Bersyukur karena ber-Ramadhan di Inggris Raya

258
bersyukur
Photo by Aron Van de Pol on Unsplash

Pernahkan kita bersyukur sekali bahwa di Indonesia, lama puasa kita ‘hanya’ sekitar 13-an jam? Mulai sekitar jam 4, buka jam 6 sore di waktu WIB. Kecuali di masa pandemi, pernahkan kita bersyukur jika kita bisa buka puasa bersama dengan mudah di Indonesia? Masjid di mana-mana, dan acara bukber mana tinggal dipilih.

Tentu banyak yang mensyukurinya. Tapi, saya yakin, lebih banyak yang tak memikirkannya, menganggap itu hal biasa. Bahasa planetnya, take it for granted. Sebagian dari kita sudah mengeluh puasa di Indonesia lama sekali.

Baca juga: Ramadan sebagai Pesantren Kilat Kehidupan

Lamanya Puasa di Inggris Raya

Lamanya puasa di Indonesia memang bukan hal mudah untuk dijalani. Tetapi, sebenarnya yang lebih lama banyak. Banget.

Salah satunya di Inggris Raya ini. Di bulan Ramadhan 1442 H atau 2021 Masehi kali ini, puasa di Inggris beberapa jam lebih lama daripada di Indonesia. di London, tempat saya tinggal, kami berpuasa mulai dari jam 4, hingga pukul 20.30 malam.

Ya, benar, jam setengah sembilan malam baru buka puasa. Baru bedug! Di Indonesia, di Jakarta misalnya, di waktu tersebut, kita sudah asyik nongkrong bagi yang aliran selaw, atau bagi yang sholeh dan sholehah bertadarus.

Menjelang akhir Ramadhan, puasa akan makin lama. Sahur maksimal jam 3, sementara buka hampir jam 9 malam. Puasa maksimal pokoknya. Berat ya? Berat lah. Tapi karena sudah menjadi komitmen pribadi masing-masing, kami yang berpuasa di Inggris Raya ini dengan senang hati dan tetap bersemangat menjalaninya.

bersyukur
Suasana Ramadan di London

Namun, ini membuat saya pribadi menjadi lebih bersyukur bertahun-tahun bisa menjalani puasa yang konstan waktunya dan relatif tidak memberatkan. Ini juga pesan tersirat dari judul tulisan ini mengapa saya beri tanda kutip pada ‘bersyukur’. Sebab, saya sangat bersyukur bukan karena puasa di Inggris, tapi karena dulu dan nanti ketika pulang ke Indonesia, puasa jadi kembali ‘normal’, bagi saya pribadi tentunya.

Euforia Berpuasa di Inggris Raya

Berpuasa di Inggris Raya ini juga tak semeriah di Indonesia tentunya. Tak ada sahur keliling atau tadarus di masjid dengan memakai sound system ciamik. Di sini semua dilakukan di rumah masing-masing.

Seperti tak ada Ramadhan? Memang begitu. Muslim di Inggris adalah kaum minoritas. Jadi semarak Ramadhan tentu tak semeriah di Indonesia dimana kegiatan dan media offline dan online semua ber-aroma Ramadhan.

Tapi alhamdulillah komunitas muslim di tempat tinggal saya lumayan ada, tentu tidak banyak. Bersama dengan mereka, kami bertukar makanan pembuka puasa. Kami juga memasang ornamen bernuansa Ramadhan di tempat tinggal masing-masing.

Beberapa waktu lalu, kami mengirimkan makanan khas Indonesia, yakni nasi kuning dan kolak ke beberapa tetangga baik yang Indonesia maupun non-Indonesia, dan yang muslim maupun non muslim. Bagi yang muslim, kami sampaikan ini buat buka puasa tentunya.

Kebetulan tetangga kami, selain beberapa dari Indonesia, dari berbagai negara seperti Jerman, Kanada, Turki, dan Nepal. Nasi kuning dan kolak kami rupanya mendapat sambutan positif. Ibaranya, lidah mereka sepertinya benar-benar dimanjakan oleh makanan Indonesia.

bersyukur
Tulisan Ramadan Kareem di Jendela Rumah

Sekali lagi, ini semua saya maknai sebagai rasa syukur bahwa selama ini bisa merasakan semarak Ramadhan di Indonesia. Di Inggris Raya ini, saya sekeluarga pun menyadari bahwa tak mungkin Ramadhan kali ini dan beberapa selanjutnya akan semarak seperti di Indonesia.

Namun demikian, bukan berarti puasa jadi tidak semangat. Malah, ini kami jadikan momentum untuk aktif menjadi penyemarak bagi, setidaknya, Ramadhan kami sendiri.

Kami juga punya kesempatan mempromosikan Ramadhan dan juga Indonesia kepada masyarkat internasional. Ya setidaknya tetangga-tetangga kami yang orang-orang non-Indonesia. (*) – April 2021.

Penulis: Muhammad Rosyid Jazuli
(Mahasiswa Doktoral UCL University)