Culture Shock Saat Tinggal di Luar Negeri (2)

1425
Dokumentasi Pribadi Isidora Happy

Oleh: Isidora Happy Apsari

Kaget Kehidupan

Pertama, jika kalian pindah ke negara dengan perbedaan jam cukup jauh dari Indonesia adalah kacaunya jam tidur. Selain itu, tinggal di negara empat musim, pergeseran jam siang dan malam sangat terasa, Oleh karena itu, kita harus disiplin dalam mengatur jam tidur dan olahraga. Jika tidak, kita akan bingung saat musim panas, waktu dimana jam 10-11 malam masih seperti jam 5 sore, padahal mungkin kita sudah waktunya tidur. Oleh karena itu, dengan disiplin dalam mengatur jadwal tidur serta berolahraga, kita akan membiasakan diri kita untuk beraktifitas normal dalam musim apapun.

Kedua, kunci utama hidup di luar negeri harus mandiri. Biaya hidup yang tidak murah dibarengi dengan biaya pekerja (labour) yang mahal. Maka tidak heran apabila kita harus melakukan segala sesuatunya sendiri, mulai dari isi bensin sendiri, membereskan meja sendiri setelah makan di restaurant cepat saji, hingga membayar sendiri ketika belanja di supermarket.  Baju anda robek? Silahkan buka youtube anda masing-masing.

Ketiga, salah satu hal favorite saya ketika berada di luar negeri adalah jalan kaki dan naik transportasi umum. Beda negara, beda pula sistem transportasinya. Kita harus terbiasa dengan sistem transportasi dan sistem pembayaran transportasi di negara tempat kita tinggal. Kita juga harus bisa pandai membaca peta digital (google maps, citymapper dll).

Transportasi umum di kebanyakan negara maju tidak bisa diberhentikan sembarangan di depan komplek rumah, ada kalanya kita harus berjalan jauh untuk mencapai tempat pemberhentian transportasi. Jalur masuk dan keluar kendaraan terkadang juga diatur sedemikian rupa serta ada beberapa peraturan lain dalam kendaraan umum. Misalnya di jepang, kita tidak boleh berbicara keras di dalam gerbong kereta. Untuk kalian yang membawa kendaraan, perlu juga diperhatikan mengenai rambu-rambu jalan. Misalnya di London, ada beberapa jalanan yang berbayar. Begitu juga dengan peraturan parkir.

Keempat, masyarakat di negara-negara seperti Inggris dan Australia, terutama mereka yang hidup di kota besar, kebanyakan individualis dan cuek. Jangan bayangkan seperti tinggal di Indonesia dimana kita bisa nongkrong di depan rumah bersama tetangga setiap sore. Mayoritas para tetangga  kurang peduli dengan kehidupan kita.

Meskipun begitu, sama seperti di Indonesia, kita tetap harus menjaga ketertiban dan kenyamanan di lingkungan tempat tinggal. Contohnya adalah meskipun terlihat cuek dan tidak peduli, jangan harap kita tidak bisa bebas membuat acara kumpul-kumpul hingga membuat gaduh, bisa dilaporkan ke polisi lho apabila sampai menganggu tetangga. Meskipun tetangga cuek, namun kita sebagai orang Indonesia wajib memberikan senyum dan sapa agar hubungan dengan tetangga baik.

Kelima, untuk para mahasiswa, Tidak hanya kehidupan, sistem belajar di negara seperti Inggris juga menerapkan sistem belajar mandiri, dimana pelajaran di kelas hanya untuk diskusi, sedangkan teori harus kita pelajari sebelumnya melalui bahan bacaan. Berbeda dengan di Indonesia yang seringkali pelajaran bersifat satu arah: pengajar menerangkan – murid mendengarkan. Saat kuliah, setiap hari saya diberikan bahan bacaan minimal 10, jika tidak membaca akan sulit mengikuti pelajaran di kelas.

