Belajar dari Semangat Usaha Warkop – Part 2

102
sukses
Photo by Mihai Varga on Unsplash

Banyak Cara Menuju Sukses

Ada banyak cara sukses yang diraih para pejuang. Meski beragam warna dan kisahnya, namun semuanya membawa pesan sama: tak ada perjalanan tanpa hambatan dan kesabaran. Begitulah, sunatullah telah ditetapkan agar kita tumbuh menjadi sosok yang menghargai proses.

Untuk setiap cita-cita, Allah telah ciptakan jalannya masing-masing. Ada jalan yang terjal, landai atau bahkan bergelombang. Sebagian kita ada yang menapaki jalan dengan terjal, penuh hambatan, kadang terjatuh, tak jarang harus mundur beberapa langkah; butuh waktu panjang untuk mencapainya. Sebagian lagi menapaki jalannya begitu landai, tanpa hambatan berarti dan dalam tempo yang sangat singkat. Namun keduanya sampai di titik kesuksesan meski dengan cara yang berbeda.

Baca juga: Tujuh Alasan Kenapa Doa Tak Kunjung Dikabulkan

Saya bersyukur diberikan para sahabat yang mengalami ragam turbulensi dalam perjalanan kehidupannya. Jika dihitung, lebih dari 10 orang sahabat sewaktu S1 telah menikmati kesuksesannya di luar jalur ijazah yang dimiliknya. Seorang sahabat bahkan kini menjadi direktur di salah satu perusahaan penyedia telekomunikasi.

Di Purwakarta, ada seorang pemilik konveksi sukses dengan produk unggulannya adalah “BH” untuk konsumsi kalangan bawah. Setiap minggu dia harus memasok produknya di Pasar Tanah Abang Jakarta dan Pasar Tegal Gubug, Cirebon. Tak tanggung-tanggung, puluhan ribu kodi BH ia kirim dengan kualitasnya yang sangat baik.

Tak terbayangkan jika kesuksesannya hari ini tak diperoleh dengan mudah. Lima kali ia merasakan kerugian saat mencoba berbisnis ikan, tanah dan lainnya. Bahkan ia harus kehilangan rumah dan tanah untuk menutupi kerugian yang dialaminya. Di titik itu ia benar-benar terjatuh di dasar terdalam, bahkan hampir tak ada harapan untuk bangkit. Semua hartanya telah habis.

Di saat semuanya “seperti” akan terhenti, tiba-tiba ia dipertemukan dengan bos yang lebih dari 10 tahun tak dijumpainya. Ia pernah bekerja di perusahaan konveksi sang bos, itu dahulu saat menyelesaikan bangku kuliah di Ciputat. Tak disangka, sang mantan bos menawarkan untuk memasok BH di dua pasar besar. Ia pun diberi modal berupa mesin dan beberapa peralatan pendukung. Sejak saat itulah ia menjalankan bisnis konveksi memproduksi BH.

“Saya ini orang yang tersesat di jalan yang benar, kang”

Begitu biasa ia bercerita. Maklum saja, kami pernah satu kelas di jurusan Tafsir Hadist UIN Jakarta. Tentunya sangat “melenceng” jauh dari ijazah yang ia pegang dengan usahanya saat ini. Namun begitulah takdir, selalu memberi jalan bagi siapapun yang sungguh-sungguh menjemput rizki yang telah Allah sebar di dunia ini.

Ada satu nilai yang saya jaga dari ceritanya. Setiap pekerjaan itu menyimpan resiko. Kadang manusia dikalahkan oleh ketakutannya padahal ia belum melangkah. Seorang petarung akan mengenali resiko secara seksama, lalu melangkah dengan penuh kepercayaan diri dan tawakal. Secara konsisten melakukan evaluasi atas apa yang tengah dijalani, memperbaiki segala kekurangan yang potensial meruntuhkan jalan yang tengah ditempuh.

Orang-orang sukses bukanlah mereka yang tak pernah salah, bukan pula mereka yang pernah merugi, juga bukan mereka yang tak pernah terjatuh. Jatuh-bangun adalah bagian dari proses alam yang mendewasakan emosi dan mental para pejuang. Semua proses jatuh-bangun itu justru menambah kedewasaan dan ketahanan mental, memberi pelajaran terbaik dalam menyikapi ragam takdir yang akan dihadapi di masa depan.

Cerita ini bukan hanya tentang mereka yang meniti karir dalam bisnis. Ada banyak cerita sukses para penulis, blogger, YouTuber, selebgram dan lainnya juga melewati masa-masa sulit yang tak jarang harus jatuh-bangun membangun karir. Kesuksesan para selebrita media sosial misalnya, itu tak diperoleh dalam waktu singkat.

Cerita Sukses Lain dari Depok

Saya berjumpa dengan seorang selebgram dengan nama @DepokUpdate. Keheranan saya tak tertahankan, bagaimana ia membangun bisnisnya di tengah hadirnya ribuan selebgram lainnya. Bagaimana ia mampu menjadi satu di antara selebgram yang sukses menyita perhatian warga Depok dan sekitarnya.

