Banyak Kejutan Selama Tinggal di Amerika Serikat

847
Foto oleh Pixabay dari Pexels

Oleh: Muhamad Rosyid Jazuli
(Peneliti di Paramadina Public Policy Institute, Alumni Pesantren Tarbiyatul Falah, Kota Blitar)

Kita semua, saya dan kamu-kamu yang membaca ini, tentu punya momentum-momentum yang mengubah pandangan hidup. Momen-momen tersebut tak jarang menghabiskan energi dan emosi untuk menjalaninya. Tulisan ini adalah refleksi ringan salah satu momentum penting yang mengubah pandangan hidup saya yakni ketika saya menempuh pendidikan di Amerika Serikat melalui program Global Undergraduate Exchange Program atau Global Ugrad.

Jadi, akhir tahun 2010, saya memutuskan untuk mengikuti seleksi program Global Ugrad. Dari beberapa tahapan seleksi, saya dinyatakan lolos sekitar awal 2011. Singkat cerita, saya berangkat ke Amerika Serikat pada akhir 2011. Selama dua semester, saya belajar di North Dakota State University di Kota Fargo, negara bagian North Dakota.

Ketika mengetahui saya lolos seleksi waktu itu, senang sekali rasanya hati ini. Sebab, bukan perjuangan mudah untuk mendapatkan kursi di program pertukaran tersebut. Apalagi waktu itu mulai bertebaran kisah dan postingan di media sosial tentang anak muda ke luar negeri. Wah, saya senang sekali bisa ‘sukses’ seperti mereka.

Ketika saya sampaikan berita ini pada orang tua saya, khawatir mereka tidak setuju atas keberangkatan saya. Namun, ibu saya menjawab bahwa Amerika juga bagian dari bumi milik Allah SWT, jadi pergi saja.

Enak didengar, tak enak dijalani

Program ini mensyaratkan ada rekomendasi dari guru SMA. Waktu itu sedang tinggal dan studi di Jakarta, saya harus pulang kampung ke Kota Blitar. Dengan ongkos seadanya, saya naik kereta ekonomi 18 jam lamanya untuk sampai Blitar. Hanya 3 hari di kampung halaman, saya harus segera Kembali ke Jakarta untuk mengejar deadline pengumpulan aplikasi. Naik kereta ekonomi tanpa AC lagi, 18 jam lagi.

Selain itu, saya harus segera ambil tes toefl ITP yang waktu itu biayanya 350 ribu. Sebagai mahasiswa yang hidup dari beasiswa, itu adalah biaya hidup saya setengah bulan. Berat sebenarnya, tapi mau tak mau harus ambil TOEFL.

Karena proses yang tidak mudah itulah, ketika dinyatakan lolos seleksi, perjuangan itu semua serasa terbayar. Agustus 2011 saya berangkat ke Amerika Serikat sendiri tanpa kawan karena memang begitu mekanisme keberangkatannya waktu itu. Agak kikuk di jalan, tapi akhirnya sampai juga ke Fargo, ND.

Amerika yang saya bayangkan adalah apa yang saya lihat di film, video, dan bacaan yang bertebaran di media sosial. Bahwa hidup di Amerika itu menyenangkan. Ada salju juga. Indah sekali di foto-foto itu.

Pertama kali menginjakkan kaki ke AS, sekejap kegembiraan lolos program pertukaran mahasiswa ini hilang! Mendadak saya merasa seperti orang hilang.

Bahasa Inggris saya waktu itu rupanya tak berguna. Ini adalah kenyataan pahit pertama yang saya harus hadapi. Pendidikan Bahasa Inggris selama ini yang saya ikuti di Indonesia tak pernah ada praktikumnya. Saya selalu mencoba berkomunikasi, namun respon dari lawan bicara saya hampir selalu, “I am sorry, I cannot understand you

Hantaman selanjutnya adalah sejauh saya memandang, semua hal adalah asing. Bangunan yang modelnya berbeda, jalan yang berbeda, orang-orang yang berbeda, dan bahkan pohon-pohonnya berbeda.

Mencari teman, khususnya orang lokal, bukan hal mudah di negara seperti Amerika Serikat. Percakapan, meski berjalan lancar, tak serta merta berbuah pertemanan. Dua bulan pertama, saya tidak memiliki kawan orang lokal, kecuali beberapa teman internasional yang memang senasib. Dan jadilan dua bulan pertama itulah momen paling berat bagi saya.

Waktu itu saya rindu sekali untuk bisa bertemu orang tua dan kawan-kawan di tanah air. Namun, apa daya badan sudah berada di negara yang jaraknya setengah bumi dari Indonesia.

