Cita, Cinta dan China

419
Photo by freestocks on Unsplash

Oleh: Ahmad Syaifuddin Zuhri

China atau Tiongkok, siapa yang tak kenal atau tak tahu negeri ini. Sering kita lihat di film-film kungfu yang tayang di Televisi atau Bioskop. Atau, coba cek barang-barang yang kita pakai sehari-hari seperti ponsel, laptop dan lain sebagainya. Hampir bisa dipastikan itu Made in China.

Negeri yang penduduknya terbesar di dunia dengan penduduk sekitar 1,3 milyar jiwa itu. Saat ini menjadi magnet dalam segala hal. Baik dari segi kemajuan teknologi, ekonomi, politik dan sebagainya. Membayangkan saja sudah bikin geleng-geleng kepala. Apalagi bisa merasakan dan melihat langsung perkembangan negeri tersebut.

Melihat dan menyaksikan langsung kemajuan negeri itu. Adalah keberuntungan tersendiri bagi saya. Ya, saya sangat bersyukur. Karena termasuk salah satu orang yang beruntung bisa mengenyam pendidikan hingga ke China, Gratis pula.  Bagi saya sebagai wong ndeso ini. Bisa kuliah S1 aja dulu adalah sebuah anugrah yang sungguh luar biasa. Kesempatan langka. Bahkan mungkin super langka. Ya langka duitnya, ya langka waktunya, Karena harus membagi waktu.

Apalagi dapat beasiswa kuliah ke luar negeri. Bagiku dulu hanyalah sebuah hal yang mustahil bin mustahal. Alias hanya mimpi belaka, di samping terlalu jauh, tentunya butuh banyak biaya.

Lalu, kok bisa hingga ke negeri China?, mulai kapan dan ngapain aja disana? Habis lulus terus ngapain?. Sabar dikit ya mas bro, begini cerita versi pendeknya. Simak baik-baik hehe

Alkisah, saya dilahirkan di Lamongan, Jawa Timur. Usai lulus dari MTs (SMP) di sebuah pesantren di Lamongan, Saya merantau ke Semarang, Jawa Tengah. Merantau bersama keluarga dengan membuka usaha warung makan khas Lamongan.

Mendiang ayahku waktu itu hanya bisa mendukung dengan doa dan memberi “warisan” warung makan di atas trotoar. Di pinggir jalan di Kota Semarang. Untuk dikelola bersama saudara lainnya. Sebagai modal untuk hidup sehari-hari hingga sekolah. Pagi sekolah, sore mendorong gerobak. Membuka warung tenda hingga tengah malam. Saya menjalankannya hingga lulus kuliah S1. Ini bukan sinetron atau reality show, tapi the real of reality lho hehe.

Karena tidak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Di sela-sela kuliah, Sayapun nyambi ikut aktif di dunia organisasi kemahasiswaan. Ekstra maupun intra kampus. Hingga mengantarkanku menempati posisi puncak organisasi di BEM Universitas. Bagi saya, kuliah adalah sarana belajar apapun. Belajar akan banyak hal, serta ajang mencari pengalaman sebanyak mungkin.

Usai mengakhiri jabatan sebagai ketua BEM Universitas, Sayapun aktif di organisasi Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA JT) di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang. MAJT adalah salah satu masjid terbesar di Indonesia.

MAJT sering mendapat kunjungan tamu pejabat atau wisatawan asing dari negara-negara sahabat. Dari sinilah perjalanan saya kuliah ke China bermula. Pada 2011, MAJT menjalin kerjasama dengan Kedubes China di Jakarta. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah pertukaran pelajar. Singkat kata, saya termasuk yang lolos dalam seleksi beasiswa tersebut bersama delapan santri lainnya. Kami diterima di Nanchang University, Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, China. Kami mendapat beasiswa penuh selama empat tahun. Satu tahun pertama belajar bahasa Mandarin, tiga tahun berikutnya kuliah S2.