Sang pemilik adalah lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat. Ia memulai usahanya itu dari iseng, tepatnya di tahun 2017. Ia membuat portal berita yang sederhana di laman Instagram. Mula-mula ia hanya menyajikan berita-berita terusan dari portal-portal berita nasional. Bulan berjalan, ia mulai meproduksi berita-berita, ditambah dengan beberapa tema kuliner, hiburan, hobby dan lainnya. Jadilah @DepokUpdate sebagai rujukan bagi masyarakat Depok untuk mendapatkan informasi. Hingga akhirnya di tahun 2019 followernya mencapai puluhan ribu.

Saya jatuh bangun membangun kepercayaan follower. Intinya bagaimana agar informasi yang kita sajikan secara konsisten tersaji di laman IG kita. Sisanya, kita perlus jaringan, setiap hari saya follow banyak akun. Alhamdulillah, waktu berjalan dan akhirnya @DepokUpdate mulai dikenal.

Menjaga konsistensi ternyata bukanlah hal yang ringan. Gangguan untuk mencoba model bisnis baru yang lebih menjanjikan selalu datang tiap kali melihat orang lain sukses dengan bisnisnya. Namun godaan itu dianggapnya sebagai ujian untuk konsisten menjadi pengisi konten. Ada banyak para pemula yang gugur di awal proses karena tak bisa menjaga konsistensi.

Rasulullah Tauladan dalam Bebisnis

Baginda Rasulullah Saw. adalah sosok yang komplit sebagai rujukan bagi siapapun yang tengah menapaki jalan bisnis. Ialah sosok yang dikenal luas sebagai pribadi yang santun dalam berkomunikasi, cakap dalam bersikap dan konsisten dalam bertindak. Alasan inilah yang menjadikannya sosok utama dalam peletakan hajar aswad di dinding Kak’bah. Saat para kepala suku di Mekkah hampir bertikai untuk menentukan siapa yang akan meletakan hajar aswad, lalu dipilihlah baginda Rasul.

Namun sang putra Abdullah ini tak ingin menunjukkan kemuliaannya sendirian. Ia pun meletakan hajar aswad di atas sorban dan meminta masing-masing kepala suku untuk memegang ujung sorban seraya mengangkat batu mulia itu ke dinding Kakbah. Begitulah, sang Nabi akhir zaman adalah sosok yang sangat dipercaya oleh seluruh qabilah.

Sosoknya sangat cakap dalam menjalankan bisnis. Ialah perpaduan intelegensi dan moralitas, dua sisi yang menjadi syarat sukses dalam berbisnis. Hampir setiap perjalanan berdagang yang beliau ikuti selalu pulang dengan keuntungan dan meningkatnya kepercayaan para pembeli. Para pelaku bisnis pun sangat puas dengan produk yang dibawanya.

Jika akhirnya Sayyidah Khadijah meminangnya sebagai suami, itu adalah sebuah isyarat betapa kesantunan dan keagungan akhlak adalah segala-galanya dalam berbisnis. Khadijah begitu terpesona dengan kecakapan akhlak dan kesantunan sikap sang Nabi terakhir ini. Hingga akhirnya sosok itu menjadi suami sekaligus imamnya hingga hayat memisahkan keduanya.

Ada banyak nilai yang bisa kita pelajari dari sosok baginda Rasul. Tentunya sangat mulia jika tiap-tiap kita belajar menjabarkan nilai-nilai itu dalam lingkup yang sederhana saja, misalnya dalam menjalani karir. Apapun jalan takdir membawa kita, pastikan kesantunan sikap dan kecakapan akhlak senantiasa terjaga.

Proses Tak Pernah Menghianati Hasil

Menghargai proses adalah nilai yang akan menuntun kita pada kedalaman makna. Dalam perjalanan, ada saja godaan untuk mengambil jalan pintas, meski dengan menerobos rambu-rambu. Ada banyak ajakan, godaan dan tawaran agar lebih cepat meraih sukses. Kadang, jalan pintas itu tak lagi menghargai proses.

Menghargai proses sama artinya dengan menikmati proses sepenuh hati. Rasa lapar, dahaga, sakit hati atau lainnya adalah virus yang sering meruntuhkan mental, atau bahkan dapat memicu penyakit kronis lainnya. Seorang atlit hari-harinya disesaki dengan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, seorang pebisnis sering dihadapkan pada kerugian materi, atau sang pejuang cinta yang jatuh bangun ditolak oleh gadis pujaan. Tapi mereka memilih untuk tak terhenti, namun semakin keras berjalan hingga semua rasa sakit, kecewa dan kerugian justru menjadikan imun mentalnya semakin menguat.
Lalu, adakah alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya? Wallahu a’lam.

Penulis: Jaja Zarkasyi
(Penulis Buku Magnet Cinta Tanah Haram)