Culture Shock Saat Tinggal di Luar Negeri (1)

1839
Dokumentasi Pribadi

Oleh: Isidora Happy Apsari

Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk tinggal di luar negeri, pasti kita akan merasa senang dan bahagia karena akan memulai petualangan baru. Pada awalnya, kita akan merasa bahagia karena banyak hal yang tidak kita temui di rumah, namun lama kelamaan semuanya terasa berbeda dan melelahkan. Tenang saja, hal itu sangatlah wajar karena kita mengalami culture shock, yaitu sebuah pengalaman ketika seseorang pindah ke lingkungan yang benar-benar baru.

Ada culture shock yang positif, dimana kita merasa hidup lebih tenang dan tertib di negara lain. Namun ada culture shock negatif, dimana kita mulai berpikir “mengapa disini begini, mengapa di tempat asal saya tidak begitu”. Pemikiran-pemikiran tersebut dapat mengantar kita menjadi sedih, depresi, atau bahkan membuat menjadi anti sosial karena kita takut ikut terbawa suasana baru yang tidak cocok dengan diri kita.

Salah satu cara untuk mengurangi resiko culture shock adalah dengan persiapan yang matang, seperti banyak membaca mengenai situasi dan kondisi di negara tujuan. Selain itu, selalu berpikiran positive juga sangat membantu diri kita mengatasinya. Dan terakhir, di era globalisasi ini, menggunakan teknologi untuk menghubungkan kita dengan keluarga di rumah juga bisa menjadi obat rindu.

Tulisan ini akan membahas mengenai empat shock atau kekagetan yang biasa kita alami apabila kita pindah ke tempat baru. Memang tidak harus ke luar negeri, pindah ke tempat baru bisa terjadi di dalam negeri atau bahkan antar kota. Namun di dalam tulisan ini, saya akan mengangkat pengalaman saya saat harus berpisah dengan negara Indonesia tercinta untuk mengadu nasib di negeri orang yaitu ke London-Inggris untuk sekolah dan Perth-Australia Barat untuk menetap.

Kaget Cuaca

Biasanya kita tinggal di daerah dengan iklim tropis yang udaranya panas-panas sejuk. Ketika tinggal di Indonesia, panasnya matahari seringkali membuat saya mengeluh. Namun siapa sangka, saat saya pindah ke London tahun 2016, salah satu hal yang paling saya rindukan adalah matahari. Cuaca London yang cenderung mendung, hampir selalu diliputi awan tebal dan hujan, membuat saya benar-benar rindu dengan panasnya Jakarta. Terutama ketika memasuki musim dingin, matahari hanya bersinar dari pukul 7-8 pagi hingga pukul 4-5 sore. Selain itu suhu udara hanya satu digit dan disertai dengan angin dan hujan. Benar-benar sebuah tantangan tersendiri.

Ketika saya pindah ke Perth, saya mengalami kaget cuaca yang lain. Saya pikir, tinggal di negara tropis saya sudah terbiasa merasakan udara panas. Namun, ketika saya di Perth, saya baru sekali merasakan panas yang luar biasa. Musim panas di Perth bisa mencapai lebih dari 40 derajat dengan tingkat kelembaban udara yang sangat rendah. Selain itu, secara geografis, Australia adalah negara gurun sehingga ketika musim panas, angin yang berhembus adalah angin gurun yang membuat tidak nyaman sehingga menambah penderitaan. Malangnya lagi, berhubung biaya listrik yang sangat mahal, sehingga memakai pendingin udara sering-sering bukanlah sebuah solusi.

Perbedaan cuaca ini, apabila tidak kita persiapkan dari sebelumnya, dapat berakibat terganggunya aktivitas kita sehari-hari, bahkan dapat menyebabkan kita jatuh sakit. Contohnya, kurang persiapan pada pergeseran waktu siang dan malam di antara musim dapat menyebabkan kacaunya jam tidur. Selain itu, kekurangan sinar matahari juga dapat menyebabkan depresi dan perubaah mood yang drastis.

Pengalaman saya, sebelum saya pindah ke London, saya sudah persiapkan payung, sepatu tahan air untuk digunakan ketika hujan, baju musim dingin, serta baju tidur yang nyaman untuk udara dingin (seperti heattech atau long john). Saya juga memastikan bahwa tempat tinggal saya memiliki akses ke penghangat udara. Selain itu, saya banyak membaca mengenai bagaimana menghadapi winter depression yang salah satunya disebabkan karena kurangnya matahari. Hal ini membuat saya selalu siap vitamin D di rumah jika suatu saat dibutuhkan. Selain itu saya juga membawa obat alergi karena salah satu tantangan tinggal di negara empat musim adalah alergi serbuk bunga yang biasa terjadi di saat pergantian musim semi atau musim gugur.

Kaget Finansial

Percaya kah kalian kalau saya tulis , uang yang dapat saya tabung saat saya tinggal di luar negeri jauh lebih sedikit daripada uang bisa saya tabung saat bekerja di Jakarta. Yes. Itu sangat bisa terjadi jika kita tidak melakukan persiapan finansial yang matang. Salah satu hal yang sangat menggiurkan ketika mendapatkan beasiswa atau kesempatan bekerja di luar negeri adalah pendapatan yang (terlihat) bombastis.  Namun yang perlu kita tekankan adalah bahwa pendapatan yang besar biasanya diikuti dengan biaya hidup yang tidak murah.