Momentum pahit tersebut menggambarkan, setidaknya bagi saya, bahwa menempuh studi di luar negeri itu enak diperdengarkan, namun jelas tak enak dijalani. Tentu tak ada pilihan lain kecuali berjuang untuk beradaptasi dan menyelesaikan program.

Memperluas pengalaman, pertemanan, dan pandangan

Saya akhirnya berjuang kelas menyesuaikan kemampuan Bahasa Inggris saya dengan apa yang diucapkan oleh orang Amerika. Pernah satu periode saya hampir setiap hari mengunjungi tempat Namanya Diversity Center untuk meminta bantuan seseorang di sana untuk memperbaiki pelafalan kata-kata Bahasa Inggris saya. Dari momen tersebut, Bahasa Inggris saya mulai membaik.

Saya mencoba terus berkomunikasi dengan kawan-kawan lokal saya. Di bulan ketiga, saya mulai mendapatkan beberapa kawan. Yang saya temukan adalah berkawan dengan orang lokal di AS memang berbeda dengan perkawananan dengan orang Indonesia.

Di Amerika, dan sepertinya di berbagai negara maju Anglo-Saxon lainnya, pertemanan dibangun atas kesukaan atau ide (interests) yang sama. Misalnya, kita berteman karena sama-sama suka makan mie goreng, bukan karena duduk semeja di kelas. Kalau di Indonesia, kalau kita tidak kenal teman sekelas rasanya aneh. Di Amerika, itu biasa saja.

Selain itu, saya baru melihat bahwa perbedaan umur tidak menjadi penghalang pertemanan. Sebab, pada umumnya, masyarakat Amerika adalah egaliter. Jadi anak kecil berdiskusi dengan orang jauh lebih tua adalah biasa. Saya pun punya kawan-kawan lokal dari berbagai usia, ada yang lebih muda, seumuran, dan bahwa jauh lebih tua.

Soal cuaca, memang akhirnya saya melihat salju. Cantik sekali melihat salju turun dari langit. Namun kegembiraan itu segera sirna ketika salju tak henti-hentinya turun. Apalagi dinginnya musim dingin rupanya bukan dingin yang main-main. Jika sampai salah perkiraan, misalnya salah kostum ketika keluar rumah pas musim dingin, kita bisa dalam bahaya besar sebab suhu bisa mencapai minus 25 derajat.

Pelajaran penting

Dua semester berlalu, akhirnya saya harus Kembali ke Indonesia, tepatnya Mei 2012. Pengalaman tersebut memberi banyak pelajaran penting yang mengubah pandangan hidup saya, tentu ke arah yang lebih baik.

Pertama, dunia tidak sempit! Ya dunia bukan hanya kampung halaman dan perantauan kota-kota besar di Indonesia. Setiap negara memiliki keunikan dan karakter masing-masing yang seringkali berbeda sekali dengan apa yang kita lihat dan rasakan di Indonesia. Jadi kalau kita berpikir bahwa Indoensia ini negara paling top, mungkin perlu lebih santuy lagi dan coba cari kesempatan untuk keluar negeri melihat negara lain.

Kedua, adat kita, sistem sosial kita termasuk pertemanan, dan pengetahuan kita tentang masyarakat dunia sangat terbatas. Apa yang kita lihat di media bisa jadi tak mencerminkan keseluruhan suasana dan situasi di negara lain. Jika tahu ada kesempatan untuk keluar negeri, ambil atau bertarunglah untuk mendapatkannya dan lihat dan rasakan sendiri betapa banyak hal kita tidak ketahui di dunia ini.

Ini juga menjadi pengingat bahwa ketika kita beranggapan bahwa pandangan kita tentang dunia sudah paling top, mungkin kita perlu mulai lebih rendah hati lagi dalam berpendapat.

Ketiga, usaha keras adalah kunci kehidupan yang lebih baik. Bisa jadi usaha sebaik mungkin tak mengantarkan kita pada kesuksesan, misalnya tidak lolos program beasiswa. Namun usaha yang sungguh-sungguh selalu memberikan pelajaran baru yang lebih banyak ketimbang yang tak sungguh-sungguh. Syukur-syukur usaha itu membawa hasil yang positif.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan studi dengan dukungan beasiswa. Namun apakah itu adalah percobaan saya yang hanya sekali. Tentu tidak. Dari satu beasiswa yang saya terima, setidaknya ada 5 kali percobaan lainnya yang saya sudah lakukan. Itu belum termasuk beberapa kali TOEFL yang gagal dapat skor 500, dan lainnya.

Tahun 2016-2017 lalu saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Selandia Baru, sebuah negara anglosaxon lainnya, dengan bantuan beasiswa. Sebelum mendapatkan kesempatan itu, saya juga banyak mendapat penolakan dari program lainnya. Ya begitulah perjuangan. Tentang ini saya sudah ceritakan lewat video yang ditayangkan Mading.id.