Bedakan antara Sayang dan Memanjakan Anak.

298
Photo by Caroline Hernandez on Unsplash
Photo by Caroline Hernandez on Unsplash

Oleh: Moh Afif Sholeh

(Guru Bahasa Arab di SMA Islam Cikal Harapan 1 BSD)

Anak merupakan anugerah ilahi, dia sebagai penerus cita-cita orang tuanya. Jika saat ini selalu dimanja , bisa dipastikan akan membawa dampak buruk baginya dan ke orang tuanya sendiri. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua, agar seorang anak menjadi orang yang mandiri serta bermartabat di masa depan, tanpa mempunyai watak yang bermental pengemis, selalu berharap pemberian orang lain.

Dalam sebuah Syair Arab yang dikutip oleh Abu Al-lais as-Samarqandi mengutip dari al-Abrasy:

Artinya: Belajarlah, karena seseorang tak akan menjadi orang yang pintar, orang yang berilmu tak sama dengan orang yang tak tahu. Orang yang terpandang dimasyarakat, jika ia tak berilmu akan menjadi rendah derajatnya.

Dari keterangan diatas, yang perlu ditekankan orang tua kepada anaknya adalah urusan pendidikan. Anak boleh meminta apapun dalam batas-batas tertentu dengan ketentuan sebagai reward atas apa yang ia telah lakukan, bukan mengiyakan semua permintaan anak, tanpa ada faktor untuk mendidiknya, karena hal ini akan menjadi kebiasaan sampai dia dewasa.

Keberhasilan seorang anak ditentukan oleh banyak pihak, mulai dari keluarga, sekolah, kampus, serta lingkungan yang sangat mempengaruhinya, maka peran orang tua harus selalu memantau perkembangan anaknya, tak boleh bertumpu kepada pihak sekolah saja dengan dalih sudah membayar biaya sekolahnya. Waktu di sekolah hanya terbatas, mereka akan menghabiskan banyak waktunya di rumah, tempat mereka bermain, bergaul dengan teman-temannya.

Kewajiban orangtua kepada anak-anaknya diantaranya adalah memberikan nama yang baik tak asal-asalan walau enak didengar, misalnya nama panggilan kerennya Toni tetapi nama lengkapnya sangat kurang baik yaitu “Syaitoni”.

Disamping pemberian nama yang baik, Orangtuanya wajib mengenalkan dan mengajari tentang dasar ilmu agama yang baik terutama yang berkaitan dengan pengenalan kepada Allah sebagai Tuhannya, serta akan kewajiban dalam beribadah dan memiliki akhlak yang baik kepada Allah dan makhluk-Nya.

Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin mengkisahkan tentang seorang tamu dan anaknya yang hendak menghadap kepada Umar bin Khattab tentang prilaku buruk anaknya. Umar lantas menasehati sang anak:”Hendaklah kamu takut kepada Allah dengan cara tak menyakiti orangtuamu, setiap orang tua berkewajiban seperti ini, begitu juga anak memiliki kewajiban begini dan begitu.”

Lantas sang anak bertanya kepada Umar:

”Wahai Amirul Mukminin, kewajiban orangtua kepada anaknya itu apa?”

Umar berkata: “memberikan nama yang baik dan mengajarkannya tentang kitab suci Al-Qur’an,”

Kemudian sang anak menceritakan tentang kejadian Sesungguhnya bahwa Orangtuanya memberikan nama yang kurang baik serta tak pernah mengajari al-Qur’an atau tak pernah menyekolahkan mereka tentang urusan agama.

Umar kemudian berpaling menghadap orang tua sang anak dan mengatakan:

”Kamu bilang anakmu telah durhaka kepadamu, padahal kamulah yang telah durhaka kepada anakmu dengan tak memberikan nama yang baik dan tak mengajarkan kepadanya tentang urusan agama,”

Maka dari itu, keberhasilan seorang anak akan ditentukan oleh semua kalangan, khususnya orang tuanya dengan tidak memanjakannya, tapi mendidiknya dengan memberi teladan yang baik kepadanya karena kebanyakan anak akan meniru pola hidup yang dilakukan oleh orang tuanya, jangan salahkan sang anak bila ia menjadi anak durhaka, bisa saja penyebabnya dari kesalahan orang tuanya yang tak memberikan hak kepada sang anak.