Berkhidmah: Cahaya Cemerlang dari Santri

148
Berkhidmah: Cahaya Cemerlang dari Santri
photo by keluhkesah.com

Menjadi seorang santri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan untuk semua orang. Seorang murid belum tentu kedudukan bisa dijuluki menjadi seorang santri. Akan tetapi seorang santri tentu secara otomatis telah menjadi murid pula. Sama halnya seperti murid pada umumnya, esensi menjadi santri adalah sebagai penuntut ilmu,

perbedaannya hanya terletak pada santri dibiasakan muqim (menetap dalam jangka waktu yang lama), sedangkan murid tidak. sehingga interaksi antara santri dan gurunya (kyai) lebih banyak dan dianggap efisien jika dilihat dari sudut pandang pendidikan. Tapi, selain kewajiban seorang santri untuk menuntut ilmu, ada satu hal lagi yang diperebutkan dan diperjuangkan oleh santri, yaitu berkhidmah.

Khidmah, sering juga disebut mengabdi, tentu bukanlah hal yang asing didengar bagi beberapa kalangan, khususnya kalangan santri. Umumnya santri yang ngabdi mempunyai tujuan untuk bisa mendapatkan suatu hal yang dianggapnya penting dalam belajar, seperti barokah dan manfaat ilmu. Ini sesuai dengan kalam ulama yang sering kita dengar. Mendedikasikan diri sepenuhnya kepada guru tentu bukan pilihan mudah, banyak pertimbangan yang sebelumnya dipikirkan secara matang.

Baca juga: Sholawat Munjiyat, Bacaan, Arti dan Manfaatnya

Al ‘ilmu bi ta’allum wal barakah bil khidmah. Ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan ilmu diperoleh dengan khidmah. Inilah salah satu slogan para santri dan asatidz di pesantren-pesantren. Slogan ini bukan sekedar slogan. Ia memiliki makna yang berusaha diwujudkan dalam proses pendidikan di pondok pesantren.

Bagian pertama tentu tidak asing di telinga umumnya anak-anak Indonesia. Mendapatkan ilmu memang harus dengan belajar. Tidak ada jalan lain misalnya dengan datang ke dukun meminta mantra-mantra tertentu untuk pintar, mandi kembang tujuh rupa, bertapa di kaki gunung, pakai contekan saat ujian, dan seterusnya. Semua itu mungkin membantu saat ujian, tetapi tidak menambah ilmu. Tidak ada cara lain mendapatkan ilmu kecuali dengan belajar. Ini bagian pertama. Namun, jarang ada yang meyakini atau berusaha mengamalkan bagian kedua.

Untuk memperoleh keberkahan ilmu harus dengan khidmah. Bagian ini berisi dua kata kunci, yaitu berkah dan khidmah. Agar ilmu yang telah dipelajari berkah, maka seorang penuntut ilmu harus berkhidmah.

Secara sederhana keberkahan ilmu dapat diartikan sebagai ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang telah dipelajari dengan susah-payah memberi manfaat baik bagi diri sendiri dan orang lain. Ilmu itu membawa manusia mendekatkan kepada Allah, bukan justru menjauh. Jika suatu ilmu menjauhkan manusia dari Allah, itu ciri ilmu itu tidak bermanfaat, walaupun ilmu itu misalnya, membawa kekayaan dan mengantarkan pelakunya kepada puncak popularitas.

Khidmah adalah satu satu cara meraih keberkahan ilmu. Khidmah dapat diterjemahkan dengan pengabdian. Jadi seorang penuntut ilmu adalah orang yang mengabdi, baik kepada gurunya, lembaga pendidikannya, atau kepada masyarakat pada umumnya.

Tujuan utama dari khidmah adalah untuk menciptakan hubungan batin yang kuat antara murid dengan guru dan mendapatkan keridhaan guru. Jika guru sudah ridha kepada murid, itu alamat sang murid akan berhasil. Keridhaan guru merupakan keberhasilan pertama murid.

Sebagai refleksi, banyak sekali tokoh-tokoh dan ‘ulama besar yang memperoleh kecemerlangan ilmunya karena berkhidmah. Salah satunya adalah kisah Ibnu Abbas ketika itu masih kecil juga berkhidmah terhadap Nabi dengan mengambilkan air ketika qodil hajat.

Setelah itu nabi mendoakan Ibnu Abbas: Ya Allah, Faqqihhu fiddin, ya Allah pandaikanlah dia (Ibnu Abbas) dalam urusan agama. Pada akhirnya, Ibnu Abbas tumbuh menjadi orang ya mufaqqih fiddin. Selain itu, banyak juga ‘ulama nusantara yang masyhur kisahnya karena khidmah terhadap gurunya, seperti khidmahnya Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari kepada Syeikhona Kholil Bangkalan.

Sudah tidak perlu diragukan bahwa berkhidmah menjadi salah satu bukti konkrit memperoleh kecemerlangan ilmu, yang dalam hal ini sangat jelas terlihat ketika santri tersebut sudah pulang dan terjun ke masyarakat.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)