Bagaimana Media Literasi Bertahan di Era Banjir Informasi ?

284
Bagaimana Media Literasi Bertahan di Era Banjir Informasi ?
Photo by NeONBRAND on Unsplash

Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Literasi sendiri erat kaitanya dengan minat membaca, utamanya buku. Melalui membaca, kecerdasan dan pengetahuan masyarakat suatu bangsa akan mulai tertata.

Tertatanya sebuah bangsa dalam beragam sektor merupakan faktor dari kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa yang dipengaruhi oleh minat membaca dari temuan-temuan kaum cendekia. Temuan-temuan tersebut diabadikan dalam tulisan atau buku yang menjadi warisan literasi informasi bagi proses kehidupan masyarakat sosial yang dinamis.

Dilansir dari Republika.com, tingkat membaca masyarakat Indonesia sendiri rata-rata nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun.

Baca juga: Kenali Cyber Crime di Era Digital Society

Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku pertahun. Saat bersamaan warga Jepang membaca 10-15 buku dalam setahun.

Fakta tersebut menggambarkan secara gamblang bagaimana kondisi minat baca dan kualitas literasi masyarakat Indonesia yang jauh dari kata ‘melek literasi’. Keperihatinan semacam itu seharusnya menjadi perhatian serius untuk lebih dalam mengenal literasi dimana saat ini kita hidup dibanjiri informasi.

Lebih Dekat Dengan Literasi Di Abad 21

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti.

Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi computer, literasi media, literasi teknologi, literasi ekonomi, literasi informasi, bahkan ada literasimoral. keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melek teknologi, melek minformasi, berfikir keritis, peka terhadap lingkungan dan peka terhadap sosial politik.

Budaya literasi menjadi salah satu budaya yang penting bagi sebuah negara. Itu karena budaya tersebut mampu mempengaruhi kecerdasan dan kesejahteraan sebuah negara.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Internasional Student Assesment (PISA) yang dirilis Organization for Econimic Cooperation and Development (OECD) pada 2019, tingkat literasi di Indonesia pada penelitian di 70 negara berada di nomor 62.

Baca juga: Optimisme Membangun Solidaritas di Tengah Pandemi

Padahal, salah satu upaya peningkatan mutu sumber saya manusia agar cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan global yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia adalah dengan menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca (reading society).

Kenyataan masyarakat masih menganggap aktifitas membaca hanya untuk menghabiskan waktu, bukan mengisi waktu dengan sengaja. Artinya aktivitas membaca belum menjadi kebiasaan tapi lebih kepadan kegiatan ‘iseng-iseng’.

Lalu bagaimana wacana mengenai ‘melek bacaan’ ini menjadi perhatian serius di semua kalangan masyarakat. Ketika melek bacaan menjadi sebuah budaya di Indonesia maka bukan mustahil untuk menjadi bangsa yang tidak hanya berhasil berkembang tetapi juga sebagai bangsa yang maju dan peradaban yang tinggi tentu dimulai dengan bagaimana masyarakanya bijak dalam memainkan media.

Bagaimana Menyikapi Media Di Abad 21

Penerapan literasi digital yang baik dan benar dapat membuat masyarakat jauh lebih bijak dalam menggunakan serta mengakses teknologi. Dalam bidang teknologi, khususnya informasi dan komunikasi, literasi digital berkaitan dengan kemampuan penggunanya. Kemampuan untuk menggunakan teknologi sebijak mungkin demi menciptakan interaksi dan komunikasi yang positif.

Selama puluhan tahun, media arus utama mulai dari TV, cetak, hingga radio, menjadi sumber informasi utama masyarakat. Kini, di era teknologi, era internet, era media sosial, media arus utama bukan satu-satunya sumber informasi masyarakat. Media sosial kini turut serta memproduksi dan menyebarluaskan informasi dengan caranya sendiri, yang seringkali tak terduga.

