1000 Sembako untuk Pekerja Harian,Termasuk Guru Ngaji.

575

Oleh: Masmuhah Ocha
(Bisnis Development Alif Iqra)

Tidak ada yang menyangka akhir bulan Maret, kebijakan Presiden Jokowi agar melaksanakan sekolah dari rumah, bekerja dari rumah, berkegiatan dari rumah, dalam rangka mengurangi penyebaran COVID-19 berdampak lebih panjang dari yang dibayangkan. Ratusan pekerja honorer harus diberhentikan, kegiatan jual beli dipasar lumpuh perlahan, ribuan ojek online sepi notifikasi, serta banyak perantau kehilangan mata pencaharian. Di level atas, para pebisnis dan pemilik modal juga tak kalah pusing mempertahankan produksi dan operasional. Tak hanya kondisi ekonomi yang terguncang, sektor pendidikan, wisata, serta pembangunan banyak yang tidak siap menghadapi kelumpuhan ini.

Pemerintah daerah dan pusat terlihat berlomba mencari solusi paling bijak untuk dijalankan, dari mulai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan, penutupan arus transportasi bandara, terminal serta stasiun, larangan mudik, ribuan sembako dari pemerintah daerah, pusat, hingga kartu prakerja yang diluncurkan. Upaya ini tidak lah cukup, sehingga muncul inisiatif penggalangan dana dari berbagai pihak swasta, Artis, Perusahaan, Lembaga Keagamaan, NGO, dll.

Alif Iqra, salah satu institusi swasta yang fokus di bidang pendidikan keagamaan juga ikut berpartisipasi menggalang dana untuk para pekerja harian terdampak COVID. Tidak disangka-sangka, dalam 10 hari donasi terkumpul lebih dari 85 juta rupiah dari para orang tua, guru, perusahaan serta masyarakat. Angka ini dinilai cukup tinggi untuk diraih dalam hitungan hari. Ini artinya, solidaritas kita juga cukup tinggi untuk berbagi di masa wabah ini.

Setelah donasi terkumpul, donasi tersebut didistribusikan oleh relawan termasuk guru-guru Alif Iqra yang tersebar di lebih dari 20 kota: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Cirebon, Tegal, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Jember, Malang, Aceh, Medan, Pekanbaru, Lampung, Pontianak dan Makassar. Responnya luar biasa, ada yang merasa terharu karena sempat mengantri jatah sembako ke RT namun tidak kebagian.

Tentu selama proses pembagian sembako, banyak cerita yang didapatkan. Cerita tentang bagaimana kita harus tetap bersyukur ditengah ujian melanda.  Tentunya, banyak hikmah yang bisa diambil. Ditengah kesulitan ekonomi disektor bawah, setiap orang yang kami jumpai selalu menawarkan sabar dan syukur. Rasanya, gerakan solidaritas ini semakin menghangatkan kita dengan sekitar. Para volunteer yang turut dalam program ini merasa gembira dan puas. Saling berbagi itu nikmat.

Dari fenomena ini, rasanya kita harus optimis untuk bertahan bersama-sama. Selain sektor menengah kebawah yang menjadi pusat perhatian pembagian bantuan, semangat dan dukungan juga sangat dibutuhkan kepada para pekerja medis dan petugas keamanan. Para medis merawat yang sakit, petugas keamanan menjaga yang sehat agar tidak bepergian. Posko-posko yang didirikan disetiap kabupaten dan kota, kerja lembur para perawat dan dokter di rumah sakit kecil hingga besar, merupakan garda terdepan perjuangan ini yang harus diberi dukungan.