4 Alasan Mengapa Memilih Belajar di Belanda

750
Dokumentasi Pribadi
Ilustrasi/Dokumentasi Pribadi

Oleh:Dito Alif Pratama 

(Alumni Vrije Universiteit, Amsterdam & Nuffic Neso Indonesia)

 “Tak Kenal Maka Tak Sayang”.

Saya mulai tulisan ini dengan ungkapan sederhana yang menyirat banyak makna seperti ungkapan diatas. Tak Kenal Maka Tak Sayang. Oleh Sebagian orang, ungkapan ini identik dengan hal-hal yang berbau percintaan, lebih dari itu, saya melihat, pepatah ini juga berlaku di banyak aspek kehidupan, termasuk urusan pendidikan.

Secara singkat, adagium ini hendak menegaskan bahwa rasa cinta dan sayang akan muncul manakala kita saling kenal. Mana mungkin akan timbul rasa cinta dan sayang yang sesungguhnya manakala kita tidak kenal secara utuh objek/pasangan kita. Oleh Adam Taggart, dalam catatanya ‘The impotrance of knowing’ dikatakn, without insight, action is useless (tanpa pengetahuan (kenal), usaha akan menjadi sia-sia).

Pesan ini tentunya juga akan sangat relevan untuk yang kita yang saat ini masih digalaukan seputar urusan per-scholarship-an (baca:beasiswa), khususnya dalam hal menentukan kampus dan negara destinasi belajar kedepanya.

Memilih kampus dan negara untuk studi lanjut kita (pendidikan tinggi) pun bukanlah perkara yang mudah. Butuh banyak istkharahah, minta pendapat orang tua, guru, teman, juga tidak sedikit yang bertanya ke ‘mbah google’. Setidaknya hal itu yang juga pernah saya rasakan sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan meneruskan studi master saya di Belanda.

Setelah melewati proses panjang Istikharah, dilanjut dengan tanya pendapat orang tua, kiai, guru, teman, saya pun ‘berikhtiar’ dengan bertanya kepada ‘mbah google’ perihal negara mana yang kira-kira ‘tepat’ yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan saya. Website Nuffic Neso Indonesia, salah satu diantara yang banyak memberikan wawasan baru tentang pilihan studi lanjut saya di luar negeri. Sampai akhirnya, saya memantapkan hati dan memilih negera Belanda sebagai pilihan.

Sebagai tulisan pembuka dari rangkaian series #Ayo Belajar ke Belanda, saya ingin menyimpulkan 4 alasan penting (Yang juga saya rangkum dari Website Nuffic Neso Indonesia) mengapa negeri kincir angin, Belanda masih menjadi negara destinasi favorit para pelajar Internasional, termasuk pelajar Indonesia. Berikut catatan singkatnya:

1.Bahasa Inggris Sebagai bahasa pengantar kelas Internasional

Bahasa pengantar yang digunakan di banyak kelas-kelas internasional di kampus Belanda, pada umumnya, adalah bahasa Inggris. Oleh pemerintah Belanda, pelajar internasional tidak diwajibkan untuk menguasai bahasa Belanda untuk mengikuti perkuliahan, cukup dengan menguasai bahasa inggris. Sampai saat ini tercatat ada sedikitnya 2100 program studi di universitas Belanda yang menyediakan program dalam bahasa Inggris.

Lebih jauh lagi, EF English proficiency index (2019) juga menobatkan Belanda sebagai ‘the best non-native English speakers in the world. Hal Inipun juga ditegaskan oleh Nuffic Neso Indonesia yang merilis bahwa 95 % masyarakat Belanda bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi para pelajar internasional di Belanda. Karena tidak hanya dalam forum akademik tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, segala sesuatunya bisa dikomunikasikan dengan baik dalam bahaa inggris. Sehingga, para pelajar yang hendak belajar ke Belanda pun tidak perlu takut dengan ‘language barrier’ manakala sudah cukup memenuhi standar kompetensi bahasa inggris sejak awal.