Informasi yang dihasilkan oleh media cetak, radio dan TV diolah para jurnalis dengan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Mereka memproduksi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahanya, karena melalui proses cek dan ricek yang cukup panjang sebelum dirilis ke publik. Jika pun ada kesalahan atau kurang akurat, media bertanggungjawab untuk merevisi dan memberikan hak jawab.

Sebaliknya, informasi yang diproduksi dan disebarluaskan di media sosial oleh penggunaanya adalah informasi yang tidak perlu memenuhi etika jurnalistik karena mereka memang bukan jurnalis.

Pengguna media sosial adalah masyarakat, perorangan, yang dapat memproduksi informasi apa saja di berbagai layanan media sosial. Bahkan beberapa orang kini membuka kanal sendiri di telegram untuk menjaring audience dan menyebarkan informasinya, sebagaimana yang sudah lebih dulu terjadi di Youtube.

Selain memproduksi informasi, netizen juga menyebarluaskan informasi yang didapat dari media arus utama ke media sosial. Ada yang menyebarkan apa adanya. Persis seperti yang disajikan media arus utama.

Ada yang menafsir dan menulis ulang tafsiranya, baru kemudian disebarkan ke media sosial. Ada pula yanga sengaja mengedit, lalu meyebarkannya, dengan tujuan tertentu, termasuk mencemarkan nama baik, atau menyesatkan informasi.

Nah, didunia seperti inilah kita hidup sekarang, inilah dunia yang disesaki informasi skurat (atau kadang tak akurat) yang diproduksi berdasarkan metode jurnalistik, iniformasi dari situs web yang dipresepsikan sebagai portal berita tetapi tanpa jurnalis dan editor serta bekerja tanpa memedulikan kaidah jurnalistik, serta informasi yang diproduksi warga media sosial yang memang tak memenuhi setandar jurnalistik. Semua bercampur aduk. Saking campur aduknya, informasi yang sama bisa bermakna banyak sesuai tafsir masing-masing pengguna media sosial.

Filter Informasi, Kunci Utama Di Abad 21

Derasnya arus informasi di media abad 21 ini perlu diimbangi dengan kebijaksanaan dalam bermedia. Kebijaksanaan dalam bermedia ini penting karena akan menjadi tolak ukur dalam menyikapi setiap ragam informasi yang menjejali diri kita dengan beragam konteks yang dibawaanya.

Pertama,  Jangan hanya membaca judul. Media online atau media arus utama sangat bergantung pada klik. Semakin banyak klik, semakin terbuka peluang mendapat iklan. Agar memiliki klik yang tinggi biasanya judul dibuat semenarik mungkin bahkan seprovokatif mungkin sehingga terkadang sering melenceng dari isi yang diberitakan. Karena itu jangan terkecoh oleh judul. Baca dulu isinya baru disebarkan.

Kedua, Cek dan ricek. Media boleh memihak. Itu hak media, namun berita yang diproduksinya harus taat kaidah jurnalistik. Artinya, sebagai pembaca kita harus lebih rajin berliterasi dengan media-media lain yang memberitakan sejenis.

Ketiga, Ikuti akun akun terpercaya. Kita bisa berteman banyak di Facebook, bisa mentok sampai 5.000. Kita bebas mengikuti orang lain di Twitter tanpa batasan jumlah, begitu juga di Instagram dan lainnya. Tapi hidup kita akan ruwet jika informasi mengalir terlalu banyak.

Teman di Facebook yang sebelumnya tak pernah kita kenal tapi membanjiri informasi layak di unfollow. Demikian pula di Twitter, unfollow saja akun-akun yang berisik dengan informasi tak akurat. Lebih baik kita mengikuti akun-akun terpercaya, meski berbeda pandangan dengan kita.

Terakhir, Saring via fasilitas penyaring dimedia sosial. Seriap media sosail memiliki fasilitas untuk menyaring informasi, termasuk menyaring kata kunci.

Derasnya informasi bukan berarti membuat kita menutup mata dan telinga terhadap informasi, namun inilah fakta perkembangan informasi yang harus kita imbangi dengan tingginya literasi, sehingga bijak dalam bermedia menjadi kunci peradaban digital yang memajukan bangsa.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)