Belajar Harmoni Kemanusiaan dari Kisah Siti Hawa

475
hawa
Photo by Ghiffary Ridhwan on Unsplash

Salah satu keyakinan yang berkembang di masyarakat muslim, bahwa Siti Hawa itu tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam As. Keyakinan ini kemudian mengakar sedemikian rupa, sehingga ayat-ayat Al-Quran yang tidak berbicara hal ini pun, kemudian ditafsirkan oleh para ulama dengan kisah yang gamblang mengenai penciptaan Siti Hawa yang berasal dari Nabi Adam As. Sehingga, laki-laki dianggap lebih unggul daripada perempuan yang mengakibatkan banyak kerugian yang terjadi pada perempuan.

Padahal, ayat-ayat mengenai penciptaan mengarah kepada manusia secara umum, tidak secara khusus berbicara mengenai Nabi Adam As, tidak juga hanya mengenai manusia laki-laki. Ayat-ayat yang eksplisit ini yang seharusnya menjadi dasar untuk menegaskan mengenai asal-usul kemanusiaan yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Implikasi dari tafsir ini kemudian seluruh sendi kehidupan perempuan harus ditentukan melalui standar nilai yang dianut laki-laki. Relasi antara keduanya juga diciptakan sedemikian rupa, agar laki-laki yang mengatur, mengelola, dan mengontrol. Relasi yang tidak setara ini kemudian melahirkan segala bentuk kekerasan dalam kehidupan perempuan.

Baca juga: Membaca Desa sebelum Dewasa.

Komnas Perempuan, menyatakan bahwa dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat 729% (hampir 800%) artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat 8 kali lipat. Salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering disebut pula sebagai kekerasan domestik. Ini terjadi karena adanya ketimpangan relasi antara perempuan dengan laki-laki dalam rumah tangga, yang menempatkan perempuan menjadi subordinat.

Imam Besar Masjid Istiqlal, K.H. Nasaruddin Umar, menganalisis ayat-ayat penciptaan manusia dari berbagai sumber tafsir klasik dan modern, dan membaginya dalam tiga pengelompokan. Pembagian ini menegaskan bahwa banyak sekali ayat Al-Quran tentang penciptaan manusia yang sama sekali tidak membedakan asal-usul penciptaan antara laki-laki dan perempuan.

Pertama, ayat-ayat tentang penciptaan segala sesuatu (termasuk manusia) dari unsur air (QS. Al-Anbiya’ [21]:30; QS. Al-An’aam [6]:99; QS. An-Nur [24]:45; dan QS. Al-Furqan [25]:54. Ayat-ayat ini, menunjukkan bahwa manusia, sebagaimana bagian alam yang lain, memiliki unsur air di dalamnya, sehingga tidak mungkin hidup tanpa unsur tersebut. Di antara keempat ayat itu, yang paling tegas adalah QS. Al-Furqan [25]:54 sebagai berikut:

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا

Artinya: Dan Dia-lah yang menciptakan manusia dari air, lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan hubungan kekeluargaan, Dan Tuhanmu itu Maha Kuasa.

Berbeda halnya dari ketiga ayat pertama yang mengungkapkan mengenai segala sesuatu, QS. Al-Furqan [25]:54 ini menggunakan kata  “al-basyar”. Seluruh ulama tafsir mengartikannya sebagai manusia, yang mencakup laki-laki dan perempuan sebagai manusia, yang mengandung unsur air. Ayat ini berlaku umum, untuk semua manusia, tanpa memandang perbedaan ras, suku, agama, maupun jenis kelamin.

Kedua, ayat-ayat yang berbicara mengenai penciptaan manusia dari unsur tanah. Di antara ayat-ayat ini, ada yang menggunakan ungkapan “penciptaan manusia” (al-insan, seperti QS. Ar-Rahman [55]:14; QS. Al-Hijr [15]:26 dan 28-29; serta QS. Al-Mu’minun [23]:12), ada yang dengan ungkapan “penciptaan kalian semua” (kum, seperti QS. Nuh [71]:17; QS. Thaha [20]:55), ada juga ungkapan “mereka” (hum, seperti QS. Ash-Shafat [37]:11). Dari ketiga ungkapan ini, yang paling tegas dan jelas adalah ungkapan “al-insan”, yang berarti manusia (mencakup laki-laki dan perempuan). Tetapi, ungkapan “kum” dan” hum” yang secara literal struktur bahasa untuk laki-laki, dengan kaidah taghlib, menurut para ulama tafsir, juga mencakup perempuan. Pada ayat QS. Al-Mu’minun [23]:12 dijelaskan bahwa manusia laki-laki dan perempuan diciptakan dari, atau mengandung unsur tanah.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ سُلَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari satu saripati (berasal) dari tanah.

Kelompok ayat-ayat tersebut mengaskan persamaan unsur tanah yang dikandung manusia laki-laki dan perempuan dalam penciptaan. Jadi, asal keduanya dan unsur utama yang dikandungnya adalah sama yaitu tanah.

