Bangkitnya Pariwisata Indonesia di Tengah Pandemi

279
Bangkitnya Pariwisata Indonesia di Tengah Pandemi
Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Menjelang dua tahun dilanda pandemi Covid-19 membuat kondisi perekonomian Indonesia babak belur. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi cukup dalam hingga -5,32%.

Jika kuartal III pertumbuhan ekonomi kembali terkonstruksi, maka Indonesia dipastikan masuk jurang resesi. Sejumlah sektor industri pun alami kerugian akibat pandemi virus SARS-CoV-2 yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina, akhir tahun 2019 ini tak terkecuali sektor pariwisata.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat, hingga April 2020, total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai Rp 85,7 triliun. Ribuan hotel dan restoran terpaksa tutup, begitu pula dengan sejumlah maskapai penerbangan dan tour operator yang ikut alami kerugian.

Baca juga: Gastronomi Sebagai Branding Wisata Ekonomi Kreatif Indonesia

Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNTWO) jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen selama pandemi jika dibandingkan tahun lalu. Hal itu senada dengan apa yang diakatakan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrasturktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Hari Santosa Sungkari, memprediksi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mentok di angka 4 juta orang.

Menurut perkiraannya, situasi pariwisata sebelum corona harusnya itu ada 18 juta orang, sekarang hanya sekitar 2-4 juta wisatawan.

Bahkan Bali yang merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun manca negara, masih harus menutup pintu untuk wisman hingga akhir tahun sebagai upaya menahan laju penyebaran virus corona di Tanah Air. Pulau Dewata pun mencatat kerugian pariwisata Rp 9,7 triliun setiap bulan.

Anjloknya kunjungan ini praktis berimbas kepada pemasukan pelaku-pelaku pariwisata di Daerah. Namun, terus meningkatnya kasus positif Covid-19 dinilai juga menjadi tantangan dalam pemulohan sektor pariwisata Indonesia.

Maka dari itu, demi membantu mereka yang ‘menderita’, Kemenparekraf telah menyiapkan berbagai kebijakan, salah satunya lewat dana hibah pariwisata.

“Saat ini tengah kami siapkan juknisnya bersama dengan Dirjen Perimbangan Keuangan Daerah Kemenkeu,“ terang Fadjar Hutomo, Deputi Bidang Industri dan Investasi Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Fadjar pun menjelaskan dana hibah ini digunakan “untuk peningkatan implementasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Friendly) guna meningkatkan kesiapan daerah dan industri pariwisata di daerah dalam menerapkan protokol kesehatan.”

Tepat Sasaran

Dikutip dari DW, Pakar kreatif strategi pariwisata, Taufan Rahmadi, mengapresiasi langkah-langkah yang telah disiapkan Kemenparekraf dalam upaya memulihkan sektor pariwisata Indonesia di tengah pandemi sejauh ini, Namun menurutnya, kebijakan-kebijakan yang disiapkan harus mampu menjangkau pelaku-pelaku industri pariwisata secara merata

Partisipasi masyarakat dalam hal ini juga penting untuk menyusun kebijakan-kebijakan yang ada. Hal ini agar kebijakan-kebijakan yang diberikan nantinya tepat sasaran.

”Deteksi mereka, apa yang jadi kebutuhan tourism society saat ini? Sehingga apa? Mereka terlibat di dalamnya, mereka juga merasa memiliki program kementerian pariwisata itu. Jangan eksklusif, harus inklusif,” ungkap Taufan.

Destinasi New Normal

Berdasarkan panduan UNWTO, negara-negara yang selama ini menggantungkan pendapatan melalui sektor pariwisata harus mulai mengembangkan visi pariwisata berkelanjutan  (sustainable tourism). Hal ini penting karena destinasi wisata yang mengembakan visi ini dianggap mampu terus berlanjut meskipun ada tantangan, tak terkecuali disaat pandemi.

Pariwisata berkelanjutan didefinisikan UNWTO sebagai pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat.

Panduan UNWTO juga menganjurkan negara-negara saat ini untuk fokus kepada pasar turis lokal hingga nantinya destinasi wisata siap sepenuhnya dibuka untuk pasar yang lebih besar yakni wisatawan mancanegara. Hal ini pun di usulkan Kemenparekraf kepada pemerintah untuk mengembangkan destinasi wisata dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Pastikan ada destinasi yang memang dia itu new normal destination. Yang secara konsisten mereka menjadi percontohan daripada itu. Sehingga apa? Turis lokal atau wisatawan nusantara ada yang mau berkunjung,” katanya.

Taufan yang juga penulis buku Protokol Destinasi berpendapat bahwa desa wisata bisa menjadi opsi dari new normal destination. “Ketika wisatawan lokal jenuh dan bosan di rumahnya, selain staycation di hotel misalnya, dia bisa jalan-jalan ke desa wisata. Dengan desa wisata bisa maju paling tidak UMKM, mesin daripada ekonomi di bisnis mikro,“ jelas Taufan.

Maka dari itu, untuk mendorong suatu destinasi wisata juga diperlukan ekosistem pariwisata yang ramah dan bisa mendorong pembangunan industri pariwisata di setiap destinasi wisata tertentu melalui ekosistem pariwisata yang amenitas, atraksi, aksesibilitas.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)