawanan (heroism). Narsisme inilah yang memompa semangat juang seseorang sehingga ia tak ragu untuk maju ke titik api dalam peperangan: di dalam hatinya, dia merasa bahwa dia tidak akan mati, dia hanya merasa kasihan pada pria di sebelahnya. Penjelasan Freud untuk hal ini adalah bahwa alam bawah sadar manusia tidak mengenal kematian atau waktu: dalam relung fisiokimiawi manusia, ia merasa abadi. Rasa keabadian itu membuat manusia berjuang untuk melampaui kefanaannya; meskipun jasadku musnah, namun namaku, baktiku dan karyaku akan abadi dikenang masa. Inilah yang menjelaskan kenapa manusia bersedia mengorbankan dirinya untuk orang lain dan bekerja untuk kemanusiaan.

Hari-hari ini, duka menyelimuti kehidupan kita. Kita menyaksikan keluarga, saudara dan sahabat kita berpulang, para nakes berguguran. Sialnya, kita—setidaknya saya—tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi berbuat lebih dari apa-apa. Karena itu, saya selalu salut pada mereka yang tetap bisa berbuat apa-apa; mereka yang merawat pasien covid di rumah sakit, mereka yang mengurus jenazah covid di pemakaman, mereka yang mengirim makanan dan memotivasi teman yang menjalani isoman, mereka yang berbagi pada sesama dengan pelbagai cara dan seterusnya. Salut karena mereka tetap mampu berbuat apa-apa di tengah ancaman pandemi yang mengintai siapa saja—termasuk diri mereka sendiri.

Jika anda seperti saya yang tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya berhentilah memupuk egoisme diri sendiri dan menghembuskan fiksi konspirasi. Jika anda tidak mampu membantu orang lain, setidaknya lindungilah diri dan keluarga anda dari badai pandemi yang melanda dunia. Setiap orang adalah pahlawan; pahlawan bagi diri sendiri, keluarga, bangsa, negara atau umat manusia.

Selebihnya terserah anda, apakah mau menjadikan narsisme sebagai ideologi keberuntungan atau menjadikannya sebagai sumber kepahlawanan?

Salam sehat!
Tetap beraktivitas dengan protokol 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas) + 1M (menyeruput kopi) 😃.

Penulis: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)