Untuk para pekerja, di berbagai negara seperti Inggris dan Australia, pekerja dibayar per jam, sehingga kita harus disiplin karena dituntut untuk memanfaatkan jam kerja secara efektif, sehingga jangan heran jika beban kerja akan dirasa lebih banyak dan kita dituntut untuk kerja cepat. Di negara-negara seperti Inggris dan Australia bekerja menjadi pelayan restaurant, penjaga toko, Pengantar makanan online (seperti UberEats, Deliveroo, DoDo), atau bahkan menjadi petugas kebersihan adalah hal yang biasa, bahkan juga dilakukan oleh anak muda dan para mahasiswa, bahkan dari kalangan menengah ke atas sekalipun.

Seringkali orang Indonesia yang baru pindah ke luar negeri memandang rendah pekerjaan di sektor seperti ini. Padahal, jika di negara seperti Inggris dan Australia, pekerjaan tersebut banyak dinikmati dan sama sekali tidak dipandang rendah.

Selain itu, masih ada beberapa perbedaan lain di negara-negara seperti Inggris dan Australia, misalnya jika anda sakit, anda hanya bisa diarahkan ke Dokter umum, tidak bisa langsung ke dokter spesialis. Jika anda ingin membuang sampah ada peraturan-peraturan yang harus dijalankan, seperti : perbedaan sampah umum, sampah daur ulang, sampah organik, dll. Pengambilan sampah di rumah pun ada jadwal dan peraturannya, sehingga kita harus benar-benar memperhatikan.

Oleh karena itu, ada dua kunci dalam mengatasi kaget kehidupan di luar negeri, yaitu pertama adalah jangan manja dan harus mau hidup sulit. Kedua, pelajari dan banyak-banyak membaca mengenai negara tujuan sangatlah penting. Begitu kita sampai di negara tujuan, yang utama adalah kita membiasakan diri dengan lingkungan tempat tinggal. Pakai satu minggu pertama untuk menghafalkan lingkungan rumah, misalnya mencari dimana tempat berbelanja, dokter umum, pemberhentian transportasi umum terdekat, taman terdekat, kantor pos, bank, dll.

Pelajari juga jadwal-jadwal seperti jadwal membuang sampah serta peraturan lingkungan tempat tinggal kita. Kenalan dengan tetangga juga sangat penting. Untuk pelajar, mulai menyiapkan mental untuk apa yang akan dihadapi ke depan. Untuk pekerja, pelajarari peraturan kantor serta kebijakan kantor seperti kebijakan cuti atau izin sakit, karena setiap kantor bisa jadi akan berbeda.

Kaget Budaya

Kaget budaya hampir mirip dengan kaget kehidupan, namun di bagian ini lebih kepada kaget peraturan atau kebiasaan yang berlaku di negara lain. Salah satu contoh kaget budaya yang paling susah untuk masyarakat Indonesia adalah, meninggalkan budaya ngaret, hehe. Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baru yang asing untuk kita yang berasal dari Indonesia. Mulai dari cara berpakaian, cara menyapa orang, cara berbicara, cara berdiskusi, dll.

Pertama, Budaya makan. Sebagai orang Indonesia, kebiasaan paling umum terkait makanan adalah : harus ada nasi, sambel dan kerupuk. Di negara-negara Eropa dan Australia, kebiasaan makan mereka adalah : tidak makan nasi, tidak makan pedas, dan pastinya tidak makan kerupuk. Lebih jauh lagi, untuk teman-teman muslim, mencari makanan halal di negara yang mayoritas non-muslim adalah sebuah tantangan tersendiri. Namun tenang, jika kita pandai menyikapinya, maka perut Indonesia kita pun akan terpuaskan.

Cara paling mudah : masak sendiri. Selain lebih sesuai selera, masak sendiri juga menjawab kekhawatiran mengenai halal/tidak halalnya makanan, saya selalu berkeyakinan bahwa masak sendiri di rumah selalu lebih aman dibanding jajan. Selain kita tau benar cara masaknya, hati juga lebih nyaman saat makan. Sebelum pindah banyak baca dan bertanya pada forum-forum komunitas Indonesia mengenai dimana letak restaurant Indonesia dan dimana kita bisa membeli bahan-bahan makanan.

