ASN dan Bonus Demografi Bangsa

268
Upaya Optimalisasi Bonus Demografi Bangsa Terhadap ASN
Photo by Austin Distel on Unsplash

Menjadi ASN buat kebanyakan orang di Indonesia adalah sebuah cita-cita. Kalau ditanya mengapa seseorang ingin menjadi ASN, pasti jawaban yang sering kita temukan yaitu; penghasilannya tetap, terbebas dari PHK, ada uang pensiun, mudah pinjam uang ke bank, ada beasiswa sekolah, fasilitas rumah dinas, tunjangan dan lain-lainya

Ngomongin soal ASN berarti ngomongin soal profesi. Profesi merupakan salah satu asas fungsuonal di dalam masyarakat. Kita sangat terikat dan hampir tidak bisa lepas dengan yang namanya profesi serta buah karya profesi. Profesi juga bisa dikatakan jalan hidup masyarakat Indonesia dalam menghidupi keluarganya.

Memilih profesi adalah hak setiap orang untuk menentukan pilihanya untuk jadi seperti apa dirinya dalam menjalani hidup. Menjadi ASN atau pekerjaan menarik di abad 21 adalah soal pilihan. Namun bagaimana membuat pilihan tersebut menjadi pilihan yang bisa membawa kesejahteran terhadap kualitas hidup.

Baca juga: Menjadi PNS: Antara Mimpi dan Euforia Orang Tua Belaka

Perjalanan ASN dari masa ke masa memiliki banyak sekali tantangan-tantangan. Walau begitu beragam tantangan tersebut tidak menyurutkan banyak orang menaruh harapan untuk memiliki profesi sebagai ASN. Bukan hanya sekedar harapan, untuk meraih profesi ASN butuh perjuangan dan strategi yang tepat.

Pasalnya, pendaftar CPNS (Calon pegawai negeri sipil) setiap tahunnya tetap meningkat sedangkan kursi untuk lolos menjadi PNS tidak mesti meningkat ditiap tahunya, kadang menurun. Namun, realita tersebut tidak mematahkan semangat dan harapan untuk para pendaftar mengadu nasibnya.

Daya minta ASN di abad 21

Melihat generasi di abad 21 ini, masih banyak sekali yang menentukan pilihan masa depanya menjadi Aparat Sipir Negara (ASN). Padahal di abad ini menawarkan beragam profesi baru yang dahulu orang tua kita tidak menyangka akan menjadi sebuah mata pencarian, seperti influencer, selebgram, youtuber.

Seiring berjalanya zaman, profesi ASN memiliki penurunan popularitas dalam benak cita-cita generasi di abad 21 ini. Penurunan popularitas bukan disebabkan feedback yang didapat ASN, melainkan banyak profesi baru di dunia digital yang menawarkan kemudahan dalam menjalankannya, tidak harus menggunakan seragam, kerjanya bisa dilakukan dirumah dan kemudahan-kemudahan lainnya.

Banyakan, profesi di dunia digital sekarang ini menawarkan lebih perihal kesejahteran hidup dan kehidupan yang menjanjikan, bukan hanya soal finansial namun juga popularitas.

Namun begitu, profesi ASN ini tetap menjadi menu pilihan lain yang menarik dengan segala hal yang profesi ASN tawarkan. Ada sedikit perubahan transformasi kerja ASN yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. ASN di abad 21 ini dituntut banyak soal penguasaan dalam hal memanfaatkan teknologi.

Hal ini berbarengan dengan adanya tuntutan sistem kerja work from office menjadi work from home sebagai dampak dari wabah pandemi Covid-19. Masalah-masalah yang timbul selama pandemi dalam sistem kerja ini mengarah kepada pemanfaatan teknologi sebaik mungkin untuk tetap menjaga produktifitas dan pelayanan kepada publik karena adanya kebijakan untuk physical distanching.

Pandemi bahkan telah memaksan masyarakat untuk mengubah sistem kerja menjadi serba digital. Hal ini adalah tantangan, namun, sekaligus momentum bagi ASN untuk lebih adaptif dan terampil dalam menggunakan teknologi.

Hal ini tidak lepas kaitanya dengan misi dan visi reformasi birokrasi Indonesia untuk menjadi world class bureaucracy dan beriringan dengan revolusi industri 4.0. Bagi ASN sudah seharusnya tidak menganggap pandemi menjadi sebuah permasalahan, namun, pandemi adalah peluang untuk belajar dan lebih mengembangkan kompetensi yang dimiliki, khususnya penggunaa teknologi.

