Demi Keselamatan Rela Berpisah dengan Indahnya Aurora

467
Photo by Sami Takarautio on Unsplash

Di dunia ini, waktu terus berputar. Segalanya akan berbalik seperti semula. Sama halnya dengan es yang akan mencair  kembali menjadi air.  Aku, Balqis, adalah penghuni kutub utara. Aku tinggal bersama suamiku. Kami penikmat aurora sejati.

Namun sudah sepekan, tak tahu kenapa, suhu di sini tampak berbeda, lebih hangat dari biasanya. Jika begini terus maka es-es akan mencair dan kami akan tenggelam.

“Bagaimana jika esok es di sini mencair?  Bagaimana jika kami semua tenggelam? Bagaiman jika aku dan suamiku tidak bisa menikmati aurora lagi? Tidak mungkin!

Aku tidak boleh mati tenggelam di sini” serunya dalam lamunannya. “Aku harus pergi dengan Erik, suamiku.” Ia segera beranjak dari tempatnya dengan senyum semangat penuh tekad.

Semua tetanggaku, bahkan suamiku, tidak percaya akan hal itu. Apa boleh buat, akulah yang harus membuktikan pada suamiku tercinta bahwa ini bukan sekedar haluku saja.

Entah hari ini atau esok, aku dan suami tercintaku mungkin akan tenggelam. Air mata Balqis kini mengalir dan membasahi wajah jelitanya.“Apa yang harus aku lakukan? Balqis, berpikirlah!” bingungnya.

Alergi Beruang

Tiba-tiba seekor beruang besar masuk ke rumahnya, ia pun menjerit ketakutan.Hal tersebut terjadi bukan sekali dua kali, namun hampir setiap hari, karena di Svalbard, Norwegia, tempatnya bersinggah, populasi beruang lebih banyak dari manusia.

Balqis alergi setiap kali menyentuh atau tersentuh beruang, sekujur tubuhnya akan dipenuhi bentolan merah. Baru kali ini ia merasa sangat beruntung memiliki alergi  beruang, “Tepat sekali dengan apa yang sedang aku pikirkan, ini dapat menjadi alasanku tuk pergi dari sini” serunya dalam hati.

Setiap malam sehabis Erik bekerja, Ia selalu mengajak Balqis memandangi cahaya aurora yang sangat indah, sambil berbincang di teras rumah. Tapi, tidak dengan malam ini.

Wajah Balqis bahkan tubuhnya dipenuhi dengan bentolan merah. “Istriku, beruang itu menyentuhmu lagi?! Maafkan aku tidak ada di sampingmu” seru Erik penuh prihatin. “Tidak apa-apa suamiku, ini sudah terjadi” jawabnya.

Balqis pun memberikan saran untuk pindah ke tempat yang lebih panas yang tidak ada beruang di sekitarnya. Erik langsung menyetujuinya walau mereka tidak dapat melihat cahaya aurora lagi. Senyum dan kesembuhan istrinyalah  yang akan menjadi cahayanya yang lebih indah dari cahaya aurora.

Pindah Rumah

Akhirnya mereka pindah ke Dallol, Ethiopia, yang letaknya sangat jauh dari Kutub Utara. Di sana, mereka mendapat rumah untuk tinggal walaupun masih mengontrak. Suhu di Dallol sangat panas, sekitar 38oC karena jaraknya dekat dengan Volcano.

Balqis dan suaminya merasa tidak terlalu nyaman, namun ini adalah tempat yang sangat menakjubkan bagi mereka. Balqis merasa aman dari angan tentang cairnya Kutub Utara.

“Sepahit apapun akibatnya nanti, ini untuk kebaikan aku dan suamiku. Ini pilihanku! Aku tidak akan menjelaskan semua ini sekarang. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan alasanku yang sesungguhnya”.

Walau begitu, kebimbangan hatinya masih terus membunuhnya. Bagaimana jika cairan es-es itu akan sampai ke sini? Balqis pun terpikir akan membangun rumah selam di sini.

Setiap hari, Balqis dan suaminya merancang rumah tersebut. Rumah rancangan mereka seperti kapal selam sehingga saat banjir menerjang  maka mereka akan selamat.

Proses pembangunan rumah mereka sangatlah cepat hanya berlangsung selama 2 bulan karena mereka memperkerjakan banyak tukang bangunan.

Orang-orang sekitar meremehkan desain mereka, tetapi, Balqis hanya tersenyum saat membalas cemooh mereka.

Malam Tragedi

Malam ini adalah malam di mana mereka memukimi rumah baru mereka. Suhu di rumahnya meningkat menjadi 40o C. Balqis dan Erik merasa seperti cacing kepanasan.

Suara lonceng raksasa terngiang sangat keras di gendang telinga mereka hingga mata mereka terbelalak. Erik mencoba melihat apa yang terjadi melalui jendela.

Tetangganya berteriak, “Banjir! Selamatkan diri kalian!”. Erik pun panik dan lari menuju Balqis segera. Balqis hanya tersenyum memandangnya.

“Tak usah dipikirkan, kita akan baik baik saja. Suamiku, inilah alasanku yang sesungguhnya. Aku tidak mau kita mati tenggelam sia-sia bersama orang-orang yang tidak pernah memperhatikan keselamatan mereka.

Sebenarnya, aku tidak pernah sekalipun merasa tak nyaman tinggal di Svalbard, Norwegia. Setiap hari, saat di sana, aku selalu melihat dan memperhatikan es yang perlahan meleleh.

Hal itu membuatku yakin bahwa kita semua akan tenggelam dengan lelehannya. Beruang bukanlah alasanku untuk menjauh dari cahaya aurora itu. Lelehan eslah alasanku tuk pergi ke tempat ini”.

Penulis: Helma (Pecinta Seni, Santri Pesantren Assalam, Bogor)