Ketiga, ayat-ayat yang berbicara mengenai penciptaan reproduksi manusia, yaitu melalui sperma yang bertemu ovum, lalu menempel di dinding rahim, kemudian berproses menjadi segumpal daging, menjelma menjadi tulang yang terbungkus daging, dan terbentuklah tubuh bayi manusia utuh. Yaitu, dalam QS. Al-Qiyamah [75]:37; QS. Al-Insan [76]:2; QS. As-Sajdah [32]:8; dan QS. Al-Mu’minun [23]:14. Dalam semua ayat, secara jelas dan tegas, sebagaimana juga dikatakan oleh para ulama tafsir, menyatakan bahwa manusia laki-laki dan perempuan diciptakan melalui proses biologis yang sama, yaitu pertemuan sperma dan ovum. Ayat yang paling luas membahas proses biologis dari penciptaan manusia adalah sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ سُلَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ, ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ, ثُمَّ خَلَقْنَا النُطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا العَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا المُضْغَةَ عِظامًا فَكَسَوْنَا العِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأناه خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللّهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah kami ciptakan manusia (pada awalnya) dari saripati tanah. Kemudian Kami jadikan ia (melalui) cairan ‘nutfah’ (ovum yang sudah dibuahi sperma) yang melekat di dalam rahim kokoh. Kemudian ‘nutfah’ itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging, dan segumpal daging itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Dari ketiga kelompok ayat tersebut, bisa ditegaskan bahwa asal-usul kemanusiaan laki-laki dan perempuan adalah sama. Sebab, semua ayat itu berbicara mengenai model-model penciptaan manusia secara umum, tidak mengkhususkan pada laki-laki semata, dan tidak menafikan perempuan. Baik model penciptaan dari unsur air, tanah, maupun penciptaan melalui reproduksi biologis. Dari pernyataan-pernyataan eksplisit ayat-ayat tersebut juga bisa dinyatakan bahwa perempuan sama sekali tidak tercipta, atau bersumber, dari laki-laki. Tidak ada satu pun ayat yang eksplisit yang menyatakan hal demikian. Bahkan, ayat yang implisit pun tidak ada sama sekali. Ayat-ayat ini dengan makna-maknanya yang muhkam (kokoh) dan qath’iy (jelas) seharusnya menjadi dasar bagi seluruh ayat mengenai penciptaan manusia.

Satu-satunya ayat yang sering menjadi rujukan bagi subordinasi penciptaan perempuan adalah ayat pertama dari surat An-Nisa. Inilah ayat yang dimaksud:

يأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا ونِسَاءً واتَّقُوا اللهَ الَّذي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ والأرحَامَ إنَّ اللّهِ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Artinya: Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Tuhan kalian, yang telah menciptakan kalian dari esensi yang satu, kemudian menciptakan dari jenis yang sama (esensi yang satu tersebut) pasangannya, lalu dari keduanya, Dia mengembangbiakkan para laki-laki dan perempuan dengan banyak. Bertakwalah kepada Allah, yang dengan menggunakan nama-Nya, kalian saling meminta satu sama lain, dan ( peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah itu selalu mengawasi kalian.

Ayat ini sebagaimana tergambar jelas, jika menggunakan pembacaan metode muhkam-mutasyabih maupun qath’iy-zhanny, sama sekali tidak ada pernyataan mengenai penciptaan perempuan dari laki-laki, atau bahkan tidak ada juga pernyataan yang tegas dan jelas penciptaan Siti Hawa dari Nabi Adam As. Kata “al-nas” berarti manusia secara umum, laki-laki dan perempuan. Kata ganti “kum” (berarti kamu sekalian) sekalipun secara bahasa adalah bentuk laki-laki, tetapi maknanya adalah umum dan merujuk pada kata sebelumnya, “al-nas”: manusia secara umum. QS. An-Nisa [4]:1 ini hanya bicara penciptaan manusia dari “nafsin wahidah” dan “zawjaha”. Secara bahasa, kata “nafsun” artinya diri, jiwa, atau esensi. Sementara, kata yang kedua artinya adalah pasangannya (pasangan diri tersebut). Tidak menyebut Siti Hawa maupun Nabi Adam As, tidak juga laki-laki atau perempuan.

Jadi secara literal, ayat ini tidak berbicara mengenai penciptaan  Nabi Adam As sebagai yang awal, lalu Siti Hawa diciptakan dari bagian yang ada pada dirinya. Tetapi anehnya, dengan asumsi tertentu yang mengakar di kalangan masyarakat, kata “nafsin wahidah” ditafsirkan sebagai Nabi Adam As, sementara kata “zawjaha” diartikan Siti Hawa. Sekalipun secara literal, sangat jauh mengaitkan kata “nafsin wahidah” dengan Nabi Adam. Begitu pun, tidak ada satu ayat lain yang mendukung hal demikian. Dari tafsir asumtif ini, lahirlah pandangan bahwa Siti Hawa tercipta dari Nabi Adam As. Pandangan ini lalu digeneralisasi untuk yang lebih umum menyasar hakikat kemanusiaan: bahwa perempuan tercipta dari laki-laki, dan laki-laki adalah sumber awal hakikat kemanusiaan, dan karena itu lebih utama dari perempuan.

