Buku Penakluk Badai, Biografi KH. Hasyim Asy’ari

361
hasyim
Sumber Foto Alif.id

Novel karya Mas Aguk Irawan, seorang santri sekaligus sastrawan asal Lamongan ini mengulas tentang biografi hadratatussyaikh KH.Hasyim Asy’ari. Buku niscaya ini akan membuat air mata setiap pembaca menetes karena teringat perjuangan beliau dalam memperjuangkan agama dan bangsa ini.

hasyim
Cover Buku Penakluk Badai

Dimulai dengan kelahiran beliau yang memberikan berkah tersendiri di kalangan keluarganya, lantas tumbuh menjadi remaja dan memilih nyantri terpisah jauh dari kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kyai Hasyim mengakhiri masa lajangnya dan menerima perjodohan putri dari kiai Ya’qub, sosok kiai yang sangat dikaguminya.

Baca juga: Menikah Muda Lantas Putus Kuliah, Apakah Salah?

Kyai Ya’qub sendiri merupakan seorang pejuang dibarengi terus menerus menebar dakwah islam. Hingga suatu waktu beliau difitnah oleh penjajah Belanda atas paham yang dianutnya. Belanda khawatir dengan seruan dakwahnya yang mampu mengundang perhatian masyarakat akan menjadi ancaman di kemudian hari.

Dari Kyai Ya’qub ini barangkali yang menjadi pendorong semangat Kyai Hasyim bersedia terlibat andil melawan penjajah. Seruannya menjadi fatwa yang memantik para santrinya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peristiwa ini lantas dikenal dengan resolusi jihad. Tiap tahunnya pun kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional sejak lima tahun silam.

Tentang Berkah dan Ujian

Hidup Kyai Hasyim penuh dengan tungkus lumus yang tiada habis. Cobaan dan ujian tiba silih bersaing secara sporadis. Nafisah, istri tercintanya pergi meninggalkannya setelah melahirkan putra pertamanya Abdullah. Sementara selang 40 hari berlalu, buah hati yang ditunggu-tunggu selama sembilan bulan, juga pergi mendahuluinya.

Kesedihan berlarut dengan dipanggilnya orang-orang terkasih. Hatinya mungkin kalut, perasaanya remuk dan menyesakkan dada. Namun Kyai Hasyim bercermin pada kisah tauladan rasul. Kesedihannya belumlah sebanding dengan nabi yang mesti ditinggal pergi oleh dua orang yang menenemaninya berdakwah dalam waktu berdekatan. Aamul Huzn. Demikian tahun ini menjadi penanda bangkitnya nabi meski didera sesaknya cobaan, namun tak patah arang menebar seruan.

Selama menuntut ilmu, Kyai Hasyim berteman akrab dengan Kyai Ahmad Dahlan. Kang Mas kiai Dahlan atau Muhammad Darwis adalah putra dari seorang khatib Keraton Yogyakarta. Beliau merupakan teman seperjuangan kiai Hasyim ketika mengembara dan belajar bersama di pesantren kiai Kholil Bangkalan.

Keduanya merupakan figur ulama yang memberikan teladan ukhuwah dalam perbedaan, buktinya sebelum mendirikan Muhammadiyah, kiai Dahlan sering berkunjung ke ‘ndalem’ kiai Hasyim sekadar singgah untuk menyambung silaturrahmi demi kepentingan dakwah Islam dan mengentaskan umat dari kemiskinan dan penderitaan akibat kolonialisme.

Pesantren yang didirikan kiai Hasyim di Tebuireng memang dikelilingi dengan segala macam kemaksiatan. Baginya ini bukanlah soal. Lambat laun ia pun mampu mengakrabi suasana. Beliau juga akrab dengan kang mas Marto Lemu, orang yang paling disegani dan terkenal dengan kaya rayanya karena menyuplai tunggal minuman keras.

Kyai Hasyim tidak menyalahkan Marto Lemu sebagai salah satu dalang di balik gelapnya lingkungan sekitar. Beliau secara perlahan membuka interaksi bersama mereka, mengundanya pada seruan kebaikan dan mengingatkan untuk tidak berlebihan. Kyai Hasyim percaya di antara pemabuk di lingkungannya, masihlah memiliki akal yang waras. Ia berdoa, semoga dari mereka kelak dibukakan pintu hidayah. Semoga pada mereka pula dijembarkan pula jendela inayah untuk kembali mengenal ilahi rabbi.

Selama ini kebanyakan dari kita hanya disuguhkan buku-buku atau film-film tentang perjuangan beliau dalam mendirikan Nahdlatul ‘Ulama, organisasi masyarakat terbesar di Indonesia tanpa mengetahui seluk beluk kehidupan beliau dari masa kecil hingga tumbuh menjadi sosok kiai karismatik.

Tidak ada alasan para nahdhiyin untuk tidak membaca novel ini, tak lain dan tak bukan untuk meneladani beliau bukan dari sisi nasionalismenya saja, tetapi dari segala sisi baik ketaatan, ke-istikamah-an, ke-tawaduk-an, ketabahan dan keikhlasan, bukankah Rasulullah SAW diutus ke bumi ini juga untuk menyempurnakan akhlak manusia?

Juga semangat beliau dalam menimba ilmu agama, menurut beliau orang yang memperdalam ilmu agama laksana orang yang berenang di lautan, kian ke tengah dia berenang, laut itu tidak bertambah sempit, tetapi sebaliknya, semakin luas dan dalam. Tidak tampak olehnya pantai dan tidak dapat diketahui berapa lebar dan dalam laut di sekelilingnya.

Tulisan ini Pernah dimuat di Buntu Literasi
Penulis: Andhika Tiara