Namun tenang, hal itu dapat disiasati dengan berbagai cara. Pertama, kita harus cukup informasi mengenai biaya hidup di negara tujuan. Berapa kira-kira pemasukan kita dan mulai berhitung pengeluaran dengan menyesuaikan dengan prioritas dan gaya hidup kita. Dalam mengatur finansial, kita tidak hanya memikirkan 1 aspek namun aspek lainnya. Misalnya saat memilih akomodasi, kita juga harus memastikan mengenai biaya listrik dan gas dan juga biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Dari perhitungan tersebut kita dapat mengatur strategi agar pengeluaran dapat sesuai dengan pemasukan. Misalkan, apakah kita mencari teman satu kamar atau kita menghemat biaya transportasi dengan naik sepeda. Tapi jangan lupa, perlu dihitung juga harga sepeda beserta barang-barang pendukungnya seperti helm dan kunci, dan juga faktor keamanan tempat tinggal karena di beberapa tempat seperti di London, pencurian sepeda adalah hal yang biasa terjadi. Diperhatikan juga iklim di negara tersebut, jika kita memilih jalan kaki atau naik sepeda untuk berhemat, apakah kita sanggup menjalaninya saat musim dingin? Jangan sampai niat ingin untung justru malah buntung.

Kedua, untuk kita yang memiliki tanggung jawab finansial di Indonesia, perlu pemahaman mengenai fluktuasi kurs mata uang di negara tujuan dan juga membandingkan situs pengiriman uang antar negara yang paling menguntungkan, seperti transferwise, western union, dll. Biasanya, informasi seperti ini dapat dengan mudah didapatkan di group komunitas Indonesia.

Ketiga, salah satu cara menyiasati masalah finansial adalah dengan menekan pengeluaran. Perlu diingat bahwa godaan setan ada dimana-mana, seperti: barang-barang impor yang biasa di Indonesia mahal, konser pemusik idola, travelling ke negara-negara lain di sekitar, atau dalam kasus saya, pengalaman nonton pertunjukan teater yang tidak mungkin bisa saya dapatkan dengan mudah di Indonesia. Oleh karena itu, kuat iman dalam hal finansial adalah sebuah tantangan tersendiri.

Namun tenang, dalam hal penekanan pengeluaran bisa disiasati. Di beberapa negara seperti di Inggris, terdapat banyak diskon untuk pelajar. Di Australia juga terdapat situs yang menyediakan kode diskon apabila kita belanja online (contohnya : honey.com). Selain itu terdapat dua hari keramat untuk kalian yang hobby belanja, yaitu Black Friday di bulan Oktober atau November dan juga Boxing Day yang jatuh di tanggal 26 Desember. Selain itu masih ada juga diskon musim panas dan diskon akhir tahun.

Selain itu, kita juga bisa iseng-iseng mencari penghasilan tambahan. Di Australia misalnya, berbagai situs yang menyediakan bonus giftcard atau bahkan uang tunai apabila kita melakukan aksi tertentu, seperti mengisi survey berbayar (Toluna, Survey Junkie, Opinion World, dll) men-scan belanjaan mingguan kita (nielsen atau IRI shopping pannel) atau menjadi mistery shopper atau pembeli misterius. Untuk para pelajar, di akhir-akhir tahun ajaran biasanya terdapat banyak tawaran untuk menjadi subyek penelitian dari teman-teman sesama mahasiswa yang sedang membuat tugas akhir, dan biasanya ada bayarannya. Selain itu, untuk kamu yang membeli barang dengan nilai tertentu, jangan lupa bahwa pemegang visa pelajar atau permanent residence memiliki kesempatan untuk menukarkan pajak pembelian saat kita pulang ke Indonesia.

Namun, perlu diingat, dalam menentukan finansial dan gaya hidup, harus disesuaikan dengan diri kita. Jangan mementingkan harga murah namun tidak memikirkan kenyamanan dan prioritas hidup kita. Contohnya, saat saya sekolah di London dengan uang beasiswa, saya memilih akomodasi yang dekat dengan kampus. Akomodasi tersebut berada di zona 1, yaitu zona utama di pusat kota London. Tentu saja akomodasi saya ini memakan biaya yang sangat mahal, Mungkin lebih dari 60% uang beasiswa saya. Namun pertimbangan saya saat itu adalah prioritas saya untuk sekolah. Selain lokasi yang nyaman, akomodasi yang sudah saya pilih sudah memberi saya makan 2 kali sehari yaitu sarapan dan makan malam, ada layanan pembersihan kamar, dan sudah termasuk listrik – air.

Karena prioritas saya saat itu adalah sekolah, memilih akomodasi ‘mahal’ sebenarnya sangat menguntungkan untuk saya. Pertama, karena lokasi dekat, saya tidak harus takut terlambat masuk kelas. Kedua, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi karena saya bisa jalan untuk ke kampus. Ditambah lagi, karena lokasinya yang di tengah kota London, saya bisa berjalan kaki hampir ke semua tempat yang sering didatangi. Ketiga, saya tidak perlu lagi memikirkan makan, dan tidak perlu mengeluarkan uang dan tenaga untuk pergi berbelanja, memasak dan mencuci piring. Apalagi, saya adalah tipe orang yang kalau sudah sibuk sering kali lupa makan. Saya mengantisipasi mahalnya akomodasi saya ini dengan menyesuaikan gaya hidup. Saya hanya memiliki paket internet paling murah, karena saya selalu memanfaatkan wifi di kampus dan di rumah. Saya juga jarang sekali berbelanja meskipun sedang diskon.

Bersambung…