Lalu dari mana tafsir atas QS. An-Nisa [4]:1 menjadi “penciptaan Siti Hawa dari Nabi Adam As”, padahal secara lafal sama sekali tidak mendukung? Tafsir demikian, seperti disitir oleh Imam Ath-Thabari, didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang datang bukan dari Nabi Muhammad Saw tidak juga dari para Sahabat radhiyallahuanhum. Ulama-ulama tafsir yang memaknai ayat ini sebagai “penciptaan Siti Hawa dari Nabi Adam As” adalah Mujahid, Qatadah, dan As-Suddi. Karena tidak ada rujukannya dari Al-Quran maupun Hadis, beberapa ulama kontemporer menganggap pandangan para ulama klasik tersebut bersumber dari Kitab Perjanjian Lama. Sebab, di dalam kitab suci umat Yahudi dan Nasrani ini, memang ada pernyataan eksplisit mengenai hal tersebut.

Beberapa ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, untuk menguatkan pandangan ulama klasik ini, menyitir sebuah hadis shahih yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Secara literal, teks hadis ini juga tidak berbicara mengenai Nabi Adam As maupun Siti Hawa, sehingga semestinya tidak serta merta bisa dikaitkan dengan ayat tersebut (QS. An-Nisa [4]:1). Tetapi, banyak ahli tafsir, ulama, begitupun masyarakat luas, mengartikan hadis ini dengan ungkapan bahwa “Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam As”. Padahal, teks hadis sendiri secara literal tidak menegaskan hal ini.

Abu Hurairah Ra menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Saling bernasihatlah kalian semua (untuk kebaikan) perempuan. Karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalh atasnya. Jika kamu luruskan, akan patah. Dan jika kamu biarkan, maka ia akan tetap bengkok. Maka (sekali lagi), saling bernasihatlah di antara kalian (untuk kebaikan) perempuan.” (Shahih Bukhari, no. 3366)

Sebagaimana terpampang gamblang dalam teks tersebut, Siti Hawa sama sekali tidak disebut sebagai manusia yang diciptakan dari Nabi Adam As. Ini hanyalah pemahaman asumtif yang jauh dari konteks hadis. Pernyataan “perempuan diciptakan dari tulang rusuk”, sebagaimana disebut dalam teks, juga tidak faktual dan bertentangan dengan realitas. Karena semua manusia diciptakan melalui proses reproduksi biologis. Pernyataan “tulang rusuk” ini harus dipandang sebagai kiasan (majaz) mengenai relasi. Dalam metodologi tafsir, suatu makna yang berlawanan dengan teks-teks sumber, fakta realitas, atau akal pikiran, harus ditarik menjadi makna kiasan.

Makna kiasan ini menjadi sangat korelatif karena di awal maupun di akhir hadis ini, ada penekanan norma untuk berbuat baik kepada perempuan. Makna kiasan yang dimaksud adalah tentang kondisi perempuan yang kaku dan keras kepala, sehingga perlu strategi yang jitu dalam berelasi dan berkomunikasi dengannya. “Tulang rusuk” adalah kiasan tentang “seseorang yang kaku dan keras kepala”, yang jika “dipaksakan akan patah, tetapi jika dibiarkan akan tetap keras dan kaku seperti tulang.” Jadi, bukan soal penciptaan yang faktual perempuan dari tulang rusuk laki-laki, melainkan kiasan metaforis tentang karakter perempuan/istri dan relasinya laki-laki/suami dalam kehidupan rumah tangga.

Kesimpulan pada tulisan ini adalah tidak ada dalil Al-Quran yang konkret mengenai penciptaan Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam As. Al-Quran sendiri mengatakan bahwa proses penciptaan manusia adalah sama, yaitu dari hasil reproduksi biologis dan ini dibuktikan dengan hasil penelitian kedokteran. Selama ini, terdapat miskonsepsi penciptaan Siti Hawa yang beredar di masyarakat yang menyebabkan kerugian besar  pada perempuan. Dampak yang paling nyata adalah subordinasi perempuan dalam suatu relasi sehingga kehidupan perempuan harus ditentukan melalui standar nilai yang dianut laki-laki. Adanya ketimpangan relasi antara perempuan dengan laki-laki  yang  kemudian melahirkan segala bentuk kekerasan dalam kehidupan perempuan.

Sebagai seseorang yang sudah mengetahui fakta dibalik keyakinan seksis  penciptaan perempuan  dari tulang rusuk laki-laki yang sudah mengakar di masyarakat. Kita seyogyanya memberikan edukasi dan informasi yang faktual kepada masyarakat bahwa pernyataan itu adalah salah dan tidak valid, sehingga tidak ada lagi ketimpangan relasi antara perempuan dengan laki-laki dan terciptalah lingkungan masyarakat yang aman dan damai.

Penulis: Shifany Maulida Hijjah
(Owner My Endless Journal)