Biasanya, setiap negara memiliki toko Asia yang menjual bahan-bahan makanan dari Asia, termasuk dari Indonesia. Sebenarnya ada banyak sekali keuntungan dari mengikuti forum online komunitas Indonesia di luar negeri, karena banyak dari mereka yang berjualan makanan Indonesia.

Cara kedua adalah, bawa makanan dari Indonesia. Ketika saya pindah ke London, isi koper saya adalah : satu kardus indomie, rendang kalengan, abon, dan sambel. Terkait indomie agak unik. Di negara-negara seperti Inggris dan Australia, mereka memiliki peraturan yang ketat terkait jumlah MSG, sehingga indomie di dua negara tersebut tidak se-enak indomie dari Indonesia. Namun, jika kalian membawa makanan ke luar negeri, perlu diperhatikan peraturan negara tujuan. Seperti di Australia misalnya, saya tidak berani membawa makanan seperti daging-dagingan karena peraturan yang ketat.

Terakhir, jangan abaikan undangan makan gratis dari kedutaan. Kalau bisa, tunggu hingga acara benar-benar selesai, siapa tau ada yang bisa dibungkus.

Kaget yang Kedua, adalah budaya disiplin dan tertib. Contohnya ; budaya mengantri, jalan di trotoar, menyebrang di zebra cross serta peraturan dalam menyetir kendaraan. Seluruh kebiasaan ini kita harus pelajari lebih dahulu dan kita harus waspada. Misalnya, tidak semua tempat kita bisa menyebrang sembarangan, dan tidak semua negara maju, orang-orangnya disiplin menyebrang sesuai aturan. Saya berikan contoh : ketika saya di London, saya pikir warga London seperti warga Singapura yang tertib jika menyebrang jalan.

Namun, ketika pada suatu ketika saya sedang hendak menyebrang dan saya tidak terlalu memperhatikan lampu lalu lintas, saya ikut menyebrang ketika orang lain menyebrang. Ternyata, warga London sama bandelnya dengan warga Jakarta yang suka menyebrang sembarangan, karena ternyata lampu untuk pejalan kaki masih merah namun kami sudah menyebrang, dan saya hampir tertabrak mobil karena hal itu. Dari situ saya belajar untuk lebih waspada lagi.

Tentang peraturan menyetir. Hampir di semua negara maju, seluruh rambu-rambu jalan harus ditaati. Bukan hanya lampu merah namun juga tanda stop, tanda batas maksimum kecepatan, tanda beri jalan, dll. Pengalaman saya pribadi, saya dikirimi “surat cinta” berupa surat denda sebesar 2 juta rupiah karena kamera lalu lintas yang merekam mobil saya melaju dengan kecepatan 60 km/jam dimana seharusnya maksimal 50 km/jam. Padahal jalanan di Perth cederung sangat kosong, lurus dan mulus.

Bagi kita orang Indonesia, kita justru sering merasa bosan dan mengantuk dihadapi pada situasi jalanan yang seperti ini. Namun tetap harus dilakukan atau dollar melayang. Dan di Australia dalam peraturan menyetir juga ada sistem point. Semakin banyak point yang didapat dari hasil melangar lalu lintas, bisa menyebabkan SIM kita dicabut.

Ketiga, kebiasaan basa-basi. Mungkin kita di Indonesia terbiasa dengan percakapan terbuka seperti bertanyan mengenai agama, ras, umur dan status pernikahan dll. Namun di beberapa negara, hal tersebut adalah hal yang dianggap tidak sopan, bahkan bisa dianggap rasis. Oleh karena itu kita harus pintar-pintar membaca situasi dan kondisi.

Keempat, kebiasaan dalam sapaan. Jika di Indonesia, kita terbiasa dengan memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan seperti Bapak atau Ibu, Mas, Mbak, Kak, Abang, dll. Namun di negara seperti Australia dan Inggris, biasanya kita cukup memanggil seseorang dengan nama depan saja termasuk kepada yang lebih tua, seperti kepada orang tua teman, bos, bahkan dosen di kampus. Mungkin awalnya kita akan merasa canggung dan merasa tidak sopan. Meskipun begitu, perlu kita tekankan bahwa perbedaan panggilan ini bukan berarti yang satu salah dan yang satu benar.

