Computational Thinking Menjawab Skill Gaps Dunia Industri

541
Photo by Campaign Creators on Unsplash

Oleh: Habibi Salim
(Founder AXAR School)

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam 1 dekade terakhir khususnya dalam dunia bisnis dan industry. Kemunculan perusahaan berbasis teknologi di Indonesia bahwa sudah sangat variatif seperti Fintech, Marketplace, EduTech, Ride Hailing membuktikan bahwa industry digital Indonesia telah dimulai. Menurut data dari World Market Monitor, Ekonomi digital diproyeksikan menyumbang USD 115 milliar atau 9.5 % terhadap pendapatan domestic Bruto di Indonesia pada tahun 2025.

Namun hal tersebut bukan tanpa tantangan, salah satunya adalah minimnya telenta digital Indonesia. Menurut data McKinsey and Company, Indonesia  kekurangan 600 ribu talenta digital setiap tahunnya dan diprediksi menjadi 9 juta orang pada tahun 2030. Fakta ini kemudian menjadi pekerjaan rumah tersendiri khususnya Kementerian Pendidikan dan seluruh ekosistem Pendidikan di Indonesia untuk beradaptasi dengan perkembangan saat ini.

CEO Linkedin, Jeff Weiner, mengungkapkan bahwa ada 3 tren yang akan mengubah dunia di masa depan yaitu Otomatisasi dan AI, Skill gaps, serta pekerjaan Indepanden. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan akan menyelesaikan masalah-masalah manusia kedepan dan menghilangkan pekerjaan. Namun kabar baiknya munculnya AI juga akan menimbulkan profesi. World Economic Forum (WEF) terdapat pergeseran keterampilan di dunia kerja sekitar 42% pada tahun 2022. Dalam laporannya WEF menyebutkan beberapa keterampilan masa depan yang harus dimiliki para pekerja jika ingin bersaing.

  1. Problem Solving/Pemecahan Masalah

Dengan dipengaruhi berbagai faktor, permasalahan dimasa depan akan semakin komplek, sehingga para pekerja dituntut memiliki skill penyelesaian masalah dengan strategis, efektif dan meminimalisir resiko.

  1. Berfikir Kritis

Kemampuan berfikir kritis juga merupakan keterampilan yang harus dimiliki di masa depan. Keterampilan ini dibutuhkan untuk mempelajari suatu masalah atau situasi sebagai dasar pengambilan keputusan. Keterampilan ini bisa dilatih dengan cara sering mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan menganalisis efeknya. Selain itu memperbanyak referensi dan pengetahuan baru juga sangat mendukung terbentuknya keterampilan ini.

  1. Kreatifitas Tinggi

Keterampilan yang sangat penting dimasa depan kreatifitas yang tinggi, Keterampilan ini dibutuhkan untuk membangun produk terbaru agar tidak kalah saing dari para kompetitor.

  1. Memiliki Sikap Empaty

Selain itu ketrampilan yang harus dimiliki dimasa depan adalah Sikap empati. Hal ini dibutuhkan agar seseorang mampu bekerjasama dengan tim.

  1. Leadership

Kepemimpinan juga merupakan hak yang sangat penting, Dengan kompetisi industry yang sangat cepat, seorang pemimpin dalam sebuah organisasi dituntut memiliki kepemimpinan yang kuat agar dapat memimpin tim secara efektif dalam mencapai tujuan.

  1. Kemampuan Analisis System dan Evaluasi

Keterampilan berikutnya ada Analisis dan evaluasi. Keterampilan ini dibutuhkan untuk menganalisis dan mengevaluasi setiap tugas.

Oleh karenanya Implementasi Computational Thinking dilingkungan sekolah menjadi penting sebagai adaptasi perkembangan industri. Computational Thinking merupakan cara berpikir yang memungkinkan untuk menguraikan suatu masalah menjadi beberapa bagian yang lebih kecil dan sederhana, menemukan pola dalam dan masalah tersebut, serta menyusun langkah-langkah solusi mengatasi masalah.

Walaupun Computational Thinking diambil dari cabang keilmuan komputer, namun sebenarnya dapat diimplementasikan diberbagai bidang sebagai sebuah cara atau pendekatan berfikir. Ada 4 teknik kunci dalam computational thinking:

  1. Decompotition – Adalah langkah memahami masalah yang besar dan komplek dan membaginya ke dalam masalah-masalah yang lebih kecil.
  2. Pattern Recognition – Mencari atau menecoba untuk memahami pola yang terbangun antar masalah.
  3. Abtraction – Fokus pada informasi yang penting dan menyamingkan informasi yang kurang relevan.
  4. Algoritma – Menyusun langkah-langkah terstruktur dalam menyelesaikan masalah.

Di beberapa negara seperti Amerika, India, Korea, computational thinking tidak diajarkan secara langsung dalam bentuk kompetensi, akan tetapi disematkan dalam kebiasaan seperti kegiatan ekstra coding. Kegiatan ini bukan bertujuan utama mencetak engineer melainkan sebagai latihan membiasakan berfikir komputasi.

Dengan limpahan sumber daya manusia diusia produktif seharusnya Indonesia mampu menyamai atau bahkan melebihi India. Seperti diketahui India merupakan negara pencetak programmer. Bahkan CEO tech giant seperti google dan Microsoft berasal dari negeri para dewa ini.