Bulan Suci Ramadan; Waktu yang tepat untuk Riyadhoh

152
ramadan
Sumber Foto Merdeka.com

Bulan Ramadan menjadi saat yang selalu dinanti-nanti bagi setiap orang karena berbagai keutamaannya. Berbagai dalil menyebutkan keistimewaan bulan puasa yang sangat menguntungkan bagi orang-orang yang beriman dan melaksanakan amal saleh.

Keutamaan bulan Ramadan bagi umat Islam sangatlah besar. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh muslim. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan.

Sebelum membahas bulan ramadan secara mendalam, kita bahas terlebih dahulu keutamaan dua bulan sebelum ramadan yaitu Rajab dan Sya’ban, karena kedua bulan tersebut mempunyai keutamaan yang menarik untuk kita bahas sebagai sajian pembuka.

Bulan Rajab, Proses Awal untuk Ber-Takhalli

Sebelum kita memasuki bulan suci ramadan kita terlebi dahulu menjalani proses penyeleksian selama dua bulan mulia, yaitu Bulan Rajab dan Sya’ban. Pada bulan rajab kita diharuskan memperbanyak istighfar dengan harapan agar dosa dan kesalahan kita diampuni Allah SWT karena harus kita akui bahwa semua manusia tidak luput dari salah dan lupa.

Membaca istighfar merupakan suatu proses awal sebelum memasuki ramadhan yaitu kita menjalani prosesi pembersihan diri (Takhalli) agar kita terbebas dari apa yang menjadi penyebab dosa dan kesalahan serta kita pun juga dilarang untuk mendzalimi diri kita dengan berbuat maksiat yang menjadi penyebab kita sulit untuk beribadah.

Bulan Sya’ban, Perbanyak Membaca Shalawat dengan maksud Ber-Tahalli

Lalu masuk ke Bulan kedua yaitu bulan sya’ban, di Bulan ini kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan proses kedua setelah kita melakukan “pembersihan” diri dan jiwa. Pada tahap ini kita mulai membiasakan diri dengan menjalani laku yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan menjalankan segala sunnah-sunnah nya.

Dengan kita menghias diri (Tahalli) terhadap apa yang dijalankan oleh Rasullah SAW maka segala apa yang kita lakukan akan bernilai ibadah dan kebaikan karena yang kita contoh dan dijadikan teladan adalah “Sebaik-baik Makhluknya Allah SWT”.

Bulan Ramadan, Hadiah untuk Umat Rasulullah SAW

Setelah kita melewati dua bulan mulia seperti rajab dan sya’ban, kita akan memasuki “Madrasah Ramadan”. Lulusnya kita dari seleksi di dua bulan yang sudah kita lewati, itu tergantung pada diri kita masing-masing.

Jika memang kita mampu menyelesaikan proses seleksi di bulan rajab dan sya’ban, maka ketika kita masuk di bulan ramadan sudah tak ada lagi keluh kesah karena lapar dan haus, yang ada hanyalah semangat untuk beribadah kepada Allah SWT dengan meningkatkan amaliah selama dua bulan sebelumnya.

Dalam suatu hadist rasulullah SAW bersabda yang artinya: Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan puasa di bulan itu kepada kamu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terhalangi. (HR. Imam Nasa’i)

Dari hadist diatas dapat kita pahami bahwa keutamaan bulan ramadan sangatlah luarbiasa, dimana pada bukan ramadan pintu-pintu langit dibuka kemudian pintu-pintu neraka ditutup bahkan setan-setan juga dibelenggu, dalam hadist lain juga dijelaskan bahwa segala amal baik akan dilipatgandakan bagi umat islam yang melakukan kebaikan.

Tujuan Akhir Ber-Tajalli

Setelah selesai, kita akan ber-Tajalli yaitu keadaan spiritual yang merasa segala apa yang ia lakukan selalu berada dalam pengawasan Allah SWT, Ber-Mukasyafah yaitu tersingkapnya hijab yang mengahalangi cahaya Ilahi untuk sampai ke hati, dan tujuan akhirnya adalah Ber-Makrifat, yaitu hasil dari proses panjang dari penyucian jiwa sehingga ia benar-benar mampu mengenal tuhannya.

Setelah melewati pembersihan diri dan menghias diri, maka segala apa yang ia telah lakukan menjadi suatu kebiasaan dan ketika ia tak melakukan atau melenceng dari apa yang telah ia amalkan, maka ia akan merasa bersalah dan menyesalinya karena ia merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap situasi dan kondisi.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita dapat berlomba-lomba dalam beribadah dan melakukan kebaikan di madrasah ramadan ini. Agar kelak setelah selesai di madrasah ini, kita mendapatkan gelar “Mukmin” yaitu ia yang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang kuat terhadap apa yang diajarkan oleh agama. dengan predikat “Muttaqin” yaitu ia yang mampu mempertanggung jawabkan segala apa yang ia lakukan dengan standarisasi agama dan menjaga kode etiknya sebagai mukmin. Amiin

Penulis: Muhammad Dzikri Yudasmara
(Sekretaris PAC GP Ansor Mampang Prapatan)