Belajar Kala Pandemi dengan Self Regulated Learning

165
Self Regulated Learning
Nick Morrison in Unsplash

“Education is the most powerful weapon to change the world “

  –Nelson Mandela—  

Bagaimana Realita Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh?

Jawab jujur, apakah Anda merasa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seakan sia-sia? Tidak berfaedah dalam meningkatkan nalar mahasiswa? Tenang, kamu tidak sendiri. Menurut survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang melibatkan 2.201 responden, 92 persen siswa dan mahasiswa di Indonesia mengalami kendala dalam menerapkan PJJ. Bisa dibilang ini cukup wajar, mengingat baru pertama kalinya mahasiswa melek dengan yang namanya Google Classroom, Google Meet, dan pendukung PJJ lainnya.

Diakui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim dalam Podcast Deddy Corbuzier, PJJ merupakan terobosan gila, banyak kekurangan, dan tergolong high risk. Tetapi, apakah ada jalan lain? Mau tidak mau, kita diharuskan beradaptasi dengan berbagai aplikasi yang pertama kalinya kita sadar rupanya ada di Google Play Store.

Bagi mahasiswa yang baru saja menginjak semester empat, pasti paham perbedaan mutlak antara PJJ dan kuliah tatap muka. Lain halnya dengan mahasiswa baru yang bahkan asing akan gedung fakultas sendiri. Kita cukupkan satu semester yang lalu sebagai masa-masa adaptasi, sekarang saatnya merancang strategi baru.

Lihat juga artikel, Menyusun Strategi di Tengah Pandemi

Benarkah Self Regulated Learning Menjadi Solusi?

Penulis cukup tertarik dengan ide teman penulis bernama Zakaria Anshari, salah satu Mahasiswa Psikologi Universitas Padjadjaran. Ia pernah posting tentang Self Regulated Learning (SRL) dapat diterapkan pada pandemi sekarang.

Sebenarnya, SRL bukanlah bahasan baru. Sudah banyak jurnal ilmiah tahun 1980-an yang membahas ini, tetapi ternyata cukup relavan. Berbicara SRL, tentu kemandirian belajar menjadi koentji. Lalu, kemandirian belajar juga menjadi ciri khas mahasiswa, di mana sistem pembelajaran perkuliahan berbasis student center learning. Maka, dapat dikatakan bahwa SRL sangat ampuh membantu mahasiswa dalam belajar mandiri di rumah.

Sebelumnya, kita bahas definisi dari SRL terlebih dahulu. Menurut Latifah (dalam Hudaifah, 2020), Self Regulated Learning merupakan kombinasi keterampilan belajar akademik dan pengendalian diri yang membuat pembelajaran terasa menjadi mudah, sehingga peserta didik lebih termotivasi.

Bagaimana Tahapan Dalam Menerapkan SRL?

Menurut Zimmerman (dalam Hudaifah, 2020), terdapat tiga tahap dalam menerapkan strategi Self Regulated Learning, yaitu sebagai berikut:

  1. Tahap Persiapan (Forethought Phase)

Dalam tahap ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri bahwa tugas yang diberikan bisa diselesaikan. Simpelnya, ucapkan saja “Aku pasti bisa!” dalam hati sebanyak-banyaknya.
  2. Ciptakan kenyamanan dan keaaman saat belajar, seperti temukan sudut ternyaman, rapikan meja belajar, pastikan koneksi internet lancar, dan jangan lupa siapkan air mineral. Intinya, atur lingkunganmu sedemikian rupa agar kamu nyaman belajar.
  3. Mengelompokkan materi-materi yang dirasa sulit dipahami. Pada tahap ini, baca sekilas saja terlebih dahulu, kemudian cari bagian yang belum dipahami.
  4. Fokus mencari sumber informasi sebagai bahan mentah mengenai materi sulit yang belum dipahami tadi dari berbagai sumber kredibel.
  5. Sediakan juga reward sesudah kamu menyelesaikan tugas, seperti rebahan sejenak, nonton Youtube, beribadah, dan aktivitas pendongkrak mood

    2. Tahap Pelaksanaan (Performance Phase)

Dalam tahap ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Jauhkan distraksi sekitar seperti notifikasi WhatsApp, scroll Instagram, dan sebagainya. Fokuskan seratus persen pada pengerjaan tugas yang diberikan.
  2. Olah informasi mentah sebelumnya menjadi jawaban dari tugas-tugas yang diberikan ataupun rangkai penjelasan tersebut dengan kalimatmu sendiri sehingga mudah dipahami.

    3. Tahap Refleksi Diri (Self Reflective)

Dalam tahap ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Identifikasi apa saja yang kamu rasakan setelah melakukan penugasan, apakah menghindari proses pembelajaran (defensive reaction) atau tertarik supaya proses pembelajaran tadi lebih menyenangkan (adaptive reaction).
  2. Kalau merasakan defensive reaction, maka wajib untuk menanyakan “Kenapa aku tidak nyaman dengan cara belajarku hari ini? Apakah ada yang harus diperbaiki?” Setelah itu, mulailah explore lagi bagaimana cara supaya kamu nyaman belajar, apakah mungkin kendala sinyal, distraksi media sosial, dan masalah lainnya.
  3. Kalau merasakan adaptive reaction, maka wajib juga untuk menanyakan “Kenapa aku nyaman belajar dengan kondisi sekarang? Apa saja kelebihan yang lingkunganku miliki untuk menunjang aku belajar? Apakah ada yang harus ditingkatkan?”
    Setelah itu, mulailah untuk explore bagaimana “posisi” belajar yang pas untuk kita, apakah dengan belajar di ruangan sepi, media sosial dibatasi, dan lainnya. Kemudian, lakukan itu lagi maupun tingkatkan untuk pembelajaran selanjutnya.

Penulis akui, awalnya pasti terasa sangat ribet dan kaku. Tetapi, lama-kelamaan kita akan terbiasa dengan ini semua. Kunci utamanya terletak pada tekad yang kuat dan jauhi distraksi ketika mengerjakan semua tahapan tersebut. Seampuh apapun strategi belajar kita, mustahil berhasil kalau dari diri sendiri belum ada kemauan keras dalam menjalaninya.

DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI VIDEO

Corbuzier, Deddy. “Nadiem, Kalau Bodo Satu Generasi Gimana Bro?” Youtube, diunggah oleh Deddy Corbuzier, 18 Agu. 2020, www.youtube.com/watch?v=y_UFFb8V2I0.

Harahap, A. C. P., & Harahap, S. R. (2020). Covid 19: Self Regulated Learning Mahasiswa.  Al- Irsyad, 10(1), 36-42. http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/al-irsyad/article/view/7646/3478.

Hidayat, D. R., Rohaya, A., Nadine, F., & Ramadhan, H. (2020). Kemandirian Belajar Peserta Didik Dalam Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19. Perspektif Ilmu Pendidikan, 34(2), 147-154. DOI: doi.org/10.21009/PIP.342.9.

Hudaifah, Fida. (2020). Peran Self Regulated Learning di Era Pandemi Covid-19. Biormatika, 6(2), 76-84. Doi: 10.35569.

Penulis: Aryadimas Suprayitno