Ayah, Bunda Gadget dan Medsos Membunuhku!

416
Ayah
Photo by Oscar Nilsson on Unsplash

Ayah, Bunda, aku rindu masa kecilku, dimana pada masa itu aku bisa bebas berekspresi, bergaul, berkreasi, dan bersosialisasi bersama teman-teman sebayaku.

Dear Ayah dan Bunda

Aku rindu masa kecil dulu, bermain bareng teman disekolah, bareng tetangga sesaat pulang sekolah tanpa ada yang memisahkan aku dan teman-temanku.

Namun seiring berjalannya waktu, teknologi makin berkembang, negaraku makin maju dan aku tumbuh besar. Datanglah masa baru dimana aku mulai mengenal dunia asing yang dulu aku tidak mengerti dan sama sekali tidak mengenal itu.

Didunia asing ini aku belajar mengenal semuanya, aku mulai mengenal gadget dan dunia maya yang populer dengan sebutan media sosial (medsos).

Dari sini ketidaktahuanku membuat aku jadi mengerti dan makin tahu, namun aku sadar dari situ aku telah dibodohi oleh dunia baruku.

Hari-hariku Berubah Sejak Mengenal Gadget

Sejak saat itu, sejak aku mengenal gadget dan medsos, hari-hariku penuh dengan kesibukan yang mana waktuku habiskan untuk update di medsosku dan berkencan dengan gadget milikku.

Aku lalai lupa akan tugas sekolahku, pekerjaanku, bahkan waktuku aku habiskan untuk mereka. Sampai aku lupa dengan teman-teman didunia nyata.

Artikel terkait Ayah, lihat Ayahku Kekasihku.

Hingga sampai suatu hari, dimana aku yang saat itu secara iseng dan tidak sengaja untuk membuka dan menjelajah didunia maya itu hingga aku menemukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat dan tidak layak bagiku menjadi sebuah tontonan dan mainan yang seolah-olah sudah biasa bagiku.

Game, perjudian online bahkan situs porno begitu mudah aku telusuri dan jelajahi tanpa ada orang yang tahu.

Ayah, Bunda, Tolong Aku!

Dari rasa iseng itu aku mulai terbiasa dengan konten-konten itu hingga membuatku menjadi kecanduan. Bukan hanya itu, di media sosial-pun aku tak kalah dengan yang lain, aku selalu update semua kegiatanku.

bahkan pernah aku gunakan medsos untuk menghujat, memarahi, membenci, hingga saling menyerang dengan orang-orang yang tak aku kenal.

Ayah, Bunda, tolong aku! Aku takut dengan dunia asing yang sudah membuat aku lupa, merubah prilaku, bahkan membuat aku menadi begitu nafsu dan menjadikan mereka dunia kedua bagiku hingga aku kecanduan.

Ayah, Bunda, kini aku sadar bahwa mereka adalah racun bagiku, mereka adalah musuh terbesarku.

Aku sadar ternyata bukan hanya narkoba dan sex bebas saja yang dapat menghancurkanku, ternyata ada musuh terbesar dan racun yang mematikan yang selama ini berkembang didalam hidupku tanpa aku sadari.

Andai Aku Dahulu Tidak Mengenal Gadget dan Medsos

Ayah, Bunda, andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin kembali kemasa kecilku dulu dimana aku bisa bermain bersama teman-temanku, disibukkan dengan hal-hal yang positif.

Aku ingin waktu bersama teman-temanku tak terganggu oleh gadget yang membuat aku dan teman-temanku setiap kali bertemu saling sibuk sendiri, tak pernah berdiskusi, ngobrol bareng, namun saling pamer gadget.

Andai saja aku dahulu tidak mengenal gadget dan medsos, pasti hidupku tak seburuk ini. Andai saja Ayah dan Bunda melarangku untuk mengenakan itu dan tidak membelikan aku gadget pasti tidak akan begini jadinya. Namun apa daya semua sudah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi bubur.

Ayah, Bunda, bagai mana ini? Apakah masih ada waktu untukku mengubah semua? Aku takut apabila gadget dan medsos terus memburuku, bagaimana para penerusku nanti. Jika masaku begini bagaimana dengan masa anak cucuku nanti, pasti akan jauh lebih canggih.

Ayah, Bunda, bantu aku untuk melepaskan mereka, bantu aku untuk merubah semua sebelum habis waktunya.

Semoga sahabat semua bisa mengambil hikmah dari cerita pendek yang penulis coba bagikan melalui tulisan ini. Mari pergunakan gadget dan medsos kita untuk kebaikan dan memberikan manfaat untuk kita.

Salam hangat dan jabat erat.

Penulis : Disisi Saidi Fatah