Ayat Takwa dari Langit dengan Bahasa Bumi

271
Takwa Allah
Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Kembali ke Surah Al-Quraisy. Jadi, ayat yang pertama kita cermati adalah alladzi athamahum min jû, Asal Anda bersungguh-sungguh dengan Allah, Anda tidak mungkin kelaparan. Wa âmanahum min khauf Anda tidak mungkin takut apa-apa. Itu lah hakikat takwa yang sebenarnya.

Sekarang ini banyak orang ketakutan karena tidak terlalu bersungguh-sungguh dengan Allah. Banyak orang korupsi karena takut tidak bisa punya banyak uang. Takut kalau duitnya cuma sedikit. Nekad ingin jadi bupati lagi karena takut kalau tidak jadi bupati lagi. Kita ini takut ini, takut itu, tapi kalau takut istri tidak masalah.

Jaminan Allah kepada Manusia

Urusan manusia di dunia ini sebenarnya cuma dua, takut dan lapar. Tidak ada yang lainnya. Dan, Allah sudah menjamin Anda terlepas dari keduanya. Kalau anda tau, transaksi dengan Allah itu mudah dan enak sekali. Anda beli satu dapat dua dari Allah, membeli dua anda diberi empat oleh Allah. Anda cukup membayar takwa kepada Gusti Allah, may-yattaqillâh. Maka, yaj’allahu makhrajan wa yarzuqhum min haytsu lä yahtasib.

Kurang apa janji Allah, coba? Takwa itu adalah Anda tetap waspada, jangan sampai tidak ingat kepada Gusti Allah. Jangan sampai setelah makan lupa bersyukur, Anda melihat pepohonan jangan sampai tidak ingat siapa yang bikin, dan seterusnya. Pertahankan Allah dalam kesadaran Anda, jangan sampai tidak. Itu namanya takwa.

Takwa itu waspada, bahwa di dalam hidup Allah tidak pernah absen. Siang, malam, dalam keadaan apa pun, sedih, gembira, Allah tidak pernah absen dari hidup Anda. Itu yang namanya waspada terhadap kehadiran Allah. Kalau takwa kepada Gusti Allah, Anda akan mendapatkan dua benefit: masalah akan dihilangkan, dan akan mendapatkan rezeki dari arah yang tidak pernah Anda duga.

Kalau tidak takwa, Anda akan ketakutan ketika dolar naik. Anda akan membayangkan harga-harga ikut naik dan itu akan memberatkan Anda. Itu semua bisa diprediksi-kendati akhirnya akan menimbulkan ketakutan pada diri Anda. Sementara rezeki yang dijanjikan Allah itu tidak bisa diduga dari mana datangnya dan bagaimana bentuknya, asal Anda takwa.

Lihat artikel sebelumnya, Kebenaran dari Langit dengan Bahasa Bumi – Bagian 2

Kehebatan Rasulullah Terletak Pada Ummi

Yag terakhir atau yang ketujuh apa yang lebih pahit daripada racun?, jawaban Sahabat Ali adalah sobru amarru minas summi “Sabar lebih pahit daripada racun”. Pernah njejal ngombe racun?, nek sampean jajal ngombe baygon ngko nak ngarasakno pahit. “pernah minum mencoba minum racun?, jika anda mencoba minum baygon pasti itu rasanya pahit. Sedangkan sabar lebiih pahit dari itu, kita lihat dari perjuangan Rasulullah, Rasulullah juga berusaha dan berjuang dalam menjalankan tugas kenabiannya.

Kanjeng nabi Muhammad itu tidak seperti nabi- nabi lain, oleh Allah diberi mukjizat yang sangat “vulgar” atau terang-terangan. Seperti, Nabi Musa diberi tongkat. Nabi Isa punya kekuatan menyembuhkan, Nabi Ibrahim tidak mempan dibakar, atau Nabi Yunus yang bisa keluar dari perut ikan hiu. Rasulullah dilindungi oleh Allah dengan cara yang tidak ditampakkan kehebatan-kehebatannya.

Beliau adalah ummi, biasa saja. Justru kehebatan Rasulullah ini karena beliau itu seperti manusia pada umumnya. Rasulullah berusaha dan berjuang sebagaimana manusia biasa. Beliau mengalahkan Abu Jahal yang hebat itu sebagai manusia biasa. Artinya, Rasulullah benar-benar berusaha belajar ilmu ekonomi, belajar politik, dan kebudayaan untuk mengalahkan pengaruh Abu Jahal-yang ingin merebut aset air zamzam.

Masalah dengan Abu Jahal itu sebenarnya soal kapitalisme, sama dengan NATO merebut Libia, merebut Trak, dan seterusnya. Rasulullah waktu itu belum jadi nabi. Sejak awal, beliau berusaha melindungi hak-hak itu dengan kemampuan kemanusiaannya. Setiap hari, beliau memberi makan pengemis Yahudi di Pasar Madinah. Pengemis itu membalas semua makanan yang diberikan kepadanya dengan nasihat.

Dan, nasihatnya itu adalah: “Jangan dekat-dekat dengan orang yang namanya Muhammad, dia itu tukang sihir”. Ketika kanjeng Nabi Muhammad mendengar itu, beliau tidak marah, malah senang dan tetap memberi makan orang Yahudi itu sambil mendengar nasihat agar menjauhi dirinya. Caki maki tidak membuat seorang kanjeng Nabi Muhammad marah.

Menjawab Pertanyaan Kritis Pada Rasulullah

Mungkin ada yang coba kritis bertanya: masa Rasulullah tidak tahu diri? Narsis. Karena, dia bersyahadat menyebut dirinya sendiri, asyhadu an lâ ilâha illa Allah wa asyhadu anna Muhammad Rasûlullâh. Masa dia enggak malu? Lalu muncul pertanyaan: Apa benar Rasulullah syahadatnya menyebut namanya sendiri? Itu kan namanya ujub? Itu kan riya? Kalau saya yang ditanya begitu, saya ajak baku hantam orang tersebut. Kalau memang Rasulullah menyebut dirinya sendiri, kamu mau apa? Coba kamu bayangkan repotnya jadi Nabi Muhammad.

Sebagai seorang yang tidak bisa membaca, Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk mengajarkan umat yang bisa membaca agar membaca. Kan repot? Lalu menyuruh orang bersaksi bahwa dia adalah nabi. Bisa Anda bayangkan repotnya bagaimana, sulitnya bagaimana. Apa Anda pikir ketika Muhammad ditahbiskan jadi nabi dia langsung percaya? “Ah, masa?” Kan, gitu.

Maka, jangan anda sinis kepada kanjeng Nabi Muhammad. Tentu beliau merasa berat menyebut namanya sendiri sebagai nabi di depan banyak orang. Iya kalau yang diucapkannya benar. Kalau salah? Iya kalau yang menyuruh beneran Tuhan, kalau setan? Jadi, enggak usah usil.

Terima sajalah kanjeng Nabi dan ajaran-ajarannya. Bersyahadatlah sebagaimana diperintahkan Allah. Setelah itu, yakinlah dengan syahadat Anda, dan Anda bebas mau apa saja di dunia ini asal tetap yakin dengan syahadat Anda.

Penulis: Ahsanu Taqwim