Di Mana Alamat Kesombongan Itu ?

666
Photo by Vince Russell on Unsplash
Photo by Vince Russell on Unsplash

Oleh :Moch. Aly Taufiq
(Direktur Nusantara Mengaji)

Dalam kitab Al-hikam dikisahkan, terdapat seorang laki-laki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, yakni orang yang gemar berbuat maksiat dan dosa besar. Suatu ketika ia bertemu dengan Abid (ahli ibadah) yang di atas kepalanya selalu terdapat payung mika menaunginya. Kemudian si Khali’ bergumam, “aku adalah pendosa yang selalu berbuat maksiat, aku akan duduk bersanding dengannya, siapa tau dengan demikian aku mendapat rahmat Allah”. Lalu si Khali’ duduk menyandingi Abid. Tak disangka, si Abid tidak nyaman berdekatan dengan Khali’ dan meninggalkannya dengan sikap penuh keangkuhan.

Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi dari Bani Israil dengan firmannya “perintahkan kepada Abid’ dan Khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa Khali’ dan menghapus semua amal ibadah Abid.

Kisah di atas mengingatkan kita, sebanyak apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat sejengkal kesombongan. Sedangkan rasa menyesal terhadap dosa yang sudah kita lakukan, bisa jadi akan mendatangkan rahmat Allah.

Tanpa disadari, banyak di antara kita sering pongah dengan keberhasilan sebuah ibadah. Acap kali di antara kita sering jumawa dengan perbuatan baik yang dilakukan. Padahal, kebaikan yang kita lakukan jika disertai kesombongan, tidak bernilai apa-apa.

Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Assayyiatu Tasu’uka Khoirun Indallahi Min hasaantin Tu’jibuka” Perbuatan buruk yang menyebabkan kamu sedih dan hina, lebih baik di sisi Allah dari pada perbuatan baik yang menyebabkan kamu sombong”.

Dalam Surat Al a’raf ayat 12 Allah telah menggambarkan dengan baik, bagaimana kesombongan menjadikan Iblis terusir dari neraka. Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud, Iblis membangkang, Allah tidak serta merta langsung melaknati iblis tapi Allah masih membuka ruang dialog. Allah bertanya “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Iblis diusir oleh Allah bukan karena enggan bersujud,  melainkan karena sombong. Jika saja Iblis menjawab dengan kerendahan jiwa, bisa jadi Allah masih membuka pintu maaf. Mungkin, jika Iblis menjawab “ Ya Allah jika saya bersujud kepada Adam, maka aku takut akan menyekutukanMU” mungkin bisa jadi Allah akan memaafkan.

Jawaban Iblis yang sombong itulah yang menyebabkan Allah melaknatinya. Kisah di atas memberikan gambaran, bahwa kesombongan adalah sifat yang sangat menjerumuskan. Mahkluk yang sudah di surga saja terusir karena kesombongannga, bagaimana jika kita sebagai mahkluk yang masih jauh dari surga.

Ibnu Qoyyim mengatakan “Kesusahan atau tangisan seorang pendosa lebih dicintai Allah daripada tasbihnya seorang yang sombong”. Tangisan dan penyesalan terhadap dosa, adalah sikap tawadhu’ yang bisa mendatangkan rahmat dan pengampunan. Dalam kitab Al Hikam, Ibnu Athoillah mengatakan :

ﻣﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭﺭﺛﺖ ﺫﻻ ﻭﺍﻓﺘﻘﺎﺭﺍ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﻃﺎﻋﺔ ﺃﻭﺭﺛﺖ ﻋﺰﺍ ﻭﺍﺳﺘﻜﺒﺎﺭﺍ

“Maksiat yang melahirkan rasa hina lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.

Seberapapun banyaknya amalan kita, jangan sampai berbuah kesombongan. Sebaliknya, seberapa banyakpun dosa kita, kita tidak boleh berputus asa dari Rahmat dan pengampunan Allah.

Dalam kitab Al-Usfuriah, dijelaskan bahwasannya pada umat terdahulu ada seseorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan dia bersikeras dalam ibadah untuk dirinya sendiri, namun dia memutus orang-orang dari rahmatnya Allah ta’ala kemudian dia meninggal, lantas dia bertanya “Wahai Tuhan apa yang Engkau siapkan untukku dari-Mu?” Allah menjawab “Neraka”, dia bertanya “Wahai Tuhan, lantas dimana ibadahku dan kesungguhanku?” Allah menjawab “Sesungguhnya engkau telah memutus orang-orang dari rahmat-Ku di dunia maka hari ini Aku memutusmu dari rahmat-Ku”.

Marilah kita selalu berbuat taat, disertai dengan kerendahan jiwa. Sesunggunya semua ibadah dan ketaatan yang kita lakukan adalah karena takdir Allah, bukan karena kekuatan kita atau kehebatan kita, maka tak sepantasnya kita berbangga. Jika kita tetap rendah hati dengan segala keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang sombong keutamaan tersebut menjadi kerendahan. Wallhu A’lamu Bisshowab.