Benarkah Demit itu Berkeliaran ?

832
Photo by Daniel Jensen on Unsplash
Photo by Daniel Jensen on Unsplash

Oleh :Samsudin 

Demit adalah istilah selingkungan yang tepat untuk menggambarkan virus mikro yang tidak berwujud secara kasat mata karena tubuhnya yang mungil.  Demit merupakan bentuk tidak baku dari kata  dedemit.  Meski demikian,  istilah demit lebih viral digunakan di kalangan masyarakat dari pada istilah bakunya.  Demit versi KBBI (Edisi V)  diartikan sebagai makhluk halus yang jahat dan senang menganggu manusia. Covid-19 yang trending dikalangan masyarakat merupakan demit yang digadang-gadang menghantui manusia di seluruh penjuru bumi.  Layaknya hantu PKI (Tulisan Wahyu Widodo tahun 2017) yang menempel dibeberapa oknum untuk dijadikan tumbal dengan tujuan meluruhkan karier politik seseorang, maka demit mikro ini jauh lebih gaib dalam mencari tumbal tanpa memandang status atau golongan seseorang.

Siapa yang tak takut dengan demit macam korona ini? Pemulung, tukang becak,  guru,  bahkan seorang kepala pemerintah hampir kalang kabut menghadapinya.  Keadaan yang semakin hari makin menakutkan ini menjadi momok yang menghantui kebertahanan berbagai bidang.  Ekonomi yang semakin anjlok,  pendidikan yang loyo,  pengangguran yang terus membumbung,  hingga perubahan sistem pelaksanaan peribadatan juga ikut mengalami keterpurukan.

Bukan hanya itu,  Covid-19 yang terus berkeliaran dan berkelana ke berbagai penjuru bumi telah berhasil merubah pola pikir dan stigma masyarakat.  Seperti yang diketahui, penyebaran virus ini bisa melalui batuk maupun kontak langsung. Jadi tidak heran,  bila pada masa pandemi ini orang bersin atau batuk lebih dikucilkan dari pada orang yang kentut di tempat umum.

Saya menyebut kentut atau bersin di era pandemi sebagai kentut yang tak berbau. Antara kentut dan batuk memiliki komponen makna bersama,  yaitu sama-sama kegiatan mengeluarkan angin dari dalam tubuh  (dalam hal ini adalah manusia). Namun,  kentut dan batuk berkolokasi beda. Kentut memiliki kolokasi di bagian lubang dubur manusia,  sedangkan batuk memiliki kolokasi di bagian lubang mulut dan berasosiasi dengan kata bersin, menguap, dan sendawa. Asosiasi kata batuk, bersin, menguap, dan sendawa memiliki komponen medan makna yang sama dalam kajian semantik. Perbadaan lain antara kentut dan batuk terletak pada rasa bau yang ditimbulkan.  Kentut adalah gas yang dikeluarkan manusia dan menimbulkan aroma yang tidak sedap,  sedangkan batuk,  bersin,  dan sendawa tidak menimbulkan bau. Secara etika, kentut di tempat umum terutama di tengah-tengah kerumunan manusia adalah perilaku yang dianggap tidak sopan.  Sebab, aroma kentut dianggap polusi yang mengganggu hidung dan suasana orang lain yang berada di dekat pelakunya. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa pada masa pandemi Korona, batuk dan bersin lebih berbau ketimbang kentut,  sehingga manusia di sekitar pelaku (orang yang batuk) berlomba-lomba menyumpal mulut?

Di masa pandemi Korona saat ini,  tatanan kehidupan sosial telah amburadul. Hal itu semenjak adanya pemberitaan Covid-19 yang dianggap dapat melenyapkan sebagian populasi manusia. Berbagai asumsi bahkan hipotesis mengenai virus Korona jenis baru ini telah bermunculan dan memenuhi tulisan-tulisan publikasi serta membajiri berbagai akun media sosial.  Hipotesis yang paling umum terdengar di lingkungan masyarakat mengenai virus korona,  yaitu disebabkan oleh kelelawar.  Lalu muncul asumsi lain, bahwa kemunculan virus ini karena konspirasi elite global dan kebocoran laboratorium senjata biologis. Tetapi dari sekian banyak asumsi dan hipotesis yang bermunculan tersebut,  hingga saat ini belum ada titik kepastian jawaban.  Seluruh pemangku kepentingan sibuk berlomba-lomba mencari jawaban yang pasti, memberlakukan kebijakan ini-itu, hingga mencari informasi sana-sini. Namun sebaliknya,  masyarakat umum telah abai terhadap usaha yang dilakukan pemerintah untuk meredam persebaran virus. Lain sisi, sebagian masyarakat khawatir terpapar Covid-19, saking takutnya hingga mereka tidak mengindahkan etika bersosial. Wujud kekhawatiran masyarakat dapat dilihat ketika mereka menilai orang batuk yang selalu dikaitkan dengan Covid-19. Sehingga fenomena orang batuk di tempat umum seakan lebih tidak sopan dari pada orang kentut yang menimbulkan aroma tak sedap.

Sejak zaman nenek moyang, kentut di tengah-tengah kerumunan adalah prilaku yang tidak sopan. Sehingga kentut dianggap sebagai aib,  dan orang yang kentut (baik karena ketidaksengajaan) tersebut akan merasa malu. Berbeda dengan situasi dan kondisi saat ini, kita sering menjumpai beberapa anak muda yang asik berkerumun menikmati masa lajang bersama kawan-kawannya di warung kopi, di sekolah,  ataupun di tempat kumpul lainnya, mereka menjadikan kentut sebagai bahan guyonan. Lebih miris lagi sejak pandemi korona melanda dunia, orang-orang menggap batuk di tempat umum lebih tidak sopan dari pada kentut di depan muka. Lazimnya, batuk di tempat umum juga harus ada etikanya, misal dengan menutup mulut ataupun mengalihkan muka dari lawan bicara pada saat batuk. Jika kita melihat dari sisi kesehatan, etika yang semacam itu merupakan bentuk preventif untuk mencegah penularan virus. Tapi mirisnya, batuk di situasi pandemi ini dianggap momok yg menakutkan bagi masyarakat. Seperti sebuah mercon yang meledak di depan muka, orang yang mendengar batuk secara tidak sadar akan menyumpal mulut meski jarak pelaku (orang yang batuk) mungkin lebih dari 5 meter dari dirinya. Parahnya, si pelaku yang batuk ini kadang di ejek secara terang-terangan di depan orang lain karena sebuah alasan: “MUNGKIN DIA TERPAPAR KORONA!”. Bayangkan saja jika kalian berada di posisi tersebut, kalian tidak sengaja batuk,  dan semua orang mendadak dengan cepat menutup mulutnya. Pasti wajah kalian secara tiba-tiba berubah merah merona karena malu.

Jika memang masyarakat memiliki rasa takut akan serangan Korona, mengapa mereka tidak stay at home saja? Mengikuti protokol kesehatan dan tunduk dengan kebijakan pemerintah akan lebih menenangkan dari pada berkeliaran di luar rumah. Dengan demikian,  mereka tidak akan lagi was-was dengan orang yang batuk. Upaya yang demikian  juga akan menambah pahala,  sebab mereka tidak akan bersuuzan terhadap orang batuk, dan demit jenis Korona akan berhenti mencari tumbal selanjutnya.

*Samsudin, aktif di komunitas Mata Pena (sastra) di Universitas Brawijaya dan Pengajar Seni Teater di SMA Diponegoro Tumpang, Kabupaten Malang, sejak tahun 2019.