Aktualisasi I’rob dalam Pendidikan Karakter

176
photo by baladena.id

Pendidikan memiliki posisi penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta menyiapkan para calon future leaders yang siap menghadapi tantangan perubahan zaman. Hal ini didasarkan oleh hakikat pendidikan sebagai usaha mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup di zamannya kelak.

Pendidikan Islam yang diharapkan mampu menjadi salah satu aktor dalam mewujudkan cita-cita tersebut, kini mengalami tantangan yang cukup serius. Bahkan, masih ada pandangan publik yang menyatakan pendidikan islam identik dengan kejumudan, kemandekan, dan kemunduran.

Kesan ini tentu saja diakibatkan oleh dua faktor, baik eksternal maupun internal. Derasnya arus globalisasi dan masifnya pengaruh dunia barat membuat kiblat pendidikan seolah-olah mengarah kesana. Sementara internal masyarakat islam sendiri menjadi salah satu penyebab kesan negatif tersebut bermunculan. Hal ini tentu terbukti dalam beberapa aksi radikalisme, ekstrimisme, sampai terorisme yang mencuat sebagai headline berita di dunia.

Baca juga: Menyikapi Atrisi Moderasi Beragama

Ironisnya perilaku demikian ini diklaim berdasrkan ajaran agama Islam dengan dalil-dalil berbahasa Arab, baik al-Qur’an maupun hadits. Krisis politik, ekonomi, dan militer di negara-negara muslim pun turut serta memperburuk citra islam termasuk pendidikan islam.

Salah satu faktor yang dianggap menjadi biang keladi dari fakta-fakta di atas adalah kemerosotan nilai etika, moral, karakter dan agama. Pernyataan ini didukung oleh pandangan filsafat perenialisme Seyyed Hosen Nasr yang muncul akibat reaksinya terhadap apa yang ia sebut sebagai krisis manusia modern.

Aplikasi Rafa’ Sebagai Pendidikan Karakter

Sebagai upaya mengajukan problem solving terhadap kemerosotan etika, gramatikal Arab sesungguhnya memiliki kandungan nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dijadikan salah satu sumber inspirasi. Al-Qushayri dalam Nahwu al-Qulu>b menyebutkan:

فرفع القلوب قد يكون بأن ترفع قلبك عن الدنيا وهو نعت الزهاد، وقد يكون بأن ترفع قلبك عن اتباع الشهوات والمنى وهو نعت العباد وأصحاب الأوراد والاجتهاد، وقد يكون بأن ترفع قلبك عنك وتعتقد أنه لا يجئ منك شئ وهذا نعت أصحاب الانكسار وأرباب الخضوع والافتقار

Rafa’ (الرفع) menjadi aktualisasi pendidikan karakter dalam aplikasinya berupa menghindarkan hati (بأن ترفع) dari beberapa sifat yang dinilai tercela (al-akhla>q al-madhmu>mah). Secara morfologis pemilihan bentuk kata ترفع menunjukkan bahwa seorang hamba harus mengupayakan sekuat tenaganya dan mengerahkan segala kemampuannya secara sadar dan penuh kesungguhan dalam membentuk hati yang merepresentasikan karakter positif. Adapun akhlak tercela yang dimaksudkan agar hati menghindarinya adalah sebagai berikut:

    1. Akhlak tercela yang pertama ialah kecintaan dan memperbudak diri kepada duniawi. Sehingga seorang hamba dituntut untuk mengupayakan agar hatinya terhindar dari penjajahan duniawi. Dalam mengarungi tatanan farq dalam hati seorang hamba, ia dituntut untuk memiliki sifat zuhud. Zuhud menururt al-Junaid merupakan sikap menolaknya hati terhadap gemerlapnya duniawi, tidak gembira dan berbangga diri atas apa yang dicapai dari suatu keduniawian, dan tidak bersedih serta merasa kekurangan atas apa yang tidak dicapai.
    2. Kedua, akhlak tercela yang dimaksud adalah mengikuti hawa nafsu dan hasrat fatamorgana. Sehingga seorang hamba dituntut untuk mengupayakan agar hatinya tidak diperbudak oleh syahwat dan angan-angan yang bersifat fana’. Akhlakseperti ini merupakan na’at dari para ahli ibadah, serta para pelaku wirid dan muja>hadah.
    3. Ketiga, akhlak tercela yang dimaksud adalah klaim atas superioritas diri sendiri. Sehingga seorang hamba dituntut untuk mengupayakan agar hatinya tidak merasa superior, paling istimewa, dan merasa memiliki pengaruh atas sesuatu hal. Dalam istilah lain disebut dengan tawad}u’ atau sejalan dengan pengertian al-Qushayridari kalimat أصحاب الانكسار وأرباب الخضوع والافتقار.

Menepis Pandangan Buruk Ajaran Islam

Zuhud, beribadah, muja>hadah, serta tawad}u’ merupakan beberapa konsep pendidikan akhlak yang tertuang dalam terminologi rofa’ escara esoterik. Ini merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh seorang hamba dalam mengarungi perjalanan farq-nya.

Selain itu al-Qushayri juga menambahkan dengan beberapa sifat lain yang semestinya sudah otomatis harus melekat pada diri seorang hamba tanpa perlu usaha yang cukup berat dan terikat dengan waktu. Ini disebabkan dari refleksi penggunaan kata (برفع) dalam bentuk masd}ar. Seperti yang penulis cuplik versi Arabnya sebagai berikut:

وقد يكون برفع القلب إلى الحق وتصفيته عن شهود الخلق، وقد يكون برفع يدك عن الحرام ثم برفع ما تضمره من إثبات الأنام ثم ترفع يدك إلى الله بسؤال الحاجات، ثم ترفع الحاجات عند إحكام المحبة حتى تكون بالله لله تمحو ما سوى الله

Akhlak seorang hamba dalam menjalani kondisi farq sudah semestinya secara otomatis meninggikan Allah di dalam hatinya, sehingga ia tidak menghamba kepada selain-Nya. Sehingga menghindarkan hati dari sikap shirk (الشرك) merupakan sebuah sifat yang harus secara otomatis tanpa membutuhkan usaha yang berlebih untuk mewujudkannya di dalam hati.

Kedua, seorang hamba dalam kondisi farq secara otomatis harus memiliki sifat menghindarkan diri dari seuatu yang haram. Dan terakhir, senantiasa melalui seluruh daya upaya agar selalu berdo’a memohonkan (ترفع) segala haja>t kepada Allah semata. Melalui do’a, seorang hamba mewujdukan sikap penghambaannya kepada Allah swt. Sebab, doa merupakan ungkapan lahiriah kebutuhan penghambaan.

Penulis: Rizki Fathul Huda, MA
(Awardee Program Magister Lanjut Doktor Kemenag – UIN Jakarta)