Pandemi Covid-19 ini juga dapat dijadikan evaluasi agar seleksi ASN dapat mempertimbangkan faktor kemampuan pengusaan teknologi kedepanya. Walaubagaiaman pun, dampak dari revolusi Industri ini membuat penggunaan teknologi sangat membantu melayani rakyat.

Antara ASN dan Bonus Demografi

Indonesia sudah masuk tahun-tahun bonus demografi yakni antara tahun 2020 hingga 2030. Disebut bonus karena 70 persen penduduknya berada diusia produktif. Perubahan struktur umur pendudukyang menyebabkan menurunya angka beban ketergantungan.

Bonus demografi merupakan suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan. Sebab jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sementara proporsi usia muda semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

Bonus demografi ini juga momentum penting Negara untuk memanfaatkan usia-usia produktif  yang melimpah melalui lowongan-lowongan lembaga atau instasi diseluruh Indonesia ketika mengadakan CPNS.  Karena, bonus demografi dianggap hanya terjadi satu kali disetiap negara, jadi sudah sepantasnya peristiwa ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah dan negara.

Baca juga: Tips & Trick Agar Tetap Fokus Belajar ketika PJJ

Banyak negara yang telah berhasil dan terbukti memanfaatkan bonus demografi dengan maksimalseperti Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. Bonus demografi ini penting dimanfaatkan karena bisa mengubah tingkat perekonomian di sebuah negara, dari negara berkembang menjadi negara maju.

Terdapat beberapa syarat untuk mencapai bonus demografi, beberapa diantaranya dengan melakukan peningkatan pelayanan kesehatan, kualitas dan kuantitas pendidikan, melakukan pengendalian jumlah penduduk dan kebijakan ekonomi semi mendukung terwujudnya fleksibilitas tenaga kerja.

Untuk memetik “anugrah” dari bonus demografi berupa keberadaan penduduk usia produktif yang melimpah, Indonesia harus memastikan kualitas pendidikan dan keterampilan mereka benar-benar baik, termasuk kesiapan menghadapi pasar tenaga kerja global yang kompetitif.

Namun, dalam hal ketenaga kerjaan. Indonesia masih menghadapi dua tantangan besar terkait kualitas pendidikan dan kompetensi pekerja yang sudah ada. Pertama, sekitar 59% tenaga kerja saat ini merupakan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan bahkan mayoritas lebih rendah.

Studi dari program Research on Improving Systems of Education (RISE-SMERU) tahun 2018 melaporkan bahwa mayoritas lulusan sekolah tingkat menengah belum menguasai kemampuan berhitung sederhana yang seharusnya telah dikuasai pada tingkat Sekolah Dasar (SD).

Kedua, pendidikan dan keterampilan yang didapatkan calon tenaga kerja semasa di sekolah pun tidak sesuai dengan kebutuhan dan minimum kompetensi. Akibatnya, dunia kerja sulit mendapatkan tenaga yang benar-benar dibutuhkan.

Berdasarkan catatan Lembaga Demografi (LD) di Universitas Indonesia yang mengolah hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2015, misalnya, terdapat ketidakcocokan tingkat pendidikan pekerja (‘vertical mismatch’) sebesar 53% dari seluruh angkatan kerja.

Artinya, banyak para pekerja yang tingkat pendidikannya lebih rendah dari yang dibutuhkan oleh tempat kerja mereka. Selain itu, mayoritas pekerja juga mengalami yang disebut sebagai ‘horizontal mismatch’. Dalam kasus ini, selain tingkat pendidikannya sendiri, sebanyak 61% pekerja juga memiliki jenis pendidikan, kompetensi, atau pelatihan yang tidak pas dengan kebutuhan tempat mereka bekerja.

Melihat persolan tersebut pemerintah terkait sudah saatnya bekerja sama mengupayakan bonus demografi ini untuk membuka peluang yang besar terhadap kelayakan pekerja dan memperkuat kualitas profesi ASN. Penataan dalam hal seleksi dan kursi bisa diupayakan sebaik mungkin untuk menyelamatkan generasi produktif yang hidup di era bonus demografi.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)