Alfatihah di Istana Negara

288
alfatihah
Sumber Foto www.wowkeren.com

Masih ingat dengan peristiwa yang terjadi di Istana Negara 2015 silam ? Pada saat seorang qari yang bernama Muhammad Yaser Arafat melantukan ayat-ayat al-Qur’an surat an-Najm ayat 1-15 dengan langgam jawa pada peringatan isra mi’raj.

Pada saat itu muncullah pro dan kontra yang terjadi. Mereka yang pro mengutarakan beberapa argumen yang membolehkan hal tersebut. Pihak yang kontra juga turut menyuarakan larangan melantunkan ayat al-Qur’an dengan langgam tersebut.

Baca Juga: Rahasia Lambang di Dalam Huruf Al-Kaf (ك)

Pak Lukman Hakim sendiri selaku Menteri Agama saat itu juga turut menjawab berbagai kritikan atas kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa tujuan penggunaan langgam jawa tersebut untuk menjaga dan melestarikan tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air. Ia juga menjelaskan bahwa di tanah air ini juga banyak sekali didapati langgam pembacaan alquran, masing-masing daerah punya langgam tersendiri.

Berita tersebut bisa dibaca pada berita berikut : Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menag: Pembacaan Al-Quran Langgam Jawa adalah Khazanah Islam Nusantara

Kontroversi Islam Nusantara

Berbicara tentang Nusantara, sekarang, juga sedang hangat-hangatnya perbincangan mengenai Islam Nusantara. Perbedaan pendapat terjadi. Umumnya mereka yang tidak menyetujui Islam Nusantara adalah lantaran mereka menganggap hal itu sebagai agama baru. Tidak perlu adanya pelabelan Islam ini dan itu.

Islam ya Islam. Islam rahmatan lil alamin. Begitulah beberapa kicauan yang selalu disampaikan bagi mereka yang tidak setuju perihal istilah Islam Nusantara.

Adapun mereka yang setuju dengan adanya Islam Nusantara, menyampaikan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru melainkan Islam dengan bercirikan khas nusantara atau singkatnya Islam (di) Nusantara, bagi mereka yang menganggap penyandaran kata Islam dengan Nusantara mengandung huruf jar sebagaimana yang didapati di dalam kajian ilmu nahwu.

Terlepas dari perbedaan sikap pada hal penamaan tersebut, diperlukan adanya pemahaman tentang arti Islam Nusantara itu sendiri. Karena seringkali yang terjadi adalah mereka yang mencibir Islam Nusantara tidak mengenal atau memahami istilah penamaan Islam Nusantara itu sendiri.

Jadi, perbedaan sikap boleh hanya saja perlu adanya satu pemahaman tentang Islam Nusantara, agar perselisihan yang terjadi bukan lantaran disebabkan ketidakpahaman istilah melainkan saling memberikan argumen yang pas dan tepat di dalam pembahasan tersebut.

Kasman Singodimedjo dan Lagu Alfatihah

Saat ini saya sedang ‘iseng-iseng’ membaca sebuah buku biografi yang saya temukan di perpustakaan pondok. Buku biografi itu membahas perjalanan seorang tokoh bernama Kasman Singodimedjo.

Judul buku ini adalah Hidup Itu berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun. Buku ini disusun oleh sebuah panitia di bawah pimpinan Mohamad Syaaf dibantu oleh saudara Sabir yang diganti dengan Saudara Mundhir yang selanjutnya diganti juga oleh saudara Soemarso Soemarsono.

Buku ini merupakan cetakan pertama. Tepat di halamannya tercantum cetakan pertama tahun 1982. Buku dengan cover menggunakan warna hijau dengan sebuah foto bapak Kasman yang tampat berwibawa dan karismatik.

Bapak Kasman merupakan mantan Menteri Muda Kehakiman pada kabinet Amir Sjarifuddin II, Ketua KNIP (Ketua Nasional Indonesia Pusat) yang merupakan cikal bakal lahirnya DPR. Beliau juga pernah menjabat sebagai Jaksa Agung Indonesia periode 1945-1946.

Saat baru membaca beberapa halaman dari buku ini, saya menemukan seseuatu yang unik dan menarik. Yaitu perihal Pak Kasman menciptakan sebuah lagu Alfatihah. Lagu tersebut Ia ciptakan pada saat menjadi tahanan pada zaman penjajahan Belanda. Beliau menjelaskan bahwa lagu Alfatihah itu mempunyai arti sejarah dan kenangan yang besar bagi beliau.

Alfatihah untuk Semua Bangsa

Lagu alfatihah ini merupakan surat alfatihah yang dilantunkan bukan dengan langgam yang biasa kita kenal seperti Rosd, Nahwan, Husaini dan sebagainya. Namun, surat ini dilanggamkan dengan melodi lagu Indonesia tempo dulu. Akhirnya saudara M. Thoifur Syairozi membuatkan notasi dari lagu alfatihah ini.

Beliau juga menambahkan bahwa sebaiknya siapa saja yang akan mempelajari lagu tersebut harus mengerti dahulu cara membaca alfatihah yang benar, baik tajwid maupun makhrojnya.

Beliau juga menambahkan,

“Saya sendiri masih tetap berpendapat bahwa hal itu masih mungkin, sebab itulah keistimewaan Al-Qur’an. Yaitu bahwa meskipun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab tetapi karena Al-Qur’an adalah wahyu maka bangsa apapun di dunia ini dapat melagukannya dengan melodi-melodi yang telah tumbuh pada bangsa-bangsa itu dan tentu saja asal tidak bertentangan dengan tajwidnya.”

Islam yang dihiasi dengan Kebudayaan

Ternyata jauh sebelum peristiwa “langgam Jawa” pada peringatan isra mi’raj di Istana Kepresidenan, pada tahun 1984 juga sempat ada lagu alfatihah yang diciptakan oleh Pak Kasman dengan menggunakan melodi Indonesia.

Secara tidak langsung Pak Kasman memadukan Islam dengan budaya Indonesia. Perpaduan surat alfatihah dengan melodi lagu Indonesia tempo dulu memperjelas suatu identitas Islam di Nusantara.

Bahwa keberadaan Islam di Nusantara mempunyai ciri dan keunikan tersendiri. Dia bukanlah agama baru hanya saja agama Islam yang dihiasi dengan kebudayaan Bangsa Indonesia selama ia tidak bertentangan dengan syariat agama Islam.
Semoga Allah senantiasa menjaga Islam (di) Nusantara.

Penulis: Zaim Najibuddin Rahman, Lc. S.Pd