Aktor Demokrasi dan Perlawanan Estafet Sebelum Reformasi

486
Demokrasi
Foto oleh Gabby K dari Pexels

Saya sering mengidentifikasi kemalasan pada diri sendiri lewat selera dan durasi bacaan dalam waktu tertentu. Sepakbola biasanya adalah tema terakhir yang menyelematkan saya untuk tetap sudi membaca ketika rasa malas benar-benar bertaut. Sementara tema-tema gerakan sosial kerap menjadi selera bacaan untuk menyingkirkan kamalasan agar segera cabut.

Buku “Aktor Demokrasi” Berhasil Menarik Perhatian Saya

Aktor Demokrasi, sebuah buku hasil penelitian Institut Arus Informasi Indonesia (ISAI), menjadi bagian dari atribut melepas rasa malas di pertengahan bulan valentine kemarin. Demi melengkapi bulan kasih sayang itu, rasanya akan lebih mesra bila sempat saya rangkum kisah-kisah gerakan sosial yang tertuang dalam buku setebal 282 halaman itu. Setidaknya barang hanya sekelumit, dimana ulasannya memuat momen-momen penting demokratisasi masyarakat sipil yang mencuat sebelum peristiwa reformasi 98′.

Demokrasi
Buku Aktor Demokrasi

Latar belakang buku ini sebetulnya adalah penelitian yang dinakhodai oleh Arif Budiman dan Olle Tornquist. Selain mereka berdua, terlibat sosok Goenawan Mohamad dan Adnan Buyung Nasution, Ketua YLBHI. Keduanya memberikan peran penting sebab memungkinkan terjadinya kerjasama projek penelitian ini.

Baca juga: Resensi Buku Feminist Edges Qur’an “Tepi Feminis Al-Qur’an”

Aktor Demokrasi merupakan studi yang mempelajari para aktor prodemokrasi di era pemerintahan otoriter Orde Baru. Beberapa hal yang ingin disimak di antaranya siapa tokoh yang terlibat, bagaimana karakteristik tokoh-tokohnya, isu apa yang mereka perjuangkan dan bagaimana bentuk perjuangannya.

Peran mereka sangat penting dicatat dalam memberikan perlawanan menentang pemerintah. Dalam keadaan di mana masyarakat dibatasi kebebasannya, setiap usaha yang menentang pemerintah, apapun alasannya, akan punya dampak untuk pergerakan demokrasi.

Gerakan prodemokrasi

Gerakan prodemokrasi tahun 90-an ini berusaha memperlemah pemerintahan otoriter. Bila gerakan ini berhasil, dia akan memperluas ruang demokrasi yang sebelumnya dibatasi. Kalaupun gerakan ini gagal, paling tidak gerakan ini bisa memberikan inspirasi kepada kelompok yang ada di masyarakat bahwa pembatasan kebebasan yang dilakukan pemerintah itu harus dilawan.

Kita semua tahu, gerakan prodemokrasi ini berujung pada gerakan mahasiswa di Jakarta pada bulan Mei tahun 1998, dimana akhirnya berhasil mendesak presiden mengundurkan diri dari jabatannya. Lewat buku ini, keberhasilan reformasi itu disebut sebagai hasil dari kerja bersama yang panjang secara estafet. Bukan semata gerakan mahasiswa, terlibat banyak kelompok dan perorangan yang sebelumnya sudah memberikan sumbangan dalam membentuk bangunan demokrasi, dimana proses akhirnya digawangi oleh mahasiswa.

Arief Budiman secara khusus menulis tentang beragam gerakan pro-demokarasi selama Orde Baru berkuasa, baik dalam metodenya (koreksi dan konfrontasi), keluasan daerah geraknya (lokal, nasional, internasional), maupun para aktornya (mahasiswa, pers, partai politik).

Dari beragam gerakan itu dipilihlan tujuh kasus yang menjadi amatan besar sesuai dengan topik permasalahan dalam penelitian ini. Kasus-kasus terpilih itu meliputi Gerakan Petani Kedung Ombo(1989), Kasus Nipah di Madura (November 1993), Pemogokan Buruh di Medan (April 1994), Pembredelan Minggua Tempo (Juni 1994), Kasus Amungme di Irian Jaya (April 1996), Kasus PDI Pimpinan Megawati(April 1996), dan Kasus Anti-Kuninganisasi di Solo (Mei, 1997).

Terhubung dengan berbagai Bacaan Seputar Pertistiwa 1998

Membaca buku ini akan sangat terhubung bila sebelumnya pernah menyimak bacaan seputar peristiwa 98′, baik fiksi maupun nonfiksi. Beruntung saya usai menghabiskan dua jilid Anak-Anank Revolusinya Budiman Sudjatmiko, Laut Berceritanya Leila S Chudori dan sedikit buku yang masih berkaitan, Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang.

Dari tujuh kasus yang diamati hanya empat kasus yang membuat saya tertarik. Bukan berarti tiga kasus lainnya tidak penting, melainkan empat kasus meliputi Kedung Ombo, Pembredelan Tempo, Kasus PDIP dan Suku Amungme bisa mencuat lebih luas dan memiliki tali hubung sampai ke nasional bahkan internasional.

Dua kasus di daerah (Kedung Ombo dan Suku Amungme) mengulas perlawanan masyarakat yang bisa mencuri perhatian publik dari regional-nasional-internasional.

Pembangunan waduk di Kedung Ombo memaksa petani mempertahankan tanahnya terhadap pemerintah yang akan menggusurnya. Sementara Suku Amungme melakukan protes karena pemerintah bekerjasama dengan pihak asing, memanfaatkan sumber alam mereka, memperkaya diri sendiri, dan mengabaikan masyarakat setempat tetap miskin dan dipaksa hidup dalam kebudayaan zaman baru.

Dua kasus di daerah ini mengundang perhatian kelompok mahasiswa dan organisasi non pemerintah, bahkan bisa menyuarakan hingga mendapat dukungan dari ornop lain dan masuk dalam radar Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dua kasus di Jakarta, Pembredalan Mingguan Tempo dan Kasus PDI Megawati, memberikan garis hubung yang jelas perlawanan masyarakat menengah atas di ibu kota. Wartawan Tempo didukung masyarakat kelas menengah melakukan protes terhadap pembredelan tiga media yang sangat populer waktu itu: Tempo, Detik dan Editor. Sementara anggota-anggota partai PDI yang dipimpin Megawati melakukan protes terhadap intervensi yang sewenang-wenang dari pemerintah dalam rangka menguasai partai tersebut.

Dari tujuh kasus di atas, Arief dan Olle menggarisbawahi Kasus Pembredelan Mingguan Tempo sebagai satu kasus yang paling sadar untuk mengembangkan agenda demokrasi lebih jauh. Bekas wartawan Tempo kemudian menjawabnya dengan mendirikan dua organisasi penting, Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), sebagai bentuk perlawanan dari hegemoni pemerintah yang terjadi pada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan membentuk Istitut Studi Arus Informasi (ISAI).

Meskipun kelima kasus lainnya berhenti dan tidak punya kelanjutan, tapi perlawanan mereka penting dicatat untuk diteladani dan menjadi pengingat penting bahwa masyarakat tidak pernah diam ketika pemerintah berusaha membungkam. Dan tentu saja gerakan-gerakan prodemokrasi ini telah memberikan dorongan moral yang besar bagi gerakan pro-demokrasi yang muncul di kemudian hari.

Penulis: Ali Nur Alizen