Corona Mematikan Kepakaran

531
Photo by JAFAR AHMED on Unsplash

Oleh: Rahmatullah Al-Barawi

Sampai saat ini Indonesia dan juga dunia masih berjuang melawan pandemi corona. Ironinya, di samping menimbulkan banyak korban jiwa, virus ini juga turut mematikan kepakaran. Semenjak virus ini pertama kali muncul di Wuhan, sudah banyak teori konspirasi yang mengulik asbab kemunculan virus tersebut.

Alih-alih percaya pada anjuran kesehatan, banyak orang yang tersihir dengan teori yang belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Salah satu faktor berkembangnya wacana itu adalah dipopulerkan oleh para artis. Ya, sebagai sosok yang punya banyak pengikut di media sosial, kehadiran artis menjadi penting dalam menyebarkan sebuah pesan.

Masih segar dalam ingatan netizen Indonesia, mantan vokalis Drive, Anji, membuat heboh setelah mewawancarai Hadi Pranoto yang didaku berhasil menemukan obat penawar corona. Di saat para pakar masih berjuang menghasilkan vaksin, Hadi mengaku sudah mengantongi resep obat penangkalnya. Berita ini pun heboh dan mengundang perbincangan di dunia Manji, eh, dunia maya.

Nah, fenomena Anji dan Hadi ini sebenarnya hanya satu gambaran kecil betapa kepakaran pengetahuan tak lagi berharga. Beberapa tahun yang lalu, Tom Nichols dalam bukunya, “The Death of Expertise” telah menyoroti hal tersebut. Dengan mengacu pada kasus di Amerika, menurutnya otoritas kepakaran tidak lagi menjadi hal yang penting di dunia digital saat ini.

Semua orang bisa berbicara dan berekspresi secara bebas. Alhasil, suara seorang ilmuwan yang belajar bertahun-tahun di laboratorium bisa kalah dengan suara seorang Hadi Pranoto. Dalam kasus beragama, nasihat dari seseorang yang sejak lahir telah belajar agama jebolan kampus Al-Azhar dan punya ratusan karya, bisa kalah dengan seorang mualaf yang baru belajar tentang Islam. Tentu bukan ini yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat.

Kebebasan itu harus didasarkan pada pengetahuan dan data, bukan sebatas ucapan kosong tak bermakna. Dengan demikian, kepakaran harus tetap dipertahankan. Namun, kepakaran yang ada seharusnya kepakaran yang terbuka untuk menerima masukan dan kritikan. Sebab, bagaimanapun seorang pakar juga manusia. Ada celah untuk berbuat salah, karena pakar bukan “tuhan” yang tahu semuanya.

Fenomena kepakaran ini juga diaminkan oleh Alquran sebagaimana yang termaktub dalam Surat Al-Nahl ayat 43. Maknanya kurang lebih adalah jangan malu bertanya kepada orang yang lebih paham terkait suatu pembahasan. Jika kita mau tahu seputar kesehatan, maka bertanyalah kepada dokter.

Jika kita mau mengenal agama Kristen, maka berdialoglah dengan penganutnya, bukan kepada ustaz yang mengaku pakar kristologi. Terlebih, bagi Anda yang mau memahami apa itu jomlo, ya bertanyalah kepada mereka yang konsisten memilih jomlo. Begitu seterusnya.

Resep lain dari Alquran seputar isu ini adalah untuk menahan diri dari sesuatu yang tidak dimiliki ilmunya. Ini dapat dilihat dari Surat Al-Isra` ayat 36. Berbicara soal menahan diri, kita dapat belajar dari seorang jomlo yang mampu menahan rindu untuk bertemu dan menahan sayang dalam penantian. Ups.

Jangan hanya karena modal ingin viral lantas menghalalkan segala cara. Seorang Anji dengan suaranya yang merdu, sudah sepantasnya menghasilkan lagu-lagu nan syahdu. Ini adalah kepakarannya yang perlu kita hormati dan nikmati karya-karyanya.

Namun, jika kita sudah melewati batas pengetahuan yang dimiliki, maka di sinilah pentingnya memiliki pengingat diri. “Eling lan waspodo” dalam filosofi Jawa. Seseorang yang mengatakan, “Saya tidak tahu” itu jauh lebih terhormat daripada yang merasa “sok tahu” terhadap semua permasalahan.

Bahkan selevel nabi pun dengan rendah hati menjawab, “Anta a’lam bi umuri dunyakum”, “Engkau lebih paham terhadap urusan duniamu”. Kalimat ini lahir manakala seorang sahabat mengeluh kegagalan kepada Nabi Muhammad setelah beliau menawarkan cara menanam pohon kurma. Kebijaksanaan Nabi untuk membatasi diri terhadap urusan-urusan di luar kemampuannya penting untuk kita refleksikan.

Oleh karena itu, jangan sungkan untuk mengatakan ketidaktahuan. Pandemi ini seharusnya mengajarkan kepada kita bahwa dibutuhkan beragam kepakaran. Tidak cukup hanya tenaga medis yang berjuang, politisi, aktivis, tokoh agama, wirausaha dan masyarakat luas harus bekerja sama tanpa mengambil pekerjaan lainnya. Kita berjalan sesuai dengan panggilan hidup masing-masing. Sampai di sini, mari kita kenali tentang apa yang diketahui dan belum diketahui. Sebab, kebodohan adalah musuh utama manusia. Al-Naasu a’daa` maa jahilu. Wallahu a’lam.