Meski demikian, belajar bahasa belanda sebelum berangkat ke Belanda bukanlah hal yang salah. Mempelajari bahasa Belanda tingkat dasar juga akan menjadi nilai plus untuk mengenali budaya Belanda, walau bagi pelajar disana tidak ‘wajib hukumnya’

2.Kualitas pendidikan yang baik

Kualitas pendidikan tinggi di Belanda juga diakui dan dicap sebagai salah yang terbaik di dunia. Berdasarkan QS World rangkings, Belanda memiliki sekitar 200 kampus yang masuk dalam pemeringkatan universitas kelas dunia. Bahkan, 13 di antaranya masuk dalam 50 terbaik dunia.

Hal ini tentunya tidak terlepas dari sistem dan pola pendidikan di Belanda yang bersifat aktif dan interaktif yang berpusat pada pelajarnya. Bukan lecturer-sentris, tetapi student-sentris. Singkatnya, sistem pendidikan tinggi di Belanda lebih difokuskan kepada usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah secara praktis dan berpikir kreatif.

Saat memilih program specialization Peace, Trauma, and Religion di kampus Vrije Universiteit Amsterdam saya pun sempat mengecek rangking program tesebut di QS World Rankings. Di tahun 2016-2017, program studi yang saya minati di kampus ini masuk dalam rangking 5 terbaik di dunia. Ini juga yang memantapkan pilihan untuk studi lanjut di Belanda.

3.Peluang karir setelah studi

Belanda ‘menjanjikan’ karir yang cukup baik bagi pelajarnya, baik saat maupun sesudah studi. Saat masih belajar, pemerintah Belanda mengizinkan pelajar internasional untuk bekerja part-time / internship, juga menyediakan program visa zoekjaar (mencari kerja di Belanda) selama satu tahun setelah selesai studi. Kesempatan ini banyak dimanfaatkan pelajar Indonesia untuk bekerja di Belanda beberapa waktu, menambah pengalaman, sebelum kembali ke Indonesia.

Di tanah air, alumni Belanda saat inipun, tersebar di banyak sektor penting kehidupan. Ada yang aktif di pemerintahan, menjadi Menteri-wakil menteri, ada yang menggeluti dunia industri, pertanian, hukum, pengelolaan air seni, logistik, energi, ada juga yang memilih menjadi pengusaha maupun dosen/tenaga pengajar.

Pengalaman belajar di Belanda tidak hanya akan menjadi modal penting dalam segi keilmuan dan pengalaman, tetapi juga kepercayaan diri untuk mewujudkan peluang karir idaman di masa depan.

4.Keamanan dan kenyamanan untuk belajar

Selain kualitas pendidikan, faktor keamanan dan kenyamanan untuk belajar juga perlu dijadikan pertimbangan. Dan, Belanda adalah negara yang nyaman dan aman untuk belajar. Ini yang juga saya rasakan.

Menurut data Global peace index (2018), Belanda adalah salah satu negara teraman di dunia dan termasuk dalam kategori 10 besar negara yang paling bahagia di dunia. Ada catatan aman dan Bahagia disini. Kedua komponen ini sangatlah penting dan saling berkaitan satu sama lain.  Karena biasanya, aman tidaknya suatu negara akan juga bergantung pada tingkat ‘kebahagiaan’ masyarakatnya.

Selain itu, negara Belanda adalah negara multi-etnis dan multikultural. Negara ini dihuni oleh sedikitnya 200 kewarganegaraan. Dengan kayanya ragam budaya dan penduduknya, kita sekaligus bisa belajar banyak untuk menumbuhkan nilai- nilai tasamuh (toleransi), dengan memperbanyak dialog dan diskusi untuk belajar menerima sesuatu/pendapat yang tampak berbeda dan tidak ‘sejalan’ dengan apa yang kita harapkan.