Cerita Anak Rantau di Negeri Napoleon

622
Photo by Mitchell Henderson on Unsplash
Ilustrasi/Photo by Mitchell Henderson on Unsplash

Oleh:Muhammad Fahri Kholid
(Mahasiswa Université Lumiére Lyon 2)

Teringat perkataan Imam Syafi’i, bepergianlah (mencari ilmu) maka kau akan mendapatkan kemuliaan dan teman-teman yang mulia”. Masa perantauan adalah saat yang sulit sebab ia mempunyai rintangan tersendiri, tetapi dari situlah belajar memahami dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Ketika merantau semakin jauh dari kampung halaman, semakin banyak pula ilmu dan teman yang akan didapat. Di negeri Ayam Jago ini, saya belajar berbagai macam hal, bukan hanya keilmuan yang ada di kampus, tetapi juga mendapatkan pelajaran yang paling berharga selama saya tinggal di sini, bahwasanya kekeluargaan dalam perantaun memanglah sangat penting bagi para perantau.

suatu hari di musim dingin ketika saya sedang berada di dalam masjid, saya didatangi oleh beberapa orang yang menanyakan keberadaan saya.

“Di sini bersama siapa, keluarga?” tanya salah seorang dari mereka

saya pun menjawab, “saya sendiri di sini, tidak bersama keluarga, hanya bersama teman.Pria paruh baya itu lantas menjawab dengan perkataan yang meluluhkan hati,

“ketika kau berada di sini, teman adalah keluarga dan saya juga keluarga kamu, saat saya kesini saya juga seperti kamu sendiri tidak ada keluarga”.

Tidak di masjid saja saya menemukan hal seperti itu, bahkan ketika saya memenuhi undangan makan bersama teman-teman, banyak dari mereka mengatakan kita semua saudara di sini, pada awalnya saya kira itu hanya sebuah basa-basi saja, ternyata memang benar, sering sekali mereka membantu saya dalam pelajaran saat kuliah, tidak hanya dalam pelajaran, bahkan membantu dalam banyak hal layaknya keluarga.

Teman adalah keluarga, keluarga tidak harus sedarah itu juga ungkapan yang memang benar adanya ketika hidup dalam perantauan, jika tidak ada mereka siapa lagi yang ingin membantu kita saat kesusahan.

Seperti misalnya salah satu WNI yang sudah lama menetap di kota Lyon, beliau menjelaskan bagaimana hidup di dalam perantauan dengan segala kesusahannya saat awal perjalanannya, baginya semua masyarakat Indonesia dari semua kalangan yang berada disini adalah keluarganya.

Beliau sendiri sering mengadakan pengajian rutin setiap bulan di kediamannya bersama masyarakat Indonesia, jadi disana para perantau bisa saling bertemu dan melepas rasa rindu mereka akan kampung halaman, dan bagi suaminya pertemuan ini sangat penting, bukan hanya untuk mencari ilmu agama, tetapi juga bisa saling membantu jika ada salah satu dari mereka yang kesusahan untuk mengurusi proses administrasi, hingga masalah-masalah sehari-hari.

Selain menghadiri acara pengajian dan hari raya, masyarakat Indonesia yang disini juga sangat Aktif mengadakan acara tahunan yang dikenal dengan Fête de Culinaire d’Indonésie atau Pesta Kuliner Indonesia, acara ini salah satu pengabdian warga negara Indonesia untuk memperkenalkan masakan nusantara serta budaya kepada rakyat prancis, dari acara ini, kita bisa mempererat tali silaturahim antar warga negara.

Pemerintah kota Lyon pun juga mengadakan acara yang tidak kalah seru setiap tahunnya kepada seluruh warga internasional yang menetap di Lyon, Fête de Banniére ajang dimana organisasi setiap masing-masing negara menunjukkan budaya mereka kepada masyarakat sekitar, dengan segala persiapan yang telah ada, Persatuan Pelajar Indonesia dan warga Indonesia mengikuti acara tersebut guna memeriahkan dan menunjukkan kekayaan budaya yang kita miliki.

Dari segala macam acara yang telah dilewati di kota cahaya prancis sebagai julukan kota Lyon, saya merasakan sebuah kekeluargaan antar warga negara indonesia di negri rantau ini.

Bukan hanya negara Indonesia saja yang mengadakan berbagai macam acara untuk menyatukan kebersamaan, warga negara asing pun selalu membuat acara perkempulan sesama mereka, misalnya saja perkumpulan Amical Turquie, Amical Portugais, Amical Syirienne, dan negara lainnya, biasanya mereka menyewa sebuah aula untuk mereka mengadakan pertemuan kekeluargaan.

Sudah sewajarnya bagi kita sebagai minoritas mengadakan perkumpulan untuk saling menjaga satu sama lain, membantu sama lain dan sebagainya.

Menurut beliau yang sudah bertahun-tahun menetap di Prancis, kunci dari itu semua adalah kepedulian, jika ada yang sakit kita harus menjenguknya, bukan hanya berkumpul-kumpul saja saat senang, tetapi juga harus dalam keadaan susah, pengorbanan waktu, tenaga itu juga patut di pertimbangkan dan tidak lupa untuk saling memahami satu sama lain, karena setiap orang mempunyai kesibukan masing-masing.

Kendala sudah pasti terjadi dalam membangun sebuah keharmonisan dalam kekeluargaan ini, semua itu tidak bisa dipungkiri bagi siapapun, tetapi bagaimana cara kita menyelesaikannya itu yang paling penting, biasanya WNI disini berbicara baik-baik untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.

Dari semua itu, memang perkataan Imam Syafii bisa dibuktikan ketika kita dalam perantauan. Jika memang niat kita baik disini, insyaallah rezeki itu akan datang. Karena rezeki tidak harus selalu yang bernilai uang. Teman baik dan pengalaman juga sebuah rezeki yang bahkan tidak ternilai harganya dengan apapun.