Cigedang dan Ritus Lebaran yang Mulai Hilang

287
lebaran
Sumber Foto Indozone.id

Tahun ini nuansa lebaran begitu cepat lebur. Pelarangan mudik, pemangkasan jumlah hari libur dan seruan menjaga jarak di tengah pandemi, bisa menjadi beberapa sebab mengapa suasana lebaran tidak lama terjaga. Ritus yang merawat tradisi dalam tiap tahunnya juga terasa makin redup.

Kita telah Menjadi Asing di tanah Leluhur Sendiri

Tumbuh besar di perantauan lantas menikmati lebaran di kampung halaman ternyata tidak sesederhana saat kita masih belia. Makin tua, lebaran di desa kian tak mengenal siapa-siapa. Kata Rendra, dalam bait puisinya yang melegenda “Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri”.

Baca juga: Membangun Kesalehan Sosial setelah Puasa Ramadan

Lebaran bagi saya selalu menyisakan getir dan menyimpan bermacam pertanyaan. Lewat momen ini, barangkali dua budaya antara kota dan desa saling bersilang. Beberapa budaya baru tumbuh, risikonya, tidak sedikit dari budaya lama yang hampir hilang.

Menghindari bahasan tentang lebaran yang luas, saya ingin bercerita singkat seputar pertanyaan untuk desa dimana saya dilahirkan: Cigedang, hamparan bumi asri seluas 17.8065 M2 di timur Kuningan.

Di luar tekanan sosial yang menghinggapi, terlihat beberapa ritus yang mulai tidak diperhatikan anak muda sekarang. Misalnya saya kerap bertanya, mana yang mesti lebih dulu dilewati sepulang shalat Ied mulai dari menikmati hidangan — yang kadang berlebihan, nyekar pemakaman, silaturahmi sungkeman atau justru jalan-jalan.

Menyediakan hidangan yang istimewa di hari lebaran memang sudah menjadi ihwal yang wajib. Tapi apakah hidangan itu disediakan untuk penghuni rumah saja atau dengan tamu sekalian. Kalau memang hanya untuk satu penghuni rumah, mengapa hidangan disediakan terlalu berlebihan dan dijajarkan semua di meja tamu dan ruang makan. Bila memang untuk tamu, bukan kah di setiap rumah mereka sudah menyiapkan hidangan yang berlebihan juga.

Kedua, soal nyekar pemakaman. Masih cukup banyak anak muda sebagain gelintirnya memadati pemakaman, meski terlalu didominasi oleh orang tua. Kadang saya iba melihat hanya seorang perempuam atau lelaki sebaya membawa air bunga sendirian di tepi kuburan, tanpa didampingi oleh keluarga lainnya.. Kemana kaula muda mereka di tempat nenek moyangnya berselimut tanah untuk dihaturkan do’a.

Sementara untuk silaturahmi sungkeman, di desa saya sendiri, sudah jarang lagi melihat anak muda bergerombol di belakang keluarganya mengunjungi rumah sanak kerabat. Beberapa teman sebaya justru lebih memilih meringkuk di kasur meneruskan tidur sebab malamnya sibuk mabuk kepayang takbiran.

Lantas kalau tidak bersama orang tua, tidak menjamin pula kan si anak muda ini kelak yang berputar mengunjungi kerabatnya seorang diri. Ada pula anak kecil yang dibiarkan jajan di pinggir jalan bersama teman-temanya saja tanpa mengikuti orang tuanya. Padahal kan itu momentum mendapat angpau lebaran.

Idul Fitri bagian dari Menziarahi Nostalgia

Saya kerap berfikir, di hari lebaran, apakah ritus seperti ini hanya milik orang tua saja? Kalau andaikan iya, bagaimana mungkin anak mudanya bisa mengenal rumah kerabat dan saudara jauh yang mesti mereka kunjungi bila hanya sibuk seorang diri dan mendengkur di atas kasur.

Saya kira untuk ritus seperti itu anak muda mesti melibatkan diri juga, meski memang mereka kerap berlaku semaunya sendiri. Sebab habitus seperti ini tak akan kita jumpai di sekolah atau di perkuliahan.

Bila terus menerus demikian, ke depannya mungkin lebaran tak lagi mengundang magnet dan kehilangan nilai budayanya. Maka gelombang mudik ke depan mungkin akan kian menurun tahun demi tahun. Kalau memang habitus seperti itu hanya sebagian masyarakat yang mempraktikan, lantas buat apa bila sebagian lainya hanya sibuk memperhatikan? Bukan kah kita sama-sama memiliki kerabat dan saudara dan lebaran di hari yang sama?

Yaa mau bagaimanapun itu, Hari Raya memang hak semua bangsa dan tentu saja menyimpan kebebasan hak bagaimana cara merayakannya. Saya sendiri, ketika lebaran di kampung halaman, masih mencari-cari rekaman masa lalu tentang nilai budaya di desa, desa saya sendiri tentunya. Lewat pertanyaan kepada orang tua atau mungkin kerabat, idul fitri selain ajang silaturahmi akbar juga bagian dari menziarahi nostalgia mereka untuk dilempar pada anak-anak muda.

Penulis: Ali Nur Alizen