Digital Soft-Skill 4.0

1091
Digital 4.0
Photo by Austin Distel on Unsplash

Digital Era: Persiapkan Kemampuan Baru!

Digital adalah kata yang paling sering didengar pastinya saat ini, karena 2020 menjadi pembuktian bahwa dunia kini sudah berubah jauh. Mulai dari lebaran virtual, belajar online, webinar atau seminar online, bahkan urusan pekerjaan pun kini menjadi lebih mudah dilakukan dengan sistem WFH (Work From Home) atau yang sederhana disebut bekerja dari rumah.

Photo by Carl Heyerdahl on Unsplash

“Digital Soft-skills sudah menjadi potensi yang harus ada untuk para Gen Z.”

Namun, sebenarnya apa sih dunia digital sendiri? Yaitu sebuah wadah atau media baru yang memerlukan jaringan atau sistem internet untuk menjalankan kehidupannya di dalamnya, bahasa mudahnya harus ada listrik, paket data dan alat atau device untuk menjadi tempat kita mengakses semua hal yang berhubungan dengan digital.

Tapi, di balik semua itu ada orang-orang ahli yang membentuk atau membuat dunia digital tersebut, mau tau apa saja kemampuan yang dibutuhkan? Yuk, kita list down satu-satu di bawah ini.

  1. IT (Information Technology)

Banyak orang yang menganggap kemampuan seorang IT hanya memperbaiki laptop yang bermasalah atau menginstal aplikasi, sebenarnya lebih dari itu.

Dahulu mungkin terkesan kalau anak IT hanya berurusan dengan hacking dan sejenisnya, saat ini ilmu IT sangat luar cakupannya, bisa menjadi developer atau pencipta sebuat sistem dan bahkan masuk ke ranah membangun dunia digital yang lebih luas seperti yang kita kenal dengan e-commerce, social media bahkan mobile games yang sering banget kita mainkan sampai lupa waktu.

2. Desain Digital

Dulu kalau suka gambar di kelas suka diledek bahkan sampai dipanggil ke ruang guru untuk diceramahi, nah saat ini malah kebalikan.

Semua hal yang berhubungan dengan digital akan berhubungan dengan yang namanya visualisasi, bahkan ada yang disebut dengan rich media di mana sebuah visualisasi tidak hanya berbentuk gambar diam, tapi bisa bergerak (motion, cinematograph, animasi, vector, grafis).

Bayaran kemampuan atau skill ini bahkan kini berhasil mengalahkan pendapatan dari seorang dokter yang spesialis.

Kenapa? Jawabannya karena kini orang lebih suka hal yang kreatif, bernilai seni, berhubungan dengan hiburan dan salah satu bagian pentingnya adalah desain grafis. 

Photo by Windows on Unsplash.

3. Content & Copywriting

Saat SMA dahulu, berbondong-bondong orang tua bangga bahwa anaknya berhasil masuk kelas penjurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) bahkan tidak sedikit yang menutupi keberhasilan anaknya yang bisa lebih dari satu bahasa dan masuk kelas penjurusan Bahasa.

Padahal kenyataannya saat ini kemampuan menulis dan berbahasa selain Bahasa Indonesia sangat lah dibutuhkan di perusahaan-perusahaan besar, agency multinasional, bahkan sampai ke tingkat pemerintahan.

Alasannya karena saat dunia digital berkembang, komunikasi tidak dibatasi ruang dan jarak, kini kita diharuskan untuk melakukan hubungan internasional dan tentunya komunikasi dengan beragam bahasa asing menjadi hal yang diperlukan, ya minimal Bahasa Inggris lah ya.

Hal ini juga menghasilkan terciptanya sebuat pekerjaan baru yaitu content writer dan copywriter yang mengedepankan kemampuan logis, kreativitas, pengetahuan berbahasa yang cukup luas.

Tahu nggak perkiraan gaji mereka berapa? Kisaran 10-15 juta per bulan untuk level pengalaman kerja 3-5 tahun di sebuah perusahaan agency lokal, untuk perusahaan FMCG (Fast Moving Consumer Good) mungkin bisa lebih, pasalnya sebuah brand di brandingkan dengan slogan dan tagline yang akan diingat konsumen dalam waktu yang lama atau bahkan seumur hidup dimulai dari sosok copywriter yang ajaib dalam menghasilkan kalimat singkat dan mudah dipahami yang penuh makna.

Kemudian, content writer masuk sebagai sosok yang selalu ada untuk memberikan informasi dan konten yang secara tidak disadari mencuci otak konsumen melalui postingan-postingan konten digital, baik di website maupun media sosial.

