Berkenalan dan Mengakrabkan Diri dengan COVID-19

583
Berkenalan dengan COVID-19
Photo by Alizée Baudez on Unsplash

Covid-19, siapa yang saat ini nggak kenal sama sesuatu yang viral dibicarakan baik di offline apa lagi online, tagarnya bermunculan di mana-mana dengan beragam tambahan kosa kata lain, bahkan saking viralnya menjadi buah bibir dari awal 2020 hingga saat tulisan ini ditulis, 25 Oktober 2020.

Banyak spekulasi yang muncul dari kehadiran si covid-19 ini, tapi dari pada pusing mikirin itu mending kenalan dengan si yang dijadikan bahan pembicaraan lebih dekat, ini nyata kok benar adanya, nggak percaya? Yuk, simak aku berbagi langsung.

Awal Perkenalan

Tepat 3 September 2020, sekitar jam 4 sore ada telepon dari RS Premier Bintaro mengabarkan bahwa saya (+) positif covid-19 dengan angka CT value 31,3 (angka yang kalau tidak salah ingat menunjukkan level keparahan virusnya di badan, semakin rendah semakin berbahaya efeknya).

Alhamdulillah angka itu masih dianggap gejala ringan terlebih gejala yang terlihat pada saya hanya “anosmia”, sebuah kasus hilangnya indera penciuman dan perasa di lidah.

Saat mengetahui kabar ini, sontak bingung, bengong, panik, mulai mencari siapa dan apa yang bisa disalahkan, tapi tak bisa.

Yuk kenalan dulu…

Sejak 18 Maret 2020 saya sudah bekerja WFH, maklum anak agency dan sebagai Digital Strategist Planner, situasi WFH malah menguntungkan.

Kantor saya Suitmedia Digital Creative & Technology sangat welcome dengan kebebasan dan fleksibilitas, juga karena memang kantor ini sudah ada peraturan bisa remote kerjaan 1x seminggu tanpa memotong jatah cuti.

Kesimpulannya saya di rumah aja, keluar cuma ke kedai kopi untuk beli take away dan pakai botol sendiri atau ke supermarket belanja kebutuhan bulanan.

Sebelum dinyatakan positif corona ini saya juga sempat ke toko buku untuk membeli beberapa barang dan dengan waktu yang singkat, jadi di mana kenanya ya? Nah, seluruh keluarga dan orang terdekat selama 14 hari sebelumnya juga ternyata (-) negatif, jadi di mana kenanya ya?

Pertanyaan “di mana kenanya ya?” selalu muncul sampe, kalau boleh jujur sampai mengganggu psikis, terlebih stigma negatif warga +62 yang menganggap aib orang yang kena covid-19, kan padahal korban.

Isolasi berjalan 14 hari, dengan 3 hari pertama selalu mendapat telemedicine dari RS Premier Bintaro. Ohya, saya test swab-PCR drive thru, jadi aman ya tesnya sendirian dan berarti nggak ada alasan menuduh orang sekitar rumah sakit.

Merasakan Gejala Awal COVID 19

Tepat 3 hari sebelum “anosmia” muncul, saya sempat sakit atau nyeri otot malam hari (Jumat, malamnya), badan hangat tapi hanya 36,7 derajat tidak sampai demam, tenggorokan sakit seperti radang dan pala pusing banget, malam itu hanya mencoba makan panadol dan decolgen, besoknya Alhamdulillah seger banget dan bahkan semangat untuk memberi sharing session kelas PraKerja.

Namun hal yang nggak bisa dipungkiri muncul hari minggu pagi, tiba-tiba masak nasi goreng tapi kok nggak kerasa apa-apa, bahkan mencium bau gosong dan asinnya pun tidak bisa nih, “wah sakit nih kayaknya”, ucapan yang tercetus hanya itu, mencoba tidur dan minum air putih saja.

Hari seninnya barulah sadar ada yang nggak beres, mencoba mencium semua hal, kok nggak kecium bahkan bau badan sendiri saja nggak ada, mustahil orang belum mandi seharian (haha).

