Berjuang Lagi, Sekolah Lagi (Bagian 1)

566

 

London, Inggris – Enak dilihat, tapi penuh perjuangan pas dijalani. Ungkapan itu kira-kira mewakili yang dirasakan oleh mereka yang sedang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.

Jalannya untuk sampai luar negeri memang beda-beda, namun semua pasti melewati fase perjuangan yang berat. 

Kira-kira itulah refleksi dari apa yang saya amati selama ini dari rekan-rekan saya, dan juga diri saya sendiri. Saya saat ini sedang ‘berjuang’ menempuh studi doktoral di University College London atau UCL.

Alhamdulillah, saya tidak sendiri di sini, tapi ditemani oleh keluarga kecil saya, anak perempuan dan istri saya. 

Awal Perjuangan

Perjuangan yang saya maksud itu bahkan sudah dimulai sejak mencari kampus yang ingin ‘menampung’ saya. Sebelum diterima oleh UCL, saya mendaftar ke banyak kampus.

Mungkin sekitar 50-an profesor saya kontak. Sebagai catatan, untuk studi doktoral, umumnya sebelum mendaftar ke universitas, kita perlu mendapat persetujuan profesor sebagai calon pembimbing kita nanti. 

Setiap email lamaran studi saya buat berbeda satu sama lain. Lelah memang harus buat email yang berbeda-beda. Tapi, saya kira itu sudah jalannya, dan dijalani saja. 

Dari sebanyak lamaran itu, kira-kira saya mendapat balasan dari sekitar 10 profesor. Dua menyatakan menerima saya, salah satunya di UCL London ini.

Langkah selanjutnya adalah mendaftar ke kampusnya. Ini mudah. Sebab persetujuan profesor adalah kuncinya. 

Perjuangan lainnya adalah mencari pendanaan. Sebagai pekerja profesional yang baru meniti karir, yakni sebagai peneliti kebijakan publik, tak banyak yang bisa saya harapkan dari tabungan saya.

Untuk sampai selesai studi doktoral di Inggris, kira-kira biaya yang saya perlukan adalah 2-4 milyar rupiah. Jumlah yang bukan main-main tentunya. 

Melihat ke belakang lagi, ada dua perjuangan penting sebelum saya memulai studi yang saya jalani saat ini. Pertama adalah memperoleh sekolah. Kedua, mendapatkan biaya studi. 

Menyikapi penolakan

Di tahap memperoleh kampus, persiapan dan antisipasi yang cukup sangat diperlukan. Dari proses pendaftaran, diterima (atau ditolak), hingga memulai kuliah paling tidak akan memakan waktu satu tahun. Keinginan untuk belajar di luar negeri, oleh karenanya, perlu benar-benar dipersiapkan dengan matang. 

Ingat, satu tahun itu adalah, dalam pengalaman saya, waktu paling cepat. Permulaan studi doktoral yang saya jalani saat ini bahkan memakan waktu 3 tahun sejak saya mendaftar. 

Di masa pendaftaran, saya menerima banyak penolakan dari berbagai profesor. Alasannya berbagai macam, mulai dari tidak menerima mahasiswa atau memang topik riset kita kurang ia minati. Sebenarnya, kita perlu bersyukur jika mendapat respons dari seorang profesor.

Sebab, banyak email lamaran yang mungkin hanya dilewati sekilas sebagaimana nasib berbagai email lamaran studi saya. 

Namun, tetap menerima penolakan sedikit banyak menggoncangkan ketenangan. Tapi siapa sih dalam hidup ini yang tak pernah menerima penolakan? Kira-kira prinsip itu yang saya selalu pegang. Ketika ada penolakan atau kegagalan, ambil pelajaran dan kemudian jalan terus. 

Namun percobaan lamaran studi doktoral saya akhirnya menemui titik terang. Saya mendapat jawaban positif dari salah seorang profesor di UCL. 

Setelah menyatakan ketertarikan atas topik riset yang saya sampaikan diemail, dia segera meminta rancangan proposal riset lengkapnya. Setelah beberapa kali ‘tek-tok-an’ dan revisian proposal, akhirnya profesor, yang kini jadi pembimbing riset saya di UCL, menerima saya sebagai mahasiswa bimbingannya. Sisanya tinggal mendaftar ke universitas. Itulah proses mendapatkan pembimbing dan kampus. 

