Mendarat di Columbia

Sesampainya di Columbia. Saya merasa diikuti dan saat mencoba melirik ke belakang, ada tatapan laki-laki muda berwajah Asia yang mengikuti. Saya terus melangkahkan kaki menuju gedung Departemen Mechanical Engineering di depan. Ketika hendak membuka pintu, lelaki itu ternyata sudah di samping saya. Tiba-tiba dia menyapa.

“Masnya dari Indonesia ya?”

“Iya mas”, jawab saya kaget.

“Kuliah di sini?”

“Oh, nggak mas. Kebetulan istri saya ada acara di dekat sini. Saya jalan-jalan aja lihat-lihat kampus.”

“Pantesan kok nggak pernah lihat. Ada kertas dan pulpen mas?” tanyanya sejurus kemudian. Kebetulan di tas ada kertas dan pulpen dari acara istri yang saya menyelinap keluar dari sana karena tidak mudheng dengan yang dibicarakan.

Lelaki itu menulis sesuatu dengan cepat dan singkat, lalu menyerahkan ke saya. “Ini FB saya. Nanti kontak saja. Sorry nggak bisa lama-lama, ada kelas.”

Rupanya dia memang menuju gedung yang saya tuju dan kebetulan ketika dia jalan terburu-buru, ada saya yang mungkin terlihat aneh di depannya. Setelah saya lihat profil di FB-nya, ternyata dia memang mahasiswa pascasarjana di Departemen itu. Saya ke gedung itu juga kebetulan saja sedang berjalan ke sana.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Siang itu, saya memang keliling-keliling melihat kampus Columbia University. Dan saya muter-muter di sana memakai blangkon. Bukannya apa-apa, ketika itu sedang musim dingin, Februari 2014. Sedangkan saya tidak punya kupluk. Blangkon itu sebenarnya pesanan titipan seseorang di Hartford.

Tapi karena jumlahnya kelebihan, sisa satu itu saya pakai saja. Blangkon itu kebesaran buat saya tapi ternyata hangat di kepala. Ya sudah, daripada kepala pening kena hawa dingin, saya pakai saja kalau keluar rumah. Jadi, karena blangkon itu dia menyapa saya.

Ini adalah kali pertama saya benar-benar ke kota New York. Sebulan sebelumnya, saya hanya numpang mendarat saja di John F. Kennedy International Airport. Lalu dijemput istri dan langsung perjalanan darat dua jam menuju Connecticut. Itu pun malam hari, dan jalan yang dilalui tidak lewat tengah kota.

Niat saya sebenarnya tidak ke kampus ini. Ketika istri mengajak ikut ke acaranya, dengan senang hati saya berangkat. Karena acara itu di New York. Siapa sih yang nggak kepengin ke sana. Film AADC 2 saja sampai syuting di New York. Dan ketika tahu bahwa acaranya di samping Columbia University, saya mending ke kampus ini saja daripada ikut acaranya.

Columbia University sudah ada di benak saya sejak kuliah di Ciputat. Yang membuat ia menancap kuat di memori, adalah seorang alumninya yang tinggal di Ciputat. Yaitu Prof. Dr. Azyumardi Azra. Ketika selama kuliah di UIN Syahid, beliau adalah rektor saya. Kisah-kisah tentang Columbia saya ketahui dari buku catatan harian beliau yang tidak sengaja saya temukan di antara belasan ribu tumpukan buku-buku koleksi di kediaman beliau di Ciputat.

Selama enam tahun di UIN, saya belum pernah bincang-bincang dengan beliau. Ketika itu tahun 2006, sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan, saya ikut dosen, Pak Ade Abdul Hak, untuk mengatalogisasi buku-buku Profesor Azra. Beliau hendak membuat perpustakaan pribadi.

Berkhayal Tinggal di New York

Saat itu koleksinya ada lima belas ribu. Setiap pulang dari luar negeri, beliau pasti membawa banyak sekali buku. Dan kabarnya ketika boyongan dari New York pada awal 90-an dulu, perlu satu kontainer lebih untuk membawa buku-bukunya lewat perjalanan kapal laut.