Saat itulah teknologi sangat bermanfaat buat saya, saya konsultasi ke aplikasi halodoc dan ambil dokter umum yang pengalamannya 5 tahun. Saran pertama kali setelah saya menjelaskan gejala yang dirasa adalah “nggak mau swab pcr aja? Karena ada gejala anosmia, untuk memastikan saja”, sontak menyangkal dan nggak percaya nih bisa kena, orang hidup sehat, olahraga, tapi lupa kalau beberapa hari lalu sempat 1,5 hari nggak tidur karena lembur dan sudah 2 minggu nggak mengonsumsi vitamin apapun, rutin minum es kopi, makan sambel dan ya terlalu memforsir diri.

Pada hari ke 9 gejala awal, semua berangsur kembali normal, baik penciuman dan perasa lidah (khusus lidah tawar hanya 1 hari).

Aktivitas Selama Isolasi Mandiri

Nggak pernah kebayang hanya bisa di kamar aja selama 14 hari, jangan tanya kok isolasinya di rumah? Ini sudah rekomendasi dokter dan pihak puskesmas, kebetulan Alhamdulillah fasilitas rumah saya cukup, berlantai 2 dengan kamar mandi di luar tapi lantai 2 hanya saya yang isi, lalu di lantai itu juga ada mesin cuci dan tempat jemur, walaupun demikian tetap mencuci baju, piring harus sendiri dan direndam atau dibasuh air panas dulu, Alhamdulillah lagi fasilitas air hangat di kamar mandi saya ada.

Makanan dikirimkan orang rumah sampai di depan pintu dan siapa saja yang ke lantai 2 harus pakai masker, lalu handsanitizer ada 2 di beberapa titik juga spray disinfectant ada di kamar saya, kamar mandi, antara kamar saya dan kamar mandi, komplit deh kayak di wisma atlet.

Kerjaannya ngapain tuh di kamar selama itu? Nah kerjaannya adalah makan-tidur-netflix-tidur-makan, plus solat dan mandi tentunya plus mencuci-cuci, ngepel kamar sendiri, berjemur dan mencoba olahraga.

Gimana nggak mau olahraga, dikirimin perangkat olahraga sama temen-temen plus “bejibun” makanan juga minuman kesehatan, wajar lah ya kalau menggendut.

Di bawah ini hanya kiriman-kiriman yang inget didokumentasikan, sisanya sudah habis dilahap baru sadar.

Camilan adalah kekuatanku untuk tetap bertahan…
Abis ngemil jangan lupa olahraga lho…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agar Tetap Waras Saat Isolasi Mandiri

Banyak yang berpikir kena covid-19 itu aib, jadi memang lebih baik isolasi aja di kamar ya, tapi itu nggak juga bikin makin sehat malah tertekan.

Hal yang bisa membuat penderita covid-19 lebih waras salah satunya adalah memberikan mereka perhatian, baik secara langsung dengan mengirimkan sesuatu atau menghubungi mereka via video call atau cuma sebatas telepon biasa, karena penderita covid-19 juga harus berjuang memulihkan dan memperkuat imunitas serta menghindari stres, gimana caranya tubuh biar nggak stres apa lagi melihat pemberitaan di media, mikirin pandangan orang sekitar, pasti akan lebih tertekan.

Beruntung lah kita ada di zaman serba digital, karena memudahkan saat hal seperti ini terjadi, tanpa merasa bersalah pada diri sendiri karena khawatir takut menularkan atau tertular.

Komunikasi adalah hal yang perlu dilakukan sesering mungkin bagi penderita positif covid-19, soalnya dengan berkomunikasi bahkan menceritakan kisah kenapa kena covid, kena di mana atau apa yang di rasa, bisa bikin lebih “nrimo” keadaan dan tentunya imunitas makin naik, asal jangan toxic communication ya, yang cuma bikin makin baper.

