Covid-19: Memilah kembali Hal yang Esensial dan yang Tidak

301
esensial
Photo by Maxime on Unsplash

Lebih dari satu abad lamanya peristiwa flu spanyol pada tahun 1918 masih simpang siur asal usulnya. Flu itu memakan korban antara 50 hingga 100 juta jiwa. Bahkan diduga 1,5 juta warga Indonesia (Hindia Belanda) ikut menjadi korban flu ini.

Kemudian beberapa dekade setelahnya, dua pandemi cukup mematikan yang juga terjadi pada abad 20, Asian Flu (1957) dan Hong Kong Flu (1968) menyebabkan 2 hingga 4 juta orang meninggal dunia.

Peristiwa-peristiwa di atas membuat sebuah dorongan paksa umat manusia untuk berubah. Negara-negara di dunia mulai peduli kesehatan. Mulai dari anggaran besar-besaran untuk kementerian, riset serta pengembangan inovasi di dunia kesehatan. Orang mulai melihat kesehatan sebagai sesuatu yang esensial.

Baca juga: Bandung, Indonesia dan Asia Afrika

Generasi yang saat ini masih hidup, baik generasi perang dunia II, generasi boomer hingga generasi alpha mulai rabun dan sulit membedakan mana yang esensi dan mana yang bukan. Status quo dan tak adanya peristiwa besar yang mampu menggebrak dan merestorasi tatanan kehidupan menjadi penyebabnya.

Harari dalam bukunya Sapiens mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan pada dua macam realitas. Realitas objektif dan realitas imajinatif. Realitas imajinatif atau yang sering kita sebut fiksi atau konstruk sosial ini adalah kemampuan unik manusia yang membuat mereka mampu untuk bekerja sama dalam membangun peradaban.

Tatanan sosial adalah bagian dari imajinasi manusia. Celakanya, banyak yang menganggapnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diubah. Banyak peristiwa besar yang mampu mendobrak imajinasi tentang konstruk sosial ini.

Peristiwa Revolusi industri misalnya, mulai meletakan tatanan dunia baru antara pemodal dan buruh. Lalu kita juga melihat bagaimana perang dunia I & II mengubah salah satu konsep lama Zero-Sum Game. Manusia tadinya beranggapan bahwa sumber daya itu terbatas, maka untuk mendapatkan sumber daya lebih, harus mengambil sumber daya milik orang lain.

Muncul keinginan untuk invasi ke kerajaan lain, kolonialisme, dan bentuk-bentuk aneksasi lainnya. Caplok-mencaplok wilayah adalah hal yang lumrah. Perang adalah sesuatu yang esensial.

Namun perubahan kembali terjadi. Hancurnya masayarakat pasca-perang dunia II memunculkan konsep baru Positive-Sume Game. Konsep ini beranggapan bahwa dengan bekerja bersama-sama, negara dunia bisa saling menguntungkan. Tidak ada lagi istilah kerugian sebuah negara adalah keuntungan negara lain. Terbentuklah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mulai masa itu hingga sekarang, adalah masa paling damai manusia sepanjang sejarah. Peperangan mulai berhenti. Angka harapan hidup meningkat. Populasi melonjak tajam. Kontruks sosial bahwa cara untuk mendapat keuntungan adalah dengan mengambil milik orang lain sudah pudar. Untuk apa berperang kalau tanpa berperang saja kita sudah kenyang? Perang tak lagi esensial.

Pekerja Esensial

Ada satu istilah yang menyeruak atas mewabahnya Covid-19. Yaitu istilah Pekerja Esensial. Saat beramai-ramai orang membuat tagar #dirumahaja, para pekerja esensial tidak bisa merasakan kemewahan tersebut.

Kita sulit membedakan mana pekerjaan yang esensial dan mana yang bukan. Bahkan kebanyakan kita nampaknya tidak tahu apakah pekerjaan kita esensial atau tidak.

Istilah yang baru-baru ini populer itu mendefinisikan profesi yang menjadi esensi atau dasar utama sebuah komunitas. Mereka menjadi alasan dapat bergeraknya sebuah peradaban moderen. Saat mereka berhenti bekerja, maka berhenti pula roda kehidupan masyarakat.

Artinya, tidak ada tagar #dirumahaja bagi para pekerja esensial ini. Pekerjaan yang mereka geluti menuntut mereka untuk tetap bekerja dalam situasi apapun. Bahkan dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Kalau pemerintah konkret sebenarnya mudah untuk membedakannya. Cukup lihat saja pekerja yang memiliki kemewahan bekerja dari rumah dan pekerja yang tidak memilikinya. Sayangnya pemerintah kita tidak menerapkan kebijakan itu. Bahkan banyak pekerja yang sebenarnya tidak esensial masih mondar-mandir memenuhi jalan raya.

