Adaptasi Digital Santri Saat Pandemi

334
Adaptasi Santri Literasi Digital

Dengan segala keterbatasan akibat pandemi, peran internet menjadi semakin penting dan
meluas sehingga terjadi migrasi besar-besaran penduduk dunia. Inilah pergeseran global yang akan membuka banyak peluang pasar dunia, termasuk dakwah di dalamnya.

Untuk itu, santri yang merupakan agen dakwah islam moderat dirasa perlu membekali diri sebelum melakukan perjalanan panjang yang tak melelahkan.

Kemampuan Adaptasi Saat Pandemi

Santri dituntut untuk siap menghadapi tantangan apapun didalamnya, termasuk kemampuan beradaptasi saat teknologi digital menjadi salah satu alternatif untuk melakukan aktualisasi diri di tengah pandemi.

MataAir Foundation melihat peluang dalam rangka mengisi semangat adaptasi tersebut,
melalui forum halaqah literasi digital, upaya memperkuat pemberdayaan santri dalam
memanfaatkan media sosial menjadi solusi untuk mengatasi kejenuhan pola hidup imbas segala keterbatasan, forum seperti ini layak diupayakan khususnya untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi berbasis teknologi digital.

Adaptasi Santri Digital

Menggandeng mitra strategis, MataAir melihat pandemi tak hanya sebuah momok yang
menakutkan, melainkan juga kesempatan sekaligus keterpaksaan kita semua untuk sejenak menelisik dunia digital lebih dalam.

Mengemban misi literasi, berbagai ikhtiar agar santri dan pelajar beradaptasi dan tidak gagap dengan dunia digital dirasa perlu dilakukan.

Fenomena yang terjadi ialah banyak pelajar dan santri yang telah memanfaatkan media sosial, namun tak sedikit pula yang justru jadi korban karena pemahaman literasi digital yang kurang memadai.

Teknologi Digital di antara Dua Persimpangan

Teknologi digital yang kian dinamis, terkadang membuat kehidupan semakin dilematis. Bak dua belah mata pisau, bila digunakan untuk kebaikan bisa menghasilkan racikan masakan yang ciamik, namun bisa jadi alat untuk melukai siapapun apabila tidak digunakan secara tepat.

Adaptasi Santri Digital

Santri dituntut untuk melakukan aktualisasi diri untuk tetap siap beradaptasi walau di situasi pandemi. Melalui Halaqah ini, MataAir berharap lahirnya talenta muda kreatif yang mampu menjadi kreator konten digital dengan menggunakan berbagai platform media sosial sebagai sarana melakukan kreatifitas virtual.

Sebagaimana dalam permainan catur, setiap bidaknya memiliki peran masing-masing. Bahkan yang perannya terlihat paling kecil sekalipun dapat mengakuisisi posisi strategis sejauh ia punya hasrat untuk terus maju melintasi garis lawan yang penuh risiko.

Artinya, santri mesti paham peluang dan tidak alergi dengan berbagai hal di atas normal
khususnya dalam memahami literasi digital. Sudah saatnya santri mengambil ruang publik
untuk mengambil bagian dari klaster religious-tolerance sebagai bentuk realisasi perwujudan moderasi beragama.

Tak lagi terlena dengan nostalgia masa lalu dimana santri diakui sebagai bagian dari catatan sejarah perjuangan kemerdekaan, semangat mengisi kemerdekaan harus tetap berjalan.

Dimulai dari fondasi literasi, semangat kemerdekaan kreatifitas harus senantiasa melekat di benak santri untuk tetap meleseat berinovasi walau dengan kondisi yang serba terbatas.

Saatnya bergandeng tangan dan Mari, Bung, rebut kembali!

Penulis: Wachid Ervanto