Perhatian dari orang sekitar adalah suplemen aktif yang tak tergantikan…

Mengikuti Anjuran Dokter

Banyak yang bertanya, dikasih apa dari rumah sakit? Minum apa aja jadinya? Sebenarnya karena nggak dibarengin dengan gejala sesak nafas jadi hanya diresepkan beragam vitamin, mulai dari: vit.c, vit.d, zinc, vit.b3 dan sebagai tambahan saya rutin juga konsumsi jamu kunyit asem tanpa gula, madu, jamu bawang putih+jahe dan selalu ada termos berisi air hangat untuk diminum sesering mungkin.

Khusus yang mungkin belum tahu, imboost atau multi vitamin lain, sebaiknya diminum 1x seminggu aja, yang baiknya dipersering adalah vitamin c dan zinc, tentunya juga dengan banyak mengonsumsi air putih karena dikhawatirkan akan mengganggu ginjal.

See you when i see you yaaa…

Walau kesannya terlalu jadul, mengonsumsi jamu saat pandemi saat ini bisa menjadi cara aman dan nyaman untuk menjaga imun dan kesehatan tubuh, makanya bener banget kalau dalam insight bisnis digital ada istilah “MEGASHIFTING CUSTOMER BEHAVIOUR” dan keluarlah quote: Jamu is the new Espresso.

Bisa jadi ide untuk pembaca yang misal bingung mau bisnis apa nih, jamu masih jadi pahlawan masa kini selain sepeda dan tamanan hias.

Jamu juga terbuat dari bahan yang jelas herbal, terlebih kalau rajin bikin sendiri di rumah, bisa memastikan kebersihannya, bukan?

Buah-buahan juga bagus banget untuk memberikan asupan vitamin yang alami, seperti: jeruk, pisang, alpukat, nanas dan buah-buahan lain yang kaya vitamin C juga ber pH tinggi, saran dokter buah-buahan berpH di atas 8,5 (informasi dari data bahwa virus covid-19 ini bervariasi pH-nya berkisar 5,5 – 8,5).

Selain buah-buahan, makanan hijau seperti sayuran juga perlu di konsumsi, serta hindari makanan yang berminyak, pedas, berlebihan pemanis buatan, terlalu asin, alasannya supaya tidak ada penyakit lain yang “bangkit” sehingga menganggu imun tubuh memaksimalkan penyembuhan dan pemulihan akibat covid-19.

Stay Healthy Stay Happy

Alhamdulillah di tes swab-PCR kedua di rumah sakit yang sama dengan yang pertama kali tes, hasilnya negatif.

Banyak yang bilang bukannya harus negatif sampai 3x, nah karena hasil lab di rumah sakit ini menunjukkan sudah tidak ada identifikasi viru covid-19 dan CT Value juga sudah normal, sehingga tidak diperlukan lagi menurut dokter namun saya tetap harus isolasi mandiri lagi sebanyak 7 hari untuk pemulihan.

Buat yang KEPO mau tau kisah detailnya, bisa cek IGTV saya ini: https://www.instagram.com/tv/CFJsUEyAr6k/ dan buat yang penasaran kayak apa proses swab-PCR bisa liat juga nih rekaman pas saya tes kedua kali dari mobil aja: https://www.instagram.com/tv/CFQt-vWAY8s/.

Rasanya lega banget. Alhamdulillaaah…

Pesan saya, covid-19 ini bukan cuma bisa menularkan karena kita aktif di luar rumah, tidak patuh protokol atau bahkan tidak bersih, tetapi juga imunitas dan kesehatan harus dijaga, walau bersih aja nggak cukup jangan juga ya jadinya “cuek” dan tanpa disadar masalah jadi OTG (orang tanpa gejala) lalu menyebarluaskan virusnya ke mana-mana.

Tetap patuhi peraturan, jaga kesehatan imunitas dan tetap berstigma positif kepada penderita covid-19 karena mereka hanya korban. Stay Healthy, Stay Happy.

Penulis: Lil Hasnah
(Digital Strategist Planner of Suitmedia Creative and Technology)