4 Alasan Belajar Agama Harus dengan Guru Pembimbing

481
Photo by Adli Wahid on Unsplash
Photo by Adli Wahid on Unsplash

Oleh: Moh Afif Sholeh
(Guru Bahasa Arab di SMA Islam Cikal Harapan BSD)

lmu pengetahuan yang kita peroleh setiap saat, lewat membaca, mendengarkan pengajian di masjid, musala, atau di bangku sekolah mapupun kuliah, merupakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia.

Seorang Ulama dari Banten yang bernama Abuya Dimyati dalam salah satu karyanya, Rasnu al-Qosri fi Khosoisi Khizbi al-Bahri menjelaskan bahwa rizki ada dua kategori. Pertama, rizki lahir, berupa kesehatan, dan kekuatan sehingga mampu beraktifitas dalam sehari-hari. Kedua, rizki batin, yang berupa ilmu pengetahuan sebagai penguat rohani kita agar kuat menghadapi apapun.

Dalam urusan ilmu, ada beberapa klasifikasi seseorang yang ngaji atau sedang belajar dengan seorang guru, setidaknya ada empat kategori:

Pertama. Orang yang belajar dengan guru tanpa membaca suatu kitab apapun,dia belajar hanya untuk tujuan tabarruk (mengambil berkah) nya saja. Pertanyaannya adalah, seberapa penting belajar hanya untuk tabbaruk?

Jawabannya seperti yang telah dilakukan Abdullah bin Abbas yang didoakan khusus oleh Nabi Muhammad SAW, karena beliau menyiapkan air wudlu untuknya, seperti keterangan yang ada di kitab Shohih al-Bukhori.

Kedua. Orang yang bertabarruk (mengambil berkah) disertai membaca sebuah kitab tanpa dikupas maknanya, tak dijelaskan secara mendetail.

Ketiga. Orang yang belajar dari guru dengan membaca sebuah kitab disetai penjelasan artinya, serta lengkap penjelasannya.

Keempat. Orang yang belajar dengan seorang guru, dengan menjelaskan arti kitab yang dikaji, dikupas secara mendetail, serta dibimbing secara ruhani oleh sang guru, agar menjadi orang yang berakhlak yang mulia, serta mencerminkan cahaya ilmu yang ia kaji. Kategori yang keempat ini sangat sedikit sekali terutama di zaman saat ini.

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari mengutip perkataan Umar bin Khattab:

ﺗﻔﻘﻬﻮا ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﺴﻮﺩﻭا

Artinya: Belajarlah dengan sungguh-sungguh sebelum kamu menjadi seorang pemimpin.
Hal senada juga disampaikan oleh Imam Syafi’i:

ﺗﻔﻘﻪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﺮﺃﺱ ﻓﺈﺫا ﺭﺃﺳﺖ ﻓﻼ ﺳﺒﻴﻞ ﺇﻟﻰ اﻟﺘﻔﻘﻪ.

Artinya: Belajarlah sebelum menjadi seorang pemimpin, jika kamu telah menjadi seorang pemimpin maka tak ada waktu lagi untuk belajar.

Maka dari itu belajar sangat penting bagi kehidupan. Untuk mendapatkannya harus mengikuti tips yang telah dipaparkan diatas.

Di zaman yang serba canggih ini, untuk mengakses data, baik yang berkaitan dengan hukum sebuah permasalahan atau problematika kehidupan harus hati-hati. Tidak sekedar mendengar ceramah dari youtube, atau membaca sebuah artikel, sudah berani mengeluarkan sebuah fatwa hukum, atau sudah merasa paling menguasai segala-galanya. Hal ini bertujuan  agar terhindar dari pemahaman yang dangkal atau pun pemahaman yang setengah-setengah. Maka diperlukan belajar langsung, walaupun secara online dengan seorang guru yang akan mengarahkan ke jalan kebenaran, serta menambah keberkahan ilmunya, semakin berkembang, dan banyak manfaatnya.