Tidak memanggil dengan panggilan hormat kepada orang yang ‘dituakan’ di negara seperti Inggris dan Australia bukan berarti kita kurang ajar, dan memanggil dengan panggilan hormat kepada orang yang ‘dituakan’ di Indonesia bukan berarti kita tunduk atau menyembah pada hirarki. Potret ini adalah indahnya dua perbedaan kebiasaan antara dua kebudayaan yang berbeda.

Masih sangat banyak perbedaan budaya lain yang tidak bisa saya jelaskan disini seperti : Budaya memberi tips yang berbeda di setiap negara, budaya tidak ada air di toilet sehingga harus menggunakan tissue dalam keadaan apapun. Hal ini membuat saya selalu sedia botol air mineral untuk dibawa jika membutuhkan. Dan terakhir adalah kebiasaan menggunakan pengering untuk mencuci baju dan menggunakan mesin pencuci piring. Oleh karena itu, apabila di tempat tinggal kalian memiliki alat-alat teknologi yang tidak biasa kalian gunakan di Indonesia, jangan ragu untuk bertanya cara penggunaannya saat kalian pindah.

Dari semua shock yang saya sebutkan di atas, kaget budaya adalah proses adaptasi yang paling melelahkan. Oleh karena itu, memiliki teman dari Indonesia adalah sebuah kunci kesuksesan dalam mengatasi kaget budaya ini. Selain kita bisa merasa memiliki teman senasib, kita juga bisa melepas lelah dari proses adaptasi terus-menerus. Percaya deh, bisa sekedar berbicara bahasa Indonesia dengan orang lain saja rasanya sudah luar biasa.

Semua kekagetan budaya ini bisa diatasi dengan dua hal : Adaptasi secara terus menerus dan Berpikiran Terbuka. Perbedaan budaya bukan untuk dilawan, melainkan untuk dipahami. Berpikiran terbuka bukan berarti harus ikut-ikutan. Berpikiran terbuka berarti memahami adanya perbedaan, namun kita sendiri yang memilah mana yang baik dan cocok untuk diri kita dengan disesuaikan di lingkungan sekitar.

Dengan memahami budaya-budaya lain, kita akan paham bahwa tidak ada budaya yang lebih baik dari budaya yang lainnya. Bersikap antipati terhadap budaya di tempat tinggal baru kita juga tidak baik, karena akan membuat kita eksklusif atau bahkan anti-sosial. Ketika saya tinggal di Inggris, saya melihat ada banyak orang Indonesia yang hanya mau bergaul dengan sesama orang Indonesia hanya karena mereka merasa tidak cocok dengan budaya di Inggris.

Ada satu lagi yang sangat penting : jangan kaget jika kita menemukan kejadian-kejadian rasisme. Rasisme ada di hampir seluruh negara di dunia, hanya berbeda-beda sasaran dan porsinya. Semakin lama kita tinggal di suatu negara, semakin kita paham mengenai rasisme di negara tersebut. Pengalaman pribadi saya ketika saya di Perth, pada suatu hari ketika saya sedang berjalan-jalan dengan teman sesame Indonesia, tiba-tiba ada orang berteriak “Speak English or go back to your country” atau “Berbicara Bahasa Inggris atau kembali ke negara kalian”. Yes, kayak di film-film ya.

Meskipun rasisme adalah hal yang biasa kita temui hampir di seluruh negara di dunia, namun seluruh negara juga mengutuk tindakan tersebut. Jika kalian mengalami tindakan rasis, jangan takut untuk melapor atau melawan dengan cara yang baik. Karena di negara seperti Inggris dan Australia, sikap rasisme adalah salah satu sikap yang bertentangan dengan undang-undang dan bisa diproses secara hukum.

Dalam menghadapi kaget budaya, tugas kita sendiri untuk memilah kebiasaan mana yang baik dan sesuai dengan diri kita. Untuk saya pribadi, ada kepuasan tersendiri ketika saya bisa tetap mempertahankan kebiasaan saya yang saya bawa dari Indonesia di tengah budaya global yang saya hadapi, tanpa kehilangan teman-teman dari budaya berbeda. Disitulah indahnya perbedaan.