Belajar dari Tokoh Dinda dalam Film “Kisah Untuk Geri”

350
dinda
Sumber Foto Kompas.com

Di tengah masa pandemi ini, menuntut kita untuk beradaptasi dengan melaksanakan hampir seluruh kegiatan secara daring. Sekolah, kuliah, kerja, rapat, seminar, sampai kegiatan keagamaan sebagian dilakukan dari rumah. Tentunya, kita perlu hiburan tersendiri untuk menghilangkan rasa jenuh selama di rumah saja. Salah satunya bisa mengisi waktu dengan menonton film melalui plattform digital yang ada di smartphone kita.

Baca juga: Akselerasi Kompetensi Madrasah Melalui Computational Thinking

Salah satu film yang sedang hangat dibicarakan adalah film “Kisah untuk Geri”. Film series yang sedang trending lagi-lagi dengan keahlian Manoj Punjabi yang piawai dalam menarik penonton untuk menonton film series Indonesia. Tujuh episode sudah saya tonton film yang menceritakan kisah romansa kehidupan SMA ini, yang mana aktor utamanya adalah Geri dan Dinda. Namun, di sini saya tidak ingin membahas tentang putus-nyambung hubungan mereka. Melainkan, ingin mengambil pesan tersirat dari film tersebut, yang mungkin sesuai dengan realita yang ada.

Dinda korban bullying di sekolah

Pada salah satu episode film series ini, Dinda mendapat nasib yang tidak pernah diinginkan sebelumnya. Ia mendapat kabar bahwa ayahnya menjadi tersangka dalam kasus korupsi di salah satu BUMN. Mendapati hal itu, Dinda dan ibunya sangat shock dan harus rela segala aset yang dimilikinya disita oleh negara. Berita itu pun menyebar luas di berbagai pemberitaan nasional.

Nasib buruk memang tidak pernah diinginkan oleh setiap manusia. Mirisnya, di saat Dinda membutuhkan dukungan dari orang sekitar, ia justru mendapatkan bullying dari teman-teman di sekolahnya. Untungnya masih ada sosok Geri yang setia mendukung dan membelanya dengan mempertaruhkan apa yang dimilikinya demi menjaga Dinda agar tetap menjalani kehidupan dan memperoleh cita-citanya. So sweet..

Perundungan (Bullying) merupakan tindakan yang tidak dibenarkan, baik itu secara verbal maupun non verbal. Mengapa termasuk tindakan yang tidak dibenarkan? Karena dampaknya terhadap korban akan sangat berbahaya. Dalam situs kpai.go.id disebutkan bahwa untuk kasus bullying baik di pendidikan maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan dan trennya terus meningkat. Dampak yang dialami korban kebanyakan mengalami depresi yang mengakibatkan kurang percaya diri, tidak mau bersekolah dan bertemu teman-temannya lagi, bahkan ada yang sampai ingin mengakhiri hidupnya dengan cepat. Luka fisik bisa dicari obatnya, namun luka batin sangat tidak mudah dicari obatnya.

Kejadian ini juga masuk dalam alur cerita film Kisah Untuk Geri. Dalam film itu Dinda mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas jembatan. Akan tetapi, Geri datang di waktu yang tepat untuk membujuk Dinda agar tidak melakukan tindakan konyol itu.

Selain bullying, Dinda juga mendapatkan umpatan dari teman-teman sekolahnya. Ia disebut “anak koruptor”, “pemakan uang rakyat”, dan lain sebagainya. Memang benar, terkadang kita lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada keburukan kita sendiri. Kita merasa puas dan tenang-tenang saja seolah kita tidak terkena dosa atas perbuatan itu.

Menyikapi tindakan bullying menurut ajaran Islam

Dalam surat al-Hujurat, Allah SWT. berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Jelas sudah dari ayat di atas, kita tidak boleh mem-bully atau menghina dan melecehkan orang lain karena kemiskinannya, keturunannya, dan keluarganya yang memiliki aib atau cela. Pesan dari ayat di atas pun begitu luar biasa: boleh jadi yang kau olok-olok (hina) lebih baik di sisi Allah daripada engkau.

Gus Prof. Nadirsyah Hosen dalam bukunya menambahkan, bahwa mem-bully dilarang bukan saja karena menimbulkan malu bagi korban karena kehormatan dirinya dijatuhkan, melainkan juga terselip perasaan bahwa kita yang mem-bully ini lebih baik daripada orang lain sehingga kita berhak melecehkan mereka, atau bisa jadi terselip perasaan iri hati bahwa orang lain itu lebih baik daripada kita dan untuk menutupi ketidaksukaan kita akan kelebihan mereka maka kita mem-bully mereka.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kita berfikir dahulu dalam mengucap atau melakukan sesuatu agar tidak ada orang yang terzalimi atas ucapan dan perbuatan kita. Sebagaimana pesan dari Imam Syafi’i dalam kitab al-Mustathraf Kulli Fannin Mustazhraf yang saya kutip dari Gus Nadir dalam bukunya Tafsir al-Quran di Medsos:

إِذَا أَرَادَ أَحَدَكُمُ الْكَلَامَ فَعَلَيْهِ أَنْ يُفَكِّرَ فِيْ كَلَامِهِ

“Jika hendak berkata, maka berfikir dahulu sebelum diucapkan”

Penulis: Dwi Kurnia Ramadhan
(Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)