Biasanya, saya dan beberapa teman memproses katalogisasi pada malam hari. Pengerjaannya di ruangan di atas garasi, bangunan yang terpisah dari rumah utama beliau. Seringnya sampai larut malam. Pagi hari kami baru pulang dan lanjut kuliah. Kalau capek, sambil mendengarkan alunan musik rock klasik dari pemutar musik Winamp, kami baca buku-buku yang ada. Seringnya sih novel-novelnya Mochtar Lubis.

Tapi malam itu saya melihat ada sebuah buku agenda hitam setebal seratus halaman. Rupanya Profesor Azra menulis diary. Isinya banyak kisah-kisah ketika beliau menjadi mahasiswa Columbia, sejak master hingga doktoral. Namanya buku harian, tentu ceritanya menarik.

Saking menariknya, saya sempat menghayal, membayangkan seakan-akan sedang hidup di New York. Dan bahkan saya pernah bikin cerita di grup milis alumni SMA, yang sampai-sampai almarhum teman baik saya yang ngekos di Senayan menyangka saya benar-benar sedang di New York. Padahal sehari-hari saya ya di Ciputat.

Pulau Manhattan

Tapi siang yang dingin itu saya akhirnya benar-benar berada di Morningside Heights, New York. Tempat Columbia University berada, di sebelah barat Harlem. Apa yang Profesor Azra kisahkan tentang kampusnya dan lingkungan apartemen tempat beliau tinggal, ada di depan mata saya. Dan Harlem juga bukan nama yang asing. Saya sering mendengar nama itu sebelumnya dari film-film Hollywood.

Harlem adalah wilayah di bagian utara Manhattan yang didominasi warga kulit hitam yang mulai bermukim di sana sejak gelombang migrasi besar pada abad 20. Di masa itu hingga era 70-an, Harlem merupakan “kampung” yang kehidupannya keras sejak dikuasai mafia Italia hingga gangster Afrika-Amerika.

Salah satu kisahnya bisa teman-teman simak melalui duet aktor kawakan peraih Oscar, Denzel Washington dan Russel Crowe dalam American Gangster yang disutradarai sutradara jempolan favorit saya, Riddley Scott.

Manhattan sendiri sebenarnya sebuah pulau kecil nyempil di ujung bawah negara bagian New York yang luasnya setara pulau Jawa, Madura, dan Bali digabung. Tapi pulau ini bisa dibilang inti utama dari kota New York. Diapit tiga sungai: Hudson, East, dan Harlem. Dan dulunya pulau ini milik Belanda yang akhirnya ditukar guling dengan pulau Run di Maluku yang dikuasai Inggris.

Siapa sangka pulau Manhattan yang ditukar dulu itu, kini sangat modern, gemerlap, dan mahal. Tampaknya Belanda sering apes dalam hal tukar-menukar ini. Setiap wilayah yang dilepasnya, jadi lebih gemerlap di masa depan. Seperti juga pulau Singapura yang ditukar dengan Bengkulu.

Manhattan Island ini wilayahnya dibagi tiga. Upper, Midtown, dan Lower Manhattan. Upper karena dia di utara, kalau dilihat di peta posisinya di atas. Orang lokal menyebutnya Uptown. Jadi ingat lagu hits awal tahun 2000-an dulu, Uptown Girls.

Saat itu ngetop karena dinyanyikan Westlife, yang di-remake dari lagunya Billy Joel. Dan lagu itu memang berkisah tentang pemuda kelas menengah dari Long Island, New York yang naksir seorang gadis kaya di Uptown Manhattan.

Menyusuri Manhattan

Sedangkan Lower Manhattan, bisa dibilang inilah jantungnya pulau Manhattan. Pusat bisnis dan finansial ada di sini. Sebut saja Wall Street. Gedung-gedung pencakar langit banyak ngumpul di area ini, selain di Midtown. Termasuk menara kembar World Trade Center yang runtuh dihantam dua jumbo jet pada 9 September 2001 itu juga di sini.

Sementara di Midtown, gedung-gedung yang cukup terkenal di dunia berdiri tegak di sini. Misal Empire State Building yang saya ingat ketika King Kong menek sampai pucuknya saat nonton filmnya. Atau kantor pusat PBB, yang gambarnya banyak muncul dalam buku pelajaran IPS ketika SD dulu.