Persiapan dan persiapan

PR kedua adalah di tahap mendapatkan pembiayaan untuk studi. Telah saya sampaikan bahwa biaya untuk studi doktoral tak sedikit. Jikapun biaya SPP nya murah (seperti di Selandia Baru), biaya hidupnya tetaplah mahal. 

Apalagi, umumnya mahasiswa doktor adlah mereka yang telah berkeluarga. Tentu lebih banyak lagi biaya hidup yang harus dikeluarga ketimbang yang masih jomblo. (Hehe…)

Melamar beasiswa menjadi jalan yang perlu saya tempuh. Benar bahwa LPDP kini yang menyediakan dukungan finansial bagi studi saya. Namun, proses mendapatkannya bukanlah jalan ‘mulus’ bagi saya. Mungkin ada sebagian yang ‘mudah’ mendapatkannya, tapi saya yakin banyak kebanyakan melewati perjualan yang berarti untuk mendapatkan beasiswa Pemerintah Indonesia ini. 

Sejak mengisi formulir, tes komputer, hingga wawancara, saya tak main-main dalam menjalani tiap tahapnya. Waktu itu, ini adalah kesempatan saya satu-satunya untuk mendapatkan dukungan finansial, sebab dua opsi beasiswa lainnya yang saya coba lamarsudah kandas. Alias, saya ditolak. (Sedih…)

Saya selalu mengingat pesan dari salah satu mentor saya bahwa persiapan yang sebaik-baiknya selalu membawa hasil yang memuaskan. Lebih baik kita merasa grogi sehingga kita mau melakukan persiapan yang sungguh-sungguh, ketimbang rasa percaya diri yang membuat kita lupa persiapan. Karenanya, saya mengupayakan persiapan terbaik melewati setiap tahap tes LPDP waktu itu. 

Momen paling krusialnya, menurut saya, adalah ketika harus menghadapi panel wawancara yang diisi oleh Bapak dan Ibu dosen atau praktisi yang telah berpengalaman. Selain harus dapat ‘mempertahankan’ argumen mengapa riset saya adalah urgen, saya perlu memegang adat ketimuran yakni menunjukkan sopan-santun ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman. 

Saya meyakini, pada akhirnya, setinggi-tinggi ilmu kita, setajam-tajam daya analisis kita, yang menentukan kesuksesan adalah akhlah dan sopan-santun kita. (Ngga perlu sok-sokan egaliter ya…) 

Menjaga Adat Ketimuran

Sebagai orang timur, kita hidup dengan adat istiadat kita sendiri, misalnya tetap menjaga nada bicara ketika berbicara dengan tokoh atau orang yang lebih tua. Dengan menjaga adat ketimuran ini, ide-ide kita malah mudah diterima orang lain. 

Singkat cerita, lamaran beasiswa LPDP saya diterima dan saya sekolah lagi. Perjuangan itu menghantarkan saya untuk sekolah lagi. Bukan untuk unjuk cerita, namun tulisan ini malah ingin menunjukkan bahwa studi di luar negeri bukan kisah fantasi tentang peri ajaib. 

Perjalanan serupa dari banyak orang yang kini menempuh studi di luar negeri dipenuhi liku dan penolakan. Intinya, banyak kegagalan. Karenanya, diperlukan persiapan yang matang dan juga tentunya perjuangan yang tak main-main.

Jelas jadinya, studi di luar negeri itu enak didengar, tak enak dijalani. Meskipun begitu, dinikmati saja prosesnya. (Hidup siapa juga yang tak ada kegagalannya? Jadi segera move on ya kalau ketemu kegagalan…)

Saya sudah berada di Inggris ketika tulisan ini saya ketik. Karena pandemi, semua kelas masih dilaksanakan secara daring. Dalam lanjutan tulisan ini, akan saya sampaikan perjuangan untuk mendapatkan visa studi, tempat tinggal, dan tentunya perjuangan meninggalkan pekerjaan dan khususnya keluarga. 

Penulis: Muhamad Rosyid Jazuli (Mahasiswa Doktoral University College London)