Mari kita tengok Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease (Covid-19). Di dalamnya terdapat pembatasan proses bekerja di tempat kerja dan mengganti dengan bekerja di rumah atau tempat tinggal.

Ada beberapa instansi yang mendapat pengecualian PSBB. Mulai Instansi pokok pertahanan dan keamanan, ketertiban umum, kebutuhan pangan, bbm dan gas, kesehatan, keuangan, komunikasi, distribusi, logistik dan kebutuhan dasar lainnya.

Faktanya di lapangan pekerja yang tidak termasuk ke dalam kelompok esensial juga masih bebas berkeliaran. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan utama kelonggaran penerapan Permenkes itu. Toh, penerapan PSBB dan bukannya Karantina juga memang tujuannya itu. Sekarang PSBB tidak jelas juntrungannya. Ekonomi tidak terselamatkan, pandemi pun tidak tertahan.

Oleh karena itu, pekerja kita (esensial atau tidak) yang tidak memiliki keistimewaan #workfromhome punya dua pilihan. Tetap bekerja di luar rumah demi penghasilan atau mengkarantina diri dan menganggur di rumah.

Beberapa pekerja seperti kurir barang adalah bagian dari itu. Mereka dikategorikan sebagai pekerja esensial yang harus tetap bekerja dalam kondisi pandemi ini. Mereka memilih pilihan kedua tadi. Berjudi dengan virus sekalipun dengan risiko yang besar. Sayang, perusahaannya tidak menanggung ongkos kesehatan.

Lalu mengapa pekerja esensial seperti kurir, perawat, teknisi, petani, hingga buruh industri makanan terlepas dari status mereka sebagai pekerja esensial kebanyakan tidak mendapatkan kehidupan yang layak dan penghasilan yang “esensial”?

Karena sekali lagi perlu digarisbawahi, profesi mereka memang esensial, tapi diri mereka sendiri tidak esensial. Seorang bijak pernah berkata, besar tidaknya penghasilan seseorang tidak dilihat dari seberapa penting pekerjaan mereka, tapi dari seberapa sulit diri mereka digantikan.

Maka sekalipun profesi kita esensial, tapi apabila kita berhenti bekerja, kemudian orang lain dengan mudah menggantikan kita, maka diri kita tidak se-esensial yang kita kira.

Mengubah Paradigma Esensial dan Non-Esensial

Terlalu dini nampaknya apabila Covid-19 ini kita anggap sebuah turning point tatanan sosial dalam arah umat manusia ke depan. Flu Asia dan Flu Hong Kong yang memakan korban jiwa hingga 2-4 juta saja tidak berbekas dan sudah terhapus dari memori orang-orang.

Namun setidaknya virus ini menyadarkan kita mana yang esensial dan mana yang tidak esensial. Dari segi kesehatan, orang mulai sadar akan kehidupan yang sehat dan higienis. Selalu mencuci tangan, memakai masker, hingga membersihkan rumah setiap hari.

Dunia pendidikan pun merasakannya. Sekarang kita sadar bahwa sekolah itu bukan esensial. Jangan salah sangka. Belajar adalah esensial. Guru juga adalah pekerjaan yang esensial. Namun anak pergi ke sekolah dengan seragam rapi setiap hari dari jam tujuh pagi sampai sore hari tidaklah esensial. Belajar masih bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dan Covid-19  menyadarkan itu.

Organisasi juga melihat dunianya dengan kacamata baru. Baik organisasi-organisasi siswa, mahasiswa sampai lembaga negara sudah sadar bahwa rapat-rapat itu tidak esensial. Menentukan tempat, sampai rela menunggu berjam-jam rekan-rekan rapat hingga datang semuanya tidaklah esensial. Anggaran rapat DPR sekali saja bisa mencapai 1 milyar rupiah.

Manfaat teknologi yang sudah kita nikmati sejak lama, nyatanya belum bisa menggebrak konstruk sosial macam tatap muka sekolah dan rapat-rapat yang kita kira selama ini esensial. Baru setelah Covid-19 mewabah, kita sadar akan esensi yang sesungguhnya dari suatu hal.

Celakanya, melihat mandirinya warga yang saling bahu-membahu menghadapi Covid-19, dengan tagar #rakyatbanturakyat, ditambah tidak jelasnya kebijakan-kebijakan pemerintah, serta tidak terasanya kehadiran pemerintah di masyarakat, membuat kita bertanya-tanya, jangan-jangan pemerintah memang bukan unsur yang esensial.

Tulisan ini Pernah dimuat di Buntu Literasi
Penulis: Hilman Ghufron