Pergelaran Teater Broadway

Atau tempat pergelaran teater yang sangat terkenal: Broadway. Yang letaknya berdekatan dengan Time Square, yang kapan itu viral karena Spotify pasang video reklame gambar anak Jakarta Barat yang berkarir di Amerika, Rich Brian.

Dan di tengah-tengah pulau Manhattan terhampar “hutan” hijau seluas 341 hektar. Hutan luas yang tenang ini, yang sehari-hari dilewati pejalan kaki, atau pesepeda dan orang olah raga lari, pernah dirusak ketenangannya oleh sedan taksi kuning yang melaju kencang menerjang rumput indah di tengah-tengah taman. “Orang gila” yang mengemudi di dalamnya tak tanggung-tanggung. Adalah aktor Samuel L. Jackson bersama Bruce Willis! Tentu saja itu adegan dalam film Die Hard 3.

Tata kota di Manhattan hampir sama seperti kota Philadelphia yang pernah saya kisahkan dalam dua tulisan sebelumnya. Pulau ini dibelah jalan yang membujur dari utara ke selatan yang disebut Avenue. Dimulai dari timur bernama 1st Avenue sampai 11th Avenue di Barat. Tapi di tengah-tengah, tidak ada 4th Avenue, yang ada adalah Lexington Avenue, Park Avenue, dan Madison Avenue.

Ribet? Pokoknya Avenue itu yang dari utara ke selatan. Lalu yang melintang dari barat ke timur dinamai Street. Bermula dari 1st Street di bawah/selatan, sampai 228th Street di atas/utara. Kalau tiap Avenue dan Street ini ditarik garis, pulau Manhattan terlihat grid kotak-kotak. Itulah blok.

Menyusuri jalan-jalan di Manhattan tidak akan ada habisnya. Bagi saya, setiap sisi menarik. Dan butuh waktu lama. Apalagi kalau seluruh New York City yang mencakup Brooklyn, Bronx, Long Island, dan Queens di mana banyak orang Indonesia tinggal.

Ziarah Columbia

Maka dari itu, ziarah ini saya fokuskan di kampus Columbia University saja. Kampus yang tua. Sedikit lebih tua dari usia negara Amerika. Universitas yang termasuk Ivy League. Sangat bergengsi. Tapi sayang, bagi saya warna almamaternya kurang sip. Biru muda.

Saya dua kali ziarah ke sini. Yang kedua di tahun 2019 lalu. Bersama istri mengunjungi teman di Connecticut dulu, yang sedang menempuh studi doktoralnya di sini. Kali ini saya datang sedang akhir musim panas. Menjelang masuk tahun ajaran baru. Umbul-umbul biru muda mendominasi di sana-sini.

Artikel lain mengenai ziarah kampus, dapat dilihat di Ziarah Kampus Hingga Ke Temple University (Part 2)

Ada sebuah tradisi di sana. Ketika mahasiswa baru tiba, mereka diantar orang tua dan keluarganya. Saat mobil memasuki gerbang utama kampus, mereka disambut sorak sorai sambutan selamat datang para senior. Ramai sekali.

Dari tujuh kampus yang dicoba istri saya saat mendaftar masuk untuk kuliah S3 kemarin, ada lima kampus yang menerimanya. Dan yang dua lainnya belum berhasil ditembus. Salah satunya Columbia University ini.

Kalau misal ketika itu diterima dan pilihan dia jatuh ke kampus ini, ya setidaknya istri saya selain jadi satu almamater dengan Profesor Azyumardi Azra, dia akan menjadi alumni bersama tiga presiden Amerika: Theodore Roosevelt, Franklin Delano Roosevelt (FDR), dan Barack Hussein Obama. Atau juga eyang terkaya dunia, Warren Buffet. Dan minimal akan masuk daftar alumni bersama Cinta Laura dan Tasya Kamila. Hehe.

Adapun bagi saya yang tidak bakat dan nggak hobi sekolah ini, ziarah ke Columbia University saja sudah cukup. Khayalan saya akibat catatan harian Profesor Azra menjadi kenyataan saja sudah menyenangkan. Mungkin kalau ada catatan hariannya Elon Musk, bisa deh saya baca-baca. Siapa tahu bisa beneran ke planet Mars.[]

Penulis: Jamal Jufree Ahmad