4. Digital Analist

Analisator biasanya kita temukan di bidang keuangan atau kriminologi, namun saat ini orang-orang yang suka menganalisa hubungan antara algoritma digital dan perilaku audiens sangat dibutuhkan perusahaan untuk melihat kesempatan melakukan digital marketing yang tepat dan merencanakan strategi yang seperti apa.

Lahan pekerjaan ini tidak terbatas untuk yang memahami teknologi, matematika, atau hal eksakta lain, namun juga psikologi, komunikasi, dan bahkan bahasa.

Kenapa bisa? Karena bidang pekerjaan ini membutuhkan kemampuan yang lebih dekat ke arah sosiologi dan antropologi, yang mungkin saat sekolah dulu hanya menjadi ilmu pelengkap dengan gurunya yang dikenal ramah baik dan murah memberi nilai.

Kita bicara perihal perilaku dan budaya yang berbeda yang bisa dijangkau lebih mudah melalui digital, termasuk saat melakukan promosi dan berjualan, sehingga kemampuan analisa yang digabungkan dengan cabang ilmu sosiologi, antropologi, komunikasi dan psikologi sangat dibutuhkan sekali.

5. Digital Creative Thinking

Dari nama kemampuannya saja sudah membuat bingung pastinya, sebenarnya kemampuan ini adalah kemampuan yang mungkin saat sekolah dulu anak-anak yang memilikinya dicap sebagai yang susah diatur, suka menghayal dan bahkan lebih memilih ‘madol’ pelajaran, tapi giliran ada acara PENSI (Pentas Seni) paling gigih mencalonkan diri sebagai divisi acara atau bahkan ketua acaranya.

Kemampuan digital creative thinking ini lebih ke ilmu kreativitas yang digabungkan dengan teknologi digital, misalnya membuat virtual gambaran ruang angkasa di pameran pendidikan, virtual 3D atau bahkan 4D untuk film dan musik digital seperti yang dihasilkan oleh Weird Genius dengan lagu fenomenalnya “Lathi”, lagu berbahasa Inggris dicampur dengan Jawa yang dipromosikan hanya melalui Youtube saat pendemi Covid-19 dan menembus kepopuleran hingga ke TimeSquare – Amerika Serikat, semua dihasilkan dengan ide kreatif dan perpaduan teknologi digital.

Softskill in Real Life

Lalu, bagaimana mendapatkan kemampuan atau soft-skills ini dalam kehidupan nyata? Saat ini sudah banyak pelatihan-pelatihan yang memberikan pengembahan digital secara komprehensif, bahkan di beberapa sekolah dan perguruan tinggi sudah memasukkan digital knowledge sebagai salah satu materi yang diajarkan.

Kegiatan webinar atau seminar online, konten pendidikan di Youtube dan bahkan di Google pun sudah banyak digital book atau digital journal yang membantu kita untuk mendalami lima soft-skills yang sudah disebutkan di atas.

Namun, untuk masuk ke dunia kerja tentunya harus ada validasi atau sertifikat yang valid untuk menunjukkan secara teori sudah menguasai, secara praktik sudah pernah menjalankannya, tinggal mempraktikkannya secara menyeluruh, karena tidak ada perusahaan masa kini yang mau menerima kucing dalam karung, bukan? Pastinya mau yang sudah pernah melakukannya minimal sekali dalam proses belajarnya di kehidupan.

Apakah soft-skills tersebut hanya akan bermanfaat untuk mengejar dunia saja? Tentunya tidak! Untuk kita yang fokus terhadap kemajuan keagamaan, tidak ada salahnya masuk ke ranah dunia digital untuk melakukan promosi sekaligus berdakwah, salah satu contohnya akun TikTok @zahidsamosir (https://vt.tiktok.com/ZSfxbfxD/) yang mempromosikan barang endorsan atau hal receh kehidupan, tetapi dengan diselingi ilmu agama misalnya membaca “BISMILLAH” yang benar sebelum makan dan jika lupa doanya adalah “BISMILLAHI FII AWWALIHI WA AAKHIRIHI”.

So, kemampuan digital saat ini menjadi salah satu potensi yang harus dimiliki terutama bagi para Gen Z yang akan menghadapi dunia bekerja 3-5 tahun dari tahun ini.

Pesan untuk para Gen Y (Milenial) dan Gen X adalah, jangan mau kalah dan tetap upgrade kemampuan sebisanya dalam bidang teknologi digital, tidak perlu menyeluruh asal pastikan tidak ketinggalan zaman. Karena, dunia digital selalu berjalan cepat dan massive tanpa mau menunggu siapa pun.

Penulis: Lil Hasnah
(Digital Strategic Enthusiast)