Albert Einstein: Ilmuan-Seniman Par Excellence

334
Albert Einstein
https://www.classicfm.com/discover-music/latest/quotes-about-classical-music/albert-einstein/

Einstein; Ilmuwan Juga Seniman

“Ilmuwan terbesar adalah seniman juga,” kata Albert Einstein. Sebagai salah seorang fisikawan terbesar sepanjang masa serta pianis dan pemain biola amatir yang bagus, Einstein pasti menyadari hal tersebut.

Bagi Einstein, wawasan tidak datang dari logika atau matematika, melainkan, seperti halnya seniman, datang dari intuisi dan inspirasi.

Seperti yang dia katakan kepada seorang temannya, “Ketika saya memeriksa diri saya dan metode pemikiran saya, saya memperoleh kesimpulan bahwa karunia imajinasi lebih berarti bagi saya daripada bakat untuk menyerap pengetahuan mutlak (absolute knowledge).”

Dia menambahkan, “Semua prestasi besar sains harus dimulai dari pengetahuan intuitif (intuitive knowledge). Saya percaya pada intuisi dan inspirasi… Kadang saya merasa yakin bahwa saya benar saat tidak mengetahui alasannya.” Menurut Einstein, untuk menghasilkan karya kreatif dalam sains, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.”

Lalu apa yang membuat seni berbeda dari ilmu pengetahuan dalam pandangan Einstein? Menurutnya, perbedaan antara seni dan sians tidak terletak pada isi dari sebuah ide, atau subjeknya. Hal yang menentukan apakah sesuatu itu seni atau sains adalah bagaimana ide itu diungkapkan.

Perbedaan Seni dan Ilmu Pengetahuan

“Jika apa yang dilihat dan dialami digambarkan dalam bahasa logika, maka itu adalah ilmu pengetahuan. Jika dikomunikasikan melalui bentuk-bentuk yang konstruksinya tidak dapat diakses oleh pikiran sadar, tetapi dikenali secara intuitif, maka itu adalah seni.”

Einstein sendiri bekerja secara intuitif dan mengekspresikan dirinya secara logis. Itu sebabnya dia mengatakan bahwa ilmuwan hebat juga seorang seniman. Dalam suatu wawancara, Einstein menghubungkan wawasan ilmiah dan intuisi terutama pada musik.

“Jika saya tidak menjadi seorang fisikawan,” katanya, “Saya mungkin akan menjadi seorang musisi. Saya sering berpikir dalam musik. Saya menghidupkan angan-angan saya dalam musik. Saya melihat hidup saya dalam bahasa musik… Saya mendapatkan sebagian besar kegembiraan dalam hidup dari musik.”

Anaknya, Hans, memperkuat apa yang dimaksud Einstein dengan menceritakan bahwa “setiap kali dia merasa bahwa dia telah sampai di ujung jalan atau dalam situasi sulit dalam pekerjaannya, dia akan berlindung dalam naungan musik, dan itu biasanya akan menyelesaikan semua kesulitannyav.”

Setelah bermain piano, saudaranya Maja berkata, dia akan bangun dan berkata, “Nah, sekarang saya mengerti.”

Sesuatu dalam musik seringkali memandu pikirannya ke arah baru dan kreatif.

Hubungan Antara Musik dan Sains

Menurut Mueller, salah satu kolega Einstein, Alexander Mozskowski pernah mengatakan bahwa “Einstein mengakui hubungan yang tidak dapat dijelaskan antara musik dan sains, dan mencatat bahwa mentornya, Ernst Mach, mengindikasikan bahwa musik dan pengalaman aural merupakan organ untuk menggambarkan ruang.” Musik juga mewujudkan waktu.

Mueller menduga bahwa kecenderungan fisikawan terhadap logika abstraksi arsitektonik diformulasikan oleh pengalaman musikal awal Einstein, dan bahkan diperbesar oleh perjuangan konstan untuk merasakan pengalaman musikal yang membantunya membangun sebuah struktur persepsi mental yang kaya akan ruang dan waktu untuk membangun teori ilmiahnya.

Pengalaman Einstein di atas—serta banyak contoh lain yang tidak mungkin didedahkan satu per satu di sini—memaksa kita untuk memikirkan ulang hubungan antara seni dan sains, antara kecerdasan afektif dan kecerdasan kognitif, atau antara “homo aestheticus” dan “homo academicus”; apakah kedua kategori tersebut merepresentasikan jenis intelegensi yang berbeda?

Di satu sisi, beberapa teori kognitif, seperti teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences) Howard Gardner, memperdebatkan gagasan tentang domain spesifik yang terkait dengan spesialisasi disipliner dan mengasumsikan bahwa keterampilan yang dipelajari dalam satu domain tidak menginformasikan keterampilan pada domain yang lain.

Berbagi Pengalaman Einstein

Di sisi lain, pengalaman Einstein dan para ilmuan-seniman atau seniman-ilmuan lainnya menunjukkan bahwa individu kreatif biasanya adalah orang-orang polymath yang berpikir dengan cara trans-disiplin.

