Buku

810
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Oleh : Hijrah Ahmad

(Kopitalis Akut, Koki di Emirbooks)

 “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” – Milan Kundera

Sudah sejak lama umat manusia selalu berkeinginan untuk mendapatkan dan juga menyebarkan informasi atau pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain. Sayangnya, keinginan itu belum dapat dibarengi dengan teknologi yang canggih sehingga biasanya, informasi hanya dapat disampaikan secara tutur atau diceritakan turun-temurun, dari mulut ke mulut, dan ini membutuhkan ingatan kuat yang ditampung oleh si pencerita. Tentu, jika ingatan si pencerita pudar, atau bahkan ia meninggal, tentu informasi itu ikut terkubur tak berbekas. Kesulitan berjamaah itu kemudian melahirkan ide-ide baru dalam hal mengabadikan sebuah informasi.

Maka lahirlah orang-orang mesir yang mulai menuliskan simbol-simbol informasi di lembar daun Papyrus. Bangsa Cina yang menuliskan sejarah para kaisar dan orang-orang suci di atas potongan kayu dan bambu, dan orang Timur Tengah yang menulis di potongan kulit domba yang atau kulit binatang lainnya.

Teknologi ‘kertas’ lalu pertama dibuat oleh bangsa Cina sekitar tahun 105 Masehi. Awalnya terbuat dari serat bambu, lalu diteruskan dengan jenis kayu lainnya. Inilah kebangkitan awal bangsa Cina yang berhasil menjadi negara pengekspor kertas ke hampir semua belahan dunia.

Sejak buku dikenal, umat manusia dapat dengan mudah memeroleh informasi-informasi penting dalam jumlah yang banyak. Dalam masa selanjutnya, kemajuan ini dibarengi pula dengan dibuatnya mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, industri buku semakin menguat ketika mesin komputer memberikan kemudahan untuk melakukan setting (menyusun huruf) dan layout (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner, dan juga printer laser. Maka jadilah buku dengan desain yang lebih mutakhir seperti sekarang ini.

Buku merupakan salah satu media dalam menyampaikan suatu ide, gagasan, informasi, dan ilmu pengetahuan. Sebagai perangkat yang mampu mereproduksi informasi dari penulis ke pembaca, buku tak hanya menciptakan ruang dialogis antara penulis dan pembaca, namun juga menjadi semacam prasasti abadi di mana sebuah informasi atau pengetahuan dapat disimpan bahkan berabad lamanya.

Seiring dengan terbukanya media informasi teknologi dunia, pasar buku mulai merambah ke berbagai negara. Lalu lintas penerjemahan buku asing pun menjadi salah satu aktivitas tersibuk di dunia ini. Banyak buku-buku asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—begitu pun sebaliknya, sehingga ruang pertemuan kebudayaan terbuka dan tak terelakan.

Digital yang Memberangus Fisik?

Tak terelakkan, teknologi yang berlari cepat turut memacu jantung umat manusia untuk juga berlari cepat. Siapa pun kini dapat memeroleh akses informasi tanpa batas. Walhasil, ’barang’ dengan teknologi lama tak lagi diminati, mereka mundur perlahan dan mati tanpa perlawanan. Lihatlah kini koran dan majalah fisik, jika bicara bisnis, mereka jelas sudah terkapar tak berdaya.

Bagaimana dengan buku pelajaran? Dunia digital tak melulu menjadi ancaman serius bagi industri fisik, jika ia mampu dimanfaatkan dengan baik, boleh jadi ia justru menjadi ”sahabat” yang bisa menopang industri fisik. Betul bahwa dunia digital sudah memberangus banyak hal. Ojol, toko online, CCTV, e-money, e-toll, aplikasi ini, aplikasi itu, dan banyak hal. Jelas nyata semua telah menggantikan barang lama. Begitu pun dengan buku. Buku-buku kini mulai menjelma ke dalam platform-platform digital, yang mudah diakses dan praktis. Tapi perlu diketahui bahwa untuk kasus Indonesia, industri buku fisik—terutama buku pelajaran sekolah—akan tetap ada mengingat gerak evolusi media atau alat pendidikan di Indonesia masih membutuhkan buku fisik sebagai sarana untuk belajar.

Besarnya minat pembelian buku digital—baik e-book atau audio digital—juga sudah dapat dilihat perkembangannya. Hal inilah yang kemudian membuat banyak Penerbit besar, di samping tetap menerbitkan buku fisik, mereka juga memulai mengembangkan format buku digital, meskipun dalam kenyataannya, jumlah produksi dan serapan pasarnya tidak lebih banyak dari jumah buku fisik. Namun, bisa jadi keadaannya dapat berubah sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi peningkatan pembelian buku digital, misalnya, dari segi harga tentu buku digital jauh lebih murah, selain itu pembeli juga lebih mudah mengaksesnya melalui aplikasi, misalnya di googlebooks atau googleplay books. Peminat buku digital juga bisa mengaksesnya langsung ke platform yang disediakan oleh Penerbit langsung. Namun, hal ini belum bisa menandakan bahwa pasar buku digital sudah benar-benar menggeser pasar buku fisik karena masing-masing memiliki pasar tersendiri. Tapi, tidak dimungkiri, dalam beberapa kasus, seperti koran dan majalah dan sejenisnya misalnya, para peminat produk-produk di atas kini mulai berhijrah ke format digital.

Dari sisi lemahnya, buku digital perlu diakses melalui komputer atau gadget (smartphone, tablet, dll) di mana alat-alat tersebut memerlukan daya listrik dan jaringan internet. Selain itu, dalam mengakses buku digital, seseorang cenderung memiliki akses jaringan lain (multilayer) yang membuatnya dapat saja tergoda untuk mengaksesnya, misalnya pembaca dapat saja menerima notifikasi e-mail, chat, media sosial, atau bahkan dengan sengaja membuka layanan-layanan tersebut.

Sebagai penutup. Mari bersama-sama tetap menjaga marwah buku sebagai sumber ilmu pengetahuan. Apa pun jenisnya, digital atau fisik, buku merupakan media untuk mengenal dunia yang luas. Satu lagi yang tak kalah penting, soal minat baca masyarakat yang rendah. Semoga berita-berita itu selalu menjadi cambukan bagi semua pihak untuk terus menggalakkan minat baca karena tentu siapa pun tidak ingin bangsa ini musnah hanya karena malas membaca buku.

(H.A. Ditulis dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional 17 Mei 2020)