Belajar dari Semangat Usaha Warkop – Part 1

233
warkop
Sumber Foto Rm.id

Kuningan hanyalah kota kecil di ujung timur Jawa Barat. Tak banyak yang dikenal dari kota yang kental akan legenda Prabu Siliwangi ini. Maklum saja Kota ini bukanlah jalur mobilitas bisnis, tak seperti Kota Cirebon tetangganya. Satu-satunya yang dikenal adalah Gunung Ciremai yang menjulang tinggi memayungi dan mengairi 4 kabupaten di sekitarnya.

Baca juga: Ketika Ustadz Dikoreksi Santri saat Mengajar Nahwu

Pejuang Rupiah dari Tanah Kuningan

Namun cerita itu berbeda dengan kisah para pejuang rupiah dari Kota Kuningan. Contohnya, orang Kuningan selalu mudah dikenali di Kota Jakarta. Tak perlu repot-repot bertanya, jika ada Warung Kopi atau biasa disebut Warkop yang ramai didatangi para tamu, maka itu hampir dimiliki orang Kuningan. Sang Warkop tak terlalu besar, bangunannya sangat sederhana, mungkin hanya cukup menampung 5-8 orang saja.

Bukan cerita soal menu Warkop yang hendak saya perkenalkan. Namun bagaimana Warkop-warkop yang bertebaran di Ibu Kota dan sekitarnya adalah lambang kemuliaan para putra Kuningan. Itulah lambang kegigihan, keteguhan dan keikhlasan menjalani takdir. Di balik Warkop-warkop tersimpan ragam cerita mereka yang tak pernah lelah mencari nafkah guna menghidupi keluarganya, termasuk menyekolahkan anak-anaknya.

Saya tentunya tak ingin menyatakan bahwa semua orang Kuningan adalah penjual dan pemilik warkop. Ada banyak orang Kuningan yang juga sukses di bidang lainnya. Namun cerita tentang warkop rasanya sangat menarik untuk saya tulis sebagai refleksi.

Teguh, Konsisten serta Tawakal dalam Berusaha Adalah Kunci Kesuskesan

Tahun lalu, saya berjumpa dengan beberapa mahasiswa yang tengah berkuliah di Jabodetabek. Ada sekitar 400 orang. Entahlah, apakah ini semua telah hadir atau baru sebagiannya saja. Mereka tersebar di berbagai perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya. Beberapa di antaranya sering bergabung dalam halaqah kecil di Pamulang.

Ada banyak orang tua dari mereka adalah pemilik Warkop. Bahkan ada yang mengambil jurusan favorit dengan biaya semester yang tak murah. Dan mereka dibiayai dari usaha warkop. Saya pun heran, sejauhmana warkop mampu membiayai kebutuhan kuliah di Ibu Kota? Saya pun bertanya mendalam kepada beberapa orang. Dan salah satu informasi yang sangat mahal adalah, warkop itu penghasilannya cukup besar, apalagi jika berada di lingkungan kampus.

Segmentasi warkop tentunya sangat bersahabat dengan dompet para mahasiswa. Untuk sekali nongkrong, biasanya para mahasiswa ini menghabiskan semangkuk mie rebus, segelas kopi dan beberapa batang rokok. Rata-rata warkop beroperasi 24 jam, alias tak ada istirahatnya.

Tahun lalu saya bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh Kuningan, seorang pengusaha dan pebisnis. Kepada saya berseloroh, orang Kuningan itu sudah mendarah daging sebagai Dirut BRI dan Bukopin. Maksudnya? Saya bertanya.

“Orang Kuningan itu sudah terkenal sebagai Dirut Bubur Rokok Indomie (BRI). Sudah tradisi.” Sebutnya dengan tawa ringan.

Tentunya tak terlalu relevan jika saya mengupas penghasilan para saudagar warkop ini.

Cerita tentang Warkop ala Kuningan adalah kisah tentang konsistensi dan ketekunan dalam meniti sebuah bisnis. Dan itu sama artinya dengan menjaga kemuliaan. Ada banyak cerita tentang jatuh bangun para pemilik warkop, namun semua itu tak menyurutkan niat dan tekad untuk menafkahi dan menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.

Tak banyak teori yang mereka kuasai, apalagi kursus atau pelatihan dan sejenisnya. Semua dijalani secara sederhana, sesederhana memaknai takdir. Rasanya takjub saat mendengarkan kisah mereka dalam menapaki usaha Warkop. Satu nilai yang sempat saya peroleh drai kisah mereka adalah, ada banyak jalan kesuksesan yang telah disiapkan bagi siapapun yang teguh dan konsisten serta tawakal dalam berusaha. Bersambung…
Tulisan ini Pernah dimuat Bimas Islam

Penulis: Jaja Zarkasyi
(Penulis Buku Magnet Cinta Tanah Haram)