Berkelana dengan Tetap di Rumah Selama Ramadhan

861
Photo by Joel Muniz on Unsplash

oleh: Syakir NF
(Santri Milenial)

Ada kekesalan tersendiri dalam benak saya, dan mungkin para pembaca, saat Ramadan tahun ini mengharuskan kita untuk tetap di rumah. Kita tak dianjurkan untuk bertarawih di masjid karena dikhawatirkan akan terjangkit virus Corona yang kini tengah mewabah.

Namun, hal itu tidak perlu kita sesali. Toh, kita juga masih bisa berjamaah dengan keluarga di rumah. Kita harus mengindahkan imbauan pemerintah untuk tetap di rumah. Sebab, hal tersebut merupakan langkah kecil untuk menahan arus pergerakan pandemi ini demi kemaslahatan kita semua. Mengenai hal ini, saya jadi ingat salah satu cabang iman paling sederhana adalah dengan menyingkirkan duri atau batu yang ada di jalan. Dengan begitu, tidak akan ada orang celaka. Diamnya kita di rumah juga membuat orang lain dan tentu diri kita sendiri tidak akan terjangkiti virus tersebut.

Tetap di rumah bukan berarti kita tidak bisa berkelana. Memang, secara lahiriah, kita tidak ke mana-mana. Tapi, fantasi, imaji, dan jiwa kita bisa bepergian ke manapun kita mau. Salah satu solusi untuk itu adalah membaca sastra. Dosen saya pernah mengatakan bahwa, membaca sastra itu memberikan rasa akan suatu pengalaman, tanpa kita mengalaminya sendiri. Kita dapat merasakan sesuatu yang dialami seseorang. Dengan begitu, kita menjadi lebih peka dan memahami beragam hal, tak terkecuali latarnya.

Ya, di antara rukun karya sastra adalah latar. Penulis biasanya memberikan deskripsi serinci mungkin agar pembaca dapat merasakan suasana yang sebetulnya terjadi dalam peristiwa yang diceritakan, termasuk gambaran latar di dalamnya. Deskripsi penulis akan memberikan visualisasi kepada pembaca sehingga dapat membayangkan dan merasakan seperti berada dalam cerita.

Tidak hanya latar tentu saja. Cerita yang disajikan juga memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi kita, mengenai sosial budaya setempat, karakter orang, hingga sejarah yang melatarinya.

Novel berjudul Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Membaca novel tersebut, kita akan diajak untuk menyusuri wilayah Pantura di Jawa Tengah pada zaman penjajahan dahulu. Di situ juga kita akan merasakan penderitaan masyarakat kita ketika dijajah, terlebih kaum Hawa yang harus mengalami diskriminasi luar biasa.

Jika kita hendak merasakan suasana alam yang asri nan sejuk, kita bisa membaca novel-novel karya Ahmad Tohari, seperti Kubah yang bercerita tentang peristiwa 1965, Lingkar Tanah Lingkar Air yang berkisah mengenai peristiwa DI/TII, ataupun Orang-orang Proyek yang menggambarkan praktik korupsi di desa pada Era Orde Baru.

Bagi teman-teman yang ingin merasakan suasana Jakarta sebelum ditanami gedung-gedung pencakar langit seperti saat ini dapat membaca Kronik Betawi karya Ratih Kumala. Saya kira, di situ suasananya tak jauh beda dengan gambaran alam dalam novel-novel Ahmad Tohari.

Yang ekstrem, kita juga bisa melihat kehidupan di lembaga pemasyarakatan (baca: penjara) melalui novel 86 karya Okky Madasari. Membaca novel tersebut dapat membuat mata kita terbelalak betapa lucunya negeri ini.

Jadi, selama Ramadhan ini, kita masih berkelana melalui novel-novel karya para sastrawan Indonesia. Mereka akan mengajak kita untuk berefleksi sekaligus mengunjungi kota-kota dalam latar novel yang ditulisnya. Meski raga tetap di rumah, tapi jiwa kita bisa berkelana ke mana-mana.