Artikel mengenai Seniman dan Ilmuan, dapat dilihat di Seniman vs Ilmuan: Mitos Otak Kanan dan Otak Kiri

Robert Root-Bernstein menyebut jenis orang-orang seperti ini sebagai individu yang memiliki “bakat korelatif” (correlative talents).

Istilah bakat korelatif merujuk pada gagasan bahwa keterampilan atau kemampuan di beberapa bidang yang berbeda pada dasarnya dapat diintegrasikan untuk menghasilkan hasil yang mengejutkan dan efektif.

Sebagai contoh, keterampilan yang terkait dengan musik—seperti pengenalan dan pembentukan pola, kemampuan kinestetik, pencitraan, kepekaan estetik, analogisasi dan analisis, dan bahkan pemahaman tentang musik itu sendiri—seringkali menjadi komponen penting dari bakat korelatif banyak ilmuwan terkenal.

Berdasarkan fakta tersebut, Bernstein berkesimpulan bahwa pemikiran kreatif (creative-thinking) pada dasarnya bersifat trans-disipliner dan dapat dipindahtangankan dari satu bidang ke bidang lainnya.

Einstein, sekali lagi, merupakan salah satu contoh pemikir kreatif par excellence dalam kasus ini.

Saat ini, spesialisasi telah menjadi fenomena tak terelakkan. Namun demikian, over-spesialisasi dapat menghancurkan kreativitas, yang hanya dapat tumbuh subur dalam keterbukaan pikiran (open-mindedness).

Bermain (play) tetap menjadi bentuk pembelajaran utama, berapapun usia seseorang. Goethe dan Edison, misalnya, tidak pernah memiliki pendidikan formal.

Einstein dan Picasso menentang sistem sekolah tradisional, dan para pencipta lainnya mengabaikan disiplin akademis. Fakta ini mengisyaratkan bahwa ketiadaan batasan memberi kesempatan yang lebih baik untuk mendekati dunia secara kreatif.

Meskipun demikian, nilai pendidikan formal dan latihan formatif yang fleksibel tidak dapat diabaikan sama sekali.

Teori-teori pendidikan mutakhir menunjukkan bahwa pembelajaran saat ini sedang didefinisikan ulang, yang mencerminkan sebuah upaya untuk memperluas pendidikan melampaui segmentasi tradisionalnya.

Para psikolog, misalnya, mengakui eksistensi bentuk-bentuk kecerdasan transversal: spasial, sosial, verbal, dan lain-lain, yang melampaui batasan pengetahuan artistik atau ilmiah.

Teori Belajar dan Pembelajaran Kontekstual

Teori belajar dan pembelajaran (learning and instructional theory) kontemporer juga telah menunjukkan beberapa keterbatasan sistem pembelajaran tradisional dan memperkenalkan pelbagai metode dan strategi pembelajaran baru yang berpusat pada siswa (student-centered learning) dalam rangka mendorong kreativitas dan kemandirian siswa, seperti “contextual teaching and learning” (CTL), “problem-based learning” (PBL), “case-based learning” (CBL) dan “arts-based learning” (ABL).

Model pembelajaran yang terakhir, ABL, cenderung memanfaatkan medium artistik dan estetik baik dalam bentuk visual, teatrikal, puitik dan sebagainya dalam proses pembelajaran.

Model ini mencerminkan strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk berpikir kreatif, mendorong pemahaman tentang ragam perspektif, dan sekaligus menghubungkan ranah pembelajaran kognitif dan afektif.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seni di sekolah memiliki dampak positif terhadap perkembangan kognitif dan afektif siswa.

Sebagai contoh, Anne Bamford dan Michael Wimmer, dalam The Role of Arts Education in Enhancing School Attractiveness: A Literature Review (2012), menyuguhkan hasil penelitian sebagai berikut:

(a) Pendidikan seni yang berkelanjutan dapat meningkatkan pencapaian akademik (academic attainment); (b) Pendidikan seni memperbaiki iklim sosial sekolah dan mengurangi interaksi sosial yang negatif dan perilaku anti-sosial; (c) Pembelajaran seni di sekolah memberikan peluang komunikasi dan perkembangan emosi yang pada umumnya tidak menjadi bagian dari mata pelajaran sekolah lainnya.

Sebagian besar sistem pendidikan di dunia bahkan telah memasukkan pendidikan seni dan budaya sebagai bagian dari kurikulum wajib (compulsory curricula).

Organisasi-organisasi internasional—seperti UNESCO—juga telah menunjukkan minat yang semakin besar terhadap pendidikan seni dan budaya dalam beberapa tahun terakhir.

Tren tersebut juga telah diikut oleh Indonesia yang memosisikan pendidikan seni dan budaya sebagai salah satu kurikulum wajib dalam sistem pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam Pasal 37 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Penulis: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)