Cita dan Cinta

Selama belajar di China, Sayapun belajar banyak hal. Tidak hanya puas di dunia perkuliahan, tetapi juga di luar kampus. Bersama teman-teman lainnya mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Nanchang. Hingga menjadi Wakil Ketua Umum PPI Tiongkok Pusat periode 2013-2014.

Kuliah di China juga memberiku berkah yang lain. Alhamdulillah, menemukan sang belahan hati di kampus yang sama. Perempuan asal Klaten, Jawa Tengah, yang sedang studi S2 Manajemen Perusahaan. Jauh-jauh ke China, tapi saya tetap cinta produk lokal hehe. Dan menikah di sela studi pada tahun 2014.

Dokumentasi Pribadi

Tahun 2015, Menjadi momen yang sangat bersejarah bagi kami, kan sudah nih ceritanya, ehm ehm. Setelah tiga tahun menempuh studi S2. Usai lulus dari China, tantangan ada di depan mata: mengaplikasikan ilmu yang kita peroleh untuk bangsa dan Negara.

Saya bersyukur mendapat kesempatan belajar di China. Sejak awal, sebagai santri, harapannya cuman satu, ilmu yang berkah dan bermanfaat.

Alhamdulillah, usai lulus dan pulang ke Semarang. Mendapat peluang dan penawaran dari beberapa kampus untuk menjadi pengajar. Khususnya dari beberapa kampus di Semarang, Surabaya,Baik negeri ataupun swasta dan terakhir di Jakarta. Akhirnya dengan banyak pertimbangan, pilihan jatuh ke salah satu PTN di Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di Jurusan Hubungan Internasional sejak awal 2016.

Dan sayapun memulai berpetualang mengabdikan ilmu di belantara Jakarta. Wong ndeso ke kutho. By the way, ngomongin lulusan China setidaknya mempunyai dua kelebihan. Pertama, mendapatkan ilmu yang sesuai disiplin ilmunya, dan kedua, setidaknya bisa menguasai budaya dan bahasa Mandarin. Saat ini, peluang lulusan China banyak sekali dicari dan dibutuhkan dimana-mana.

Di sela mengajar di Jakarta dan aktif di organisasi, secara mandiri, saya sering ke daerah-daerah khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. khususnya komunitas pesantren. Berbagi motivasi ke santri-santri supaya bisa belajar tinggi. Dan tak lupa, berbagi tips beasiswa ke China.

Bagi saya, itu adalah salah satu wujud pengabdian diri ke masyarakat dan negeri. Demi kemajuan masa depan bangsa ini.

Kembali ke China

Mumpung masih muda, kembali lagi ke China. Tahun 2016, istriku yang pernah nyantri di Solo dan Malang itu, mendapat beasiswa lanjut PhD di Chingqing University, Chongqing, China. Pada tahun 2018, sayapun menyusul ke China dengan mendapat beasiswa yang sama, dari program China Government Scholarship. Walopun sama-sama di China, kampus kami berjarak sekitar 1000 km. Dia di kota Chongqing, saya di Wuhan.

Dokumentasi Pribadi

Di sela kuliah, kami aktif berorganisasi di PCI NU Tiongkok. Selain itu, Istriku juga mengajar kelas pilihan Bahasa dan Budaya Indonesia di program master Central China Normal University (CCNU) Wuhan. Semua mahasiswanya berkewarganegaraan China.

Dulu waktu dia selepas lulus S2, di sela mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Wahid Hasyim Semarang, dia sempat mengajar bahasa mandarin di beberapa kampus dan tempat lainnya.

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”

Tulisan dan cerita singkat ini kami bagikan semoga bisa bermanfaat dan menambah semangat. Terus mengejar mimpi. Demi masa depan lebih baik di negeri ini. Sabar, ikhlas, dan yakin pada sang Kuasa Ilahi. Insya Allah semua apa yang kita harapkan akan tercapai.

Mahasiswa PhD Hubungan Internasional, Central China Normal University (CCNU) Wuhan