Berislam ala Indonesia bersama Maria

689
Maria Islam
Photo by cottonbro from Pexels

Kita beruntung! Di tengah menjamurnya semangat untuk berislam ala Arab, catatan-catatan memoar-reflektif Maria Fauzi dalam Berdiri di Kota Mati mengguyur khayalan pandir kita bahwa Islam berarti harus sama dengan masyarakat Padang Pasir.

Karena nyatanya memang tidak. Islam tak boleh dikerdilkan hanya pada batasan-batasan geografis Arab semata, sebab agama paling bontot di rumpun Abraham ini bersifat universal; ia ada untuk semua.

Sebagai ajaran ilahiah, Islam tentu akomodatif terhadap keragaman budaya. Itu sebabnya, meski agama ini lahir dan merangkak di Arab, Islam justru besar ketika ia merangkul dan menghargai beragam perbedaan, bukan malah menghancurkannya dengan alasan untuk menyenangkan Tuhan.

Islam di Mata Maria

Islam, sebagaimana di-dumel-kan Maria, tak harus sama plek dengan masyarakat gurun yang lebih memilih daster ketimbang sarung. Maria beruntung, dia memiliki kesempatan untuk tak hanya mempelajari Islam, tetapi juga menyaksikan bagaimana agama ini dihidupi oleh orang-orang yang berasal dari berbagai macam latar belakang.

Pengalamannya berjumpa dengan orang-orang yang menghidupi ajaran agama tentu tak selalu selaras dengan bayangan ideal tentang agama yang diajarkan oleh para guru dan orang tua.

Jika dalam pelajaran di kelas agama digambarkan sebagai hal yang ideal nan final, perjumpaan dengan orang-orang di lapangan justru tak jarang menunjukkan hal yang berlainan. Maria mengawali catatannya di buku setebal 224 halaman ini dengan rekaman hal-hal tak mengenakkan yang dia saksikan selama tinggal dan belajar di Mesir.

Tentu ini tak dimaksudkan untuk merisak orang dari budaya lain; Maria barangkali hanya ingin berbagi kekagetan tatkala menyaksikan banyak hal tak terduga, sambil perlahan mengajak kita berefleksi soal inikah wajah agama kita di masa kini.

Perempuan di Negeri Mesir

Maria membanting memori kekagetan pertamanya terkait fakta bahwa di Negeri Para Nabi ini, pelecehan seksual terhadap perempuan masih kerap terjadi. Bisa jadi, perangai buruk ini lebih disebabkan oleh faktor kultur masyarakat Arab yang masih sulit menerima perempuan sebagai makhluk sederajat.

Akibatnya, perempuan kerap hanya dipandang sebagai makhluk kelas dua yang boleh diperlakukan semaunya. “Hidup di Mesir cukup menegangkan. Negara yang [sic!] ini (pen.) terlihat aman, tetapi suatu ketika dapat berubah menjadi ganas,” tulis Maria.

Dia memang cepat-cepat memberi penegasan bahwa tak semua orang Mesir begitu; orang-orang Arab yang jahat biasanya disebut sebagai keturunan Fir’aun, sementara yang baik disebut keturunan Nabi Musa –yang tentu saja tak sedikit jumlahnya.

Catatan ini seharusnya mampu menyadarkan kita bahwa masyarakat Arab, sebagaimana masyarakat dari wilayah lain, tak semuanya manusia pilihan Tuhan; ada banyak pula fans berat setan yang tetap bebas berkeliaran. Mereka pipis sembarangan dan gemar melakukan pelecehan.

Islam Bukan Arab

Jika kekagetan pertama Maria berisi pengalaman tak mengenakkan, maka kekagetan keduanya barangkali justru penuh sesak dengan kekaguman. Catatan blusukan-nya ke toko buku Mustafa al-Babi al-Halabi adalah sebabnya. Toko tua itu disebutnya menyimpan banyak kitab keislaman yang ditulis oleh ulama Nusantara dan menjadi rujukan banyak ulama di negeri Arab.

Berbagai kitab klasik yang dikarang oleh ulama-ulama Indonesia seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, Nuruddin al-Raniri, dll; terpajang rapi di toko itu. Hal ini sejatinya tak mengejutkan, sebab ulama Nusantara pernah begitu berjaya di jazirah Arab, tepatnya pada abad ke-19 hingga -20. Karya-karya besar mereka kerap dijadikan rujukan di kampus Al Azhar dan banyak lingkar studi lain.

Apalagi, para ulama Nusantara ini sempat mendirikan perkumpulan yang cukup disegani pada 1923. Al-Jami’ah al-Khairiyyah al-Thalabiyyah al-azhariyyah al-Jawa, nama perkumpulan itu. Melalui perkumpulan inilah, khasanah keislaman sampai dan akhirnya menyebar di Nusantara.

Maria tampaknya tak berlebihan ketika menyebut para ulama Nusantara yang begitu cemerlang di negeri Arab itu sebagai peletak dasar teladan tentang pentingnya konstruksi pengetahuan atas perwujudan nilai-nilai Islam yang berakulturasi dengan budaya lokal. Sebab, melalui sentuhan para ulama itu, Islam dapat begitu mudah dipahami dan diterima oleh orang dari berbagai latar kebudayaan. Tak hanya oleh orang-orang Arab yang siang-malam dasteran.

Islam Agama Kontekstual

Semangat yang dibawa oleh para ulama di atas itulah yang kini tampaknya sedang digerogoti oleh sebagian orang yang merasa bahwa Islam haruslah Arab. Di tangan orang-orang menyedihkan ini, Islam dipaksa tak akomodatif terhadap keragaman budaya dan nilai-nilai luhur yang tak berasal dari Arab.

Gambaran bahwa Islam haruslah Arab tak pelak membuat agama ini tampak begitu pengap. Sebabnya jelas, kita hanya perlu ajaran agama, bukan pemberangusan budaya. Karenanya, yang dibutuhkan adalah konstekstualisasi ajaran agama, tentu agar ia bisa tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Agama harus ada gunanya, yakni untuk menggapai kebaikan bersama, bukan malah digunakan sebagai tameng perilaku gaya-gayaan untuk menggebuk orang-orang yang dikafirkan.

Alih-alih berubah menjadi Arab, kita lebih perlu berubah menjadi insan yang lebih beradab; tak gampang marah melihat perbedaan, bijak dalam bertindak, serta tidak pecicilan berlagak bak mewakili Tuhan.

Tradisi Bangsa Arab

Catatan Maria tentang orang-orang dari bangsa Arab yang sangat gemar salawatan dan merayakan maulid nabi juga menampar keras narasi keagamaan kita belakangan ini yang kerap membidahkan praktik demikian.  Orang-orang ini, para ustaz/ustazah kambuhan, menuduh praktik demikian tak ada tuntunannya, tak pernah dilakukan oleh nabi pula; maka haram hukumnya.

Hal ini tentu aneh, sebab ulama dan masyarakat Arab justru gemar bersalawat, maka, jika para ustaz kambuhan ini mengajak kita anti terhadap salawat dan merayakan maulid, mereka sebenarnya sedang mengajak kita untuk mencontoh Arab yang bagian mana?

Oh, saya tahu. Pasti yang tak jauh dari silit unta!

Bacalah catatan lengkap Maria Fauzi di Berdiri di Kota Mati, Anda akan diajak berpetualang ke tempat-tempat yang tak pernah diduga. Selama perjalanan, Anda juga akan ditemani dengan goresan-goresan refleksi ringan tapi penuh gizi khas Maria Fauzi